
Nampaknya doa Yudha untuk tidak bertemu lagi dengan Weni tidak semudah itu di kabulkan oleh Tuhan, bagaimana tidak karena ia yang doyan berdebat dengan Weni malah membuatnya melupakan tujuan sebenarnya bertemu dengan wanita yang dianggapnya ceroboh tersebut.
"Sial, pake lupa lagi" umpat Yudha, kini ia harus memutar balik mobilnya untuk kembali ke Butik Angel's W untuk menemui Weni lagi.
Jason kembali kerumahnya, masih ada yang harus ia urus setelah menghadapi tuan Fred.
"Kau sudah membawanya ?"
"Sudah Bos"
Ia menuju kamarnya, dilihatnya sang istri sedang menangis terisak di ranjang, Shirleen tidak bisa kemana-mana, kamarnya dijaga dengan ketat oleh orang suruhan Jason.
"Jahat, kenapa kau lakukan ini padaku..." teriak Shirleen, ia benci keadaan ini saat ia begitu mencintai sekaligus dengan kecewanya.
Jason diam saja, ia tidak bergeming, ia sakit melihat Shirleen menangis.
"Kau bawa kemana Tuan Fred dan anak-anakku" lantang Shirleen, sejak dari semalam ia sudah berpisah dengan Misca dan Jacob dan juga Ipah, ia tidak tau kemana Jason akan membawa anak-anaknya.
"Aku tidak suka kalian permainkan seperti ini, kalau ada masalah bicarakan berdua jangan melibatkan orang lain" sahut Jason.
"Tuan Fred tidak salah, aku juga menyetujui rencananya, aku juga salah"
"Yah kau benar, kau juga salah, lalu siapa yang benar, apa aku benar dalam hal ini, bukannya kau menghindariku karena aku ini salah"
"Aku sudah tau kebusukanmu, kau bajingan, kau brengsek" umpat Shirleen.
"Kau tau By, aku paling tidak suka melihat air matamu jatuh" ucap Jason.
"Dan kau selalu membuat air mataku jatuh" sahut Shirleen.
"Aku tidak suka kau jauh dariku"
"Kau bahkan membuatku semakin menjauh, bukan hanya aku tapi hubungan kita juga" sahut Shirleen lagi.
"By..."
"Jason, dimana anak-anakku ?" geram Shirleen.
"Mereka, mereka di tempat yang aman"
"Kau gila, aku... Aku tidak tau lagi cara menghadapimu, kau bahkan sudah berjanji tapi masih mengingkari" lagi dan lagi sayangnya Shirleen hanya bisa menangis.
__ADS_1
"By, aku minta maaf" sesal Jason.
"Apa kau pikir aku akan memaafkanmu ?" tatap sinis Shirleen.
Keduanya saling diam, Shirleen masih dengan pemikirannya yang terus saja tertuju pada anak-anaknya, sementara Jason ia terus memikirkan bagaimana meyakinkan istrinya kalau dirinya memang akan berubah.
"Jauh darimu sungguh menyiksa By, jangan lakukan itu lagi" ucap Jason setelah sekian lama mereka terdiam.
Jason mulai mendekati istrinya, mencoba membelai lembut pipi yang beberapa hari ini hilang dari penglihatannya.
"Aku tidak tau Jason, tapi ku harap kau bisa menyadari bahwa aku ini hanya manusia biasa, yang bisa saja habis kesabaran jika dihadapkan denganmu yang selalu seperti itu"
"By, aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu, baru aku bisa benar-benar berhenti, ku mohon kali ini percaya padaku, setelah semuanya selesai aku akan benar-benar meninggalkan dunia hitamku" ucap Jason, ia memegang erat kedua tangan istrinya, dengan harapan semoga Shirleen bisa luluh lagi dengan bajingan yang sedang mencoba insyaf sepertinya.
"Aku bukan orang yang bisa percaya begitu saja setelah dengan jelas di kecewakan, dibohongi, kau jelas membohongiku seperti anak kecil yang tidak akan tau apapun"
"Satu kali kesempatan, aku janji !"
