
Sesampainya di rumah Shirleen langsung membersihkan dirinya dan Jacob, ia segera memasak makan malam untuk sang suami karena mungkin sebentar lagi suaminya itu pasti pulang kerja.
Ia rencananya akan memasak soto bening daging, bakwan jagung ditambah kerupuk biar lebih mantap untuk menu makan malam mereka.
Ipah sudah berada di dapur sedari tadi, sudah membantunya menyiapkan bahan makanan yang di butuhkan, sementara Misca menemani adiknya di kamar.
Benar saja, setengah jalan ia berkutat di dapur Jason sudah menghampirinya dengan senyum termanis.
"Masak apa ini, wangi banget" tanya Jason antusias.
"Emmm cuma masak soto aja, udah kamu bersih-bersih dulu By, nanti bawa Jacob sama Misca juga ke sini tadi sih si bayi lagi tidur abis mandi" ucap Shirleen saat Jason hendak memeluknya.
"Cup" Jason mengecup singkat bibir istrinya. kemudian ia berlalu ke kamar.
Wajah Shirleen memerah, Jason seakan tidak perduli akan adanya Ipah di dekat mereka, dilihatnya Ipah yang entah sepertinya pura-pura tidak tau dan tidak melihat malah tetap fokus pada pekerjaannya.
Dasar Jason...
Setelah semuanya selesai, ia dan Ipah menata semua masakan di atas meja makan, Jason juga sudah datang bersama Jacob dan Misca, mereka akan makan bersama.
Jacob di letakkan di bouncer dekat dengan kursi Shirleen, mereka memulai makan malam dengan khidmat.
Setelah selesai, Shirleen dan Ipah membereskan peralatan yang kotor, dan saat Ipah hendak berkemas pulang tiba-tiba Jason memanggilnya.
"Ipah... Ikut ke ruangan saya sebentar" perintah Jason.
Ipah merinding, entah apa kesalahannya sehingga ia harus di panggil ke ruangan Tuan Muda yang sampai kini masih dianggapnya menyeramkan itu.
Ia menoleh ke arah Shirleen untuk meminta pendapat, terang saja Shirleen mengangguk, lagipun ia juga tidak mengetahui alasan suaminya memanggil Ipah.
"Kau tau alasannya kenapa kau di panggil ke sini" tanya Jason saat Ipah sudah berada di ruangannya.
"Tidak Tuan Muda" jawab Ipah, kentara sekali gugupnya, semenjak bekerja dengan keluarga Adrian lalu di ambil alih oleh Jason, ini adalah kali keduanya ia berhadapan satu lawan satu dengan tuan Mudanya setelah yang pertama saat Jason tiba-tiba datang ke tempat persembunyiannya dengan Shirleen di daerah pelosok waktu itu, biasanya kalau berbicara dengan Jason pasti selalu ada Shirleen di dekatnya.
Namun kali ini seakan tidak ada yang bisa menolongnya, tenggorokannya terasa tercekat, situasi yang sangat menegangkan, ruangan yang sangat aesthetic tersebut seketika berubah menjadi horor dalam penglihatan Ipah.
"Ini kunci mobil, ambillah" ucap Jason tiba-tiba, dan berhasil membuat Ipah mendongakkan wajahnya refleks, apa-apaan ia sudah seakan mau mati karena panas dingin, malah apa maksudnya kunci mobil.
"Ma maaksud Tuan Muda ?" tanya Ipah memastikan, ia tidak bisa memikirkan apapun dulu hanya karena di suguhkan kunci mobil.
Apa aku di suruh merangkap jadi supir juga ?
__ADS_1
"Ini hadiah untukmu, terima kasih sudah menjaga istri dan anak-anak saya, sudah menjaga rahasia kami, kau ternyata bisa diandalkan maka hadiah kecil ini saya kira cocok untukmu" ucap Jason kemudian.
"Hadiah ???" Ipah belum sadar sepenuhnya, otaknya sulit mencerna dengan benar apapun yang terjadi saat ini.
"Iya, jadi kau tidak perlu naik ojol atau taxi lagi kalau berangkat kerja kesini dan pulangnya, itu akan memudahkanmu kan"
Tuan Muda, apa ini benar dirimu, dulu saat pertama kali aku bekerja di rumah orang tuamu bahkan aku seakan tidak berani bernafas jika berada di beberapa meter darimu.
"Kenapa, kau tidak suka, atau mau saya ganti dengan yang lain, katakan kau mau apa sebagai penghargaan atas kerjamu ?"
"Aahh tidak tidak Tuan Muda, terima kasih penghargaannya, saya akan bekerja lebih giat lagi, saya akan selalu semangat dan berjanji tidak akan pernah lalai dalam menjaga nona Shirleen dan anak-anak, semangatttt" teriak Ipah lantang. Padahal ia sedang mengumpulkan kesadarannya saat ini.
Jason melongo, apa iya harus dengan proklamir yang sebegitunya.
"Ah Tuan Muda, maaf saya terlalu terharu mendapatkan hadiah dari Tuan Muda" ucap Ipah setelah menyadari tindakannya.
"Ya sudah, kamu boleh pergi, ambil ini"
Ipah pun pergi meninggalkan ruangan kerja Tuan Mudanya, ia menatap bingung dengan apa yang tengah ia pegang, mobil seperti apa yang akan ia dapatkan atas kerja kerasnya.
Tubuhnya menegang, sebuah mobil mewah Honda Civic type R telah ia dapatkan secara cuma-cuma, di gaji dengan fantastis setiap bulannya saja sudah membuatnya melayang walau hanya menjadi maid yang kerjaannya hanya mengasuh Misca dan sesekali Jacob, apa lagi di berikan hadiah semacam ini, sungguh hanya statusnya saja yang pelayan.
Ia menatap tidak percaya, dilihatnya ke belakang, tidak ada tuan mudanya, tidak ada nona Shirleennya, tidak ada siapa-siapa, dia berlari memeluk hadiah yang sempat dikatakan kecil oleh majikannya tadi.
Shirleen dan Jason sedang berada di ruang keluarga mereka bersama Misca dan Jacob, Misca sedang menonton kartun kesukaannya, sementara Jacob sedang anteng mengasi.
"By, kamu ngapain panggil Ipah tadi ?" tanya Shirleen kepo.
"Gak ada, cuma ngasih dia hadiah, ngucapin terima kasih udah jagain kamu sama anak-anak" jelas Jason.
"Hadiah ? Apaan ?"
"Adalah, mau tau banget" ucap Jason sambil menarik hidung bangir Shirleen.
"Iihh sakit tau, papa nakal banget dek, tuh liat si bayi aja sampe lepas asinya"
"Ah iya By, kamu kenapa kok transfer uang banyak banget ke rekening aku ?" tanya Shirleen lagi, dari tadi memang ia sudah mau menanyakan itu, tapi saat Ipah di panggil tadi ia lebih penasaran kenapa dengan Ipah.
Ia takut terjadi sesuatu dengan maidnya itu, syukurlah jika tidak terjadi apa-apa.
"Iya buat kamu, itukan emang jatah kamu tiap bulannya, nafkah dari aku"
__ADS_1
"By udah cukup yaaa, itu black card yang kamu kasih juga sampe Misca gede juga cukup kali, ngapain lagi ngasih banyak-banyak" keluh Shirleen, ia yang selalu di manjakan dengan uang saat bersama Jason, malah takut menjadi lupa diri nantinya.
"Ya itu aku kasih buat kamu, terserah kamu mau buat apa ?" jawab Jason santai.
"Berasa istri sultan tau nggak pas aku liat saldonya tadi" ucap Shirleen lagi.
"Ya emang sultan kali akunya"
"Iya juga sih, By kalau buat bangun Masjid gak papa ?" tanya Shirleen, ia antusias sekali saat ini.
"Ya gak papa, bangun ajah, emang kamu udah ada rencana mau bangun dimana ?"
"Itu loh, tempat Pak Anca yang deket kebun teh kamu itu kan lahannya kosong, nah bangun di situ aja, itu kan lahannya punya Mbak Sekar anaknya almarhum, nanti aku tanyain sama Mbak Sekar mau nggaknya kalau di situ di bangun Masjid"
"Ya udah tanyain aja, nanti biar Roy yang urus kalau Mbak kamu itu udah setuju"
"Iiihh makasih papa..."
"Cup" satu kecupan mendarat di pipi Jason, Shirleen gemas sekali rasanya mengapa hidupnya sangat beruntung di pasangkan dengan Jason.
Jacob yang ternyata tadi sudah tertidur pun refleks terbangun karena pergerakan Mamanya yang tiba-tiba, serta spontan menangis karena tidurnya yang terganggu, lalu dengan segera Shirleen kembali menyodorkan sumber makanan bayinya itu.
"Kamu siihhh"
"Kok aku ?"
"Ya kamu lah, masa aku"
"Iihh kamu juga ya"
"Lah kok bisa aku ? Kamu lah"
"Kamu"
"Kamu"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!