"Aku tidak bisa berjanji, sepertinya itu sangat berat untuk kita, apa lagi untukmu yang tidak bisa dipercaya, kalau kau memang bisa berubah buktikan saja tidak usah pakai janji janji segala"
"Baiklah"
Sementara di sebuah taman, seseorang sedang memikirkan bagaimana nasib pernikahannya.
Semenjak memutuskan menikahi wanita itu, walaupun karena di paksa bukankah Sri sudah sah sebagai istrinya.
Tanggung jawab orang tua Sri sudah berpindah padanya mulai hari itu. Lalu bagaimana bisa ia tidak menerima pernikahan ini.
Tidak memberikan Sri nafkah, baik lahir maupun batin saja sudah sangat membuatnya berdosa, membiarkan istri dalam kesedihan dan kesusahan, itu sama sekali bukan ajaran dalam agamanya tentang suatu pernikahan.
Ia rasanya sulit untuk menerima Sri, namun bukankah benar Sri adalah istrinya dan ia wajib membahagiakan wanita yang telah halal baginya itu.
Yah manusia adalah tempatnya salah dan dosa, karena benci ia bahkan melupakan bahwa ia harus bertanggung jawab sebagai seorang yang bernama suami.
"Apa gue udah keterlaluan" gumamnya.
Ia merebahkan kepalanya di kursi taman, melihat dua ekor burung berpasangan yang sedang berbagi makanan, sesederhana itu dan rasanya sungguh penuh cinta.
Ia jadi ingat Sri istrinya, bahkan ia tidak pernah makan semeja dengan Sri, ia selalu menghindari kontak fisik dengan wanita halalnya itu.
"Bener kayaknya gue emang keterlaluan" gumamnya lagi.
__ADS_1
Ia memutuskan untuk pulang kerumah dan berencana meminta maaf pada istrinya, ia akan mencoba menerima pernikahan ini meski belum mencintai.
Benar kata Sri, meski tidak cinta tapi tidak ada salahnya mencoba toh mereka sudah halal.
Saat ia ingin melangkahkan kakinya keluar Taman, ia melihat sebuah jepitan rambut yang menurutnya cantik, tanpa sadar ia mendekati pedagang yang menjajakan berbagai accessories tersebut.
"Berapa bang ?" mulutnya sudah merespon lebih cepat dari otaknya, otaknya baru saja memikirkan apakah cocok jika jepitan rambut tersebut di kenakan Sri, namun mulutnya malah sudah menanyakan harga.
"Sepuluh ribuan aja, murah meriah"
"Satu deh bang yang ini" pinta Dareen.
Dareen menunjuk sebuah jepitan rambut dengan aksen pita kecil berwarna merah, ia ingat Sri sering memakai jepitan rambut seperti itu untuk menahan poninya jika sedang di kamar berdua dengannya.
"Ini" ucap Dareen sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah, kemudian berlalu pergi.
"Kembaliannya dik" tahan pedangang tersebut.
"Buat abang aja" ucap Dareen.
"Alhamdulillah, semoga cepet nikah sama pacarnya ya dik, pasti buat pacarnya kan itu jepitan" ucap syukur si pedagang.
Dareen hanya menanggapinya dengan senyuman, doa si pedagang sepertinya kurang tepat untuknya.
Ia kemudian bergegas ke parkiran dan mulai melajukan motor maticnya untuk pulang.
Wajah Sri yang selalu berusaha tersenyum meski ia sering membentaknya, bagai kaset kusut yang selalu terputar ulang. Ada sesak di dadanya, ada selal di hatinya.
Sri yang selalu ingin bermanja dan selalu mencari perhatiannya, namun ia tetap abai dan seolah membentengi hati untuk tidak akan pernah jatuh cinta pada sang istri, heh prinsip macam apa itu, dasar sesat batinnya menyesali.
Tidak seharusnya ia berlaku demikian, istri ataupun suami adalah titipan yang sudah seharusnya dijaga sebaik-baiknya.
Malu dengan lebel anak ustadz yang sering orang komplek bilang mengenai dirinya. Di beri cobaan menikahi janda saja sudah marah dan tidak terima, padahal apapun statusnya Sri tetap istrinya yang sudah seharusnya ia terima dengan senang hati dan sudah sepatutnya selalu dihargai.
"Ah Sri..."
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!