Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jangan terlalu ramah padanya.


__ADS_3

"Kau!" ucap Jason heran, mengapa dokter Eri yang bertugas memberikan obat pada istrinya.


"Aku tidak ingin ada kesalahan, makanya aku saja yang kesini, aku ingin memberikan yang terbaik untuk istri adikku." ucap Dokter Eri, ia mencoba untuk bicara tidak formal, kira-kira apa Jason akan menanggapinya.


Saat Jason berterima kasih padanya malam tadi, jujur saja ia bahagia, tersentuh, entahlah apa yang membuatnya rela menggantikan tugas perawat yang telah ia jadwalkan untuk mengurus istri Jason, namun percayalah ia hanya ingin memberikan yang terbaik, atau mungkinkah saat ini ia sedang haus akan pujian.


"Kau nampak semangat yaaa!" sindir Jason.


"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik, Nona Shirleen kau sudah bangun, bagaimana apa ada keluhan?" tanya dokter Eri, meski ia tau apa yang pasti terjadi pada Shirleen, namun dirinya masih saja ingin mengajak Shirleen bicara, kadang memang interaksi antara dokter dan pasien itu diperlukan.


"Terimakasih Pak Dokter, sudah, saya merasa haus tadi lalu terbangun." ucap Shirleen.


"Kondisinya masih lemas, tidak berdaya, namun kau bilang dia hanya butuh istirahat dan nutrisi yang cukup kan untuk memulihkannya." ujar Jason mewakili istrinya.


"Oh begitu, iya nona, nona tidak perlu khawatir mengenai kondisi seperti itu akan berangsur membaik, kami juga akan melakukan yang terbaik untuk nona." ucap dokter Eri menyetujui ucapan Jason.


"Bisa tolong periksa bayiku juga, aku ingin mendengar kalau mereka juga baik-baik saja." pinta Shirleen.


"Tentu Nona, apapun yang kau mau!" ucap dokter Eri.


"Tapi sebelumnya, Nona Shirleen ini makananmu, segeralah isi nutrisi untuk bayimu." ucap dokter Eri sembari menyodorkan makanan yang ia bawa pada Jason.


"Terimakasih Pak Dokter!" ucap Shirleen.


"Makan ya By..." ucap Jason pada Shirleen.


"Iya, aku mau minum By!"


"Ya sudah, sebentar!" lalu Jason pun membantu Shirleen minum dan kemudian menyuapi Shirleen makan.


Rasanya makanan apapun bagi Shirleen tidak enak untuk dimakan, dari bentuk dan rupa makanannya saja Shirleen sudah merasakan tidak berselera, tapi ia harus tetap makan karena ada dua nyawa lagi yang butuh asupan nutrisi darinya.


Dokter Eri menunggui Shirleen makan sampai selesai, setelah selesai kemudian ia memberikan suntikan obat pada infus di tangan Shirleen, dan di lanjut ia mulai mengecek kondisi janin Shirleen.


"Bayi kalian sejauh ini cukup baik, syukurlah tidak terjadi apa-apa pada mereka, nah ini detak jantungnya sudah normal, tidak apa jangan terlalu khawatir."

__ADS_1


"Baik Dokter!"


"Semoga cepat sembuh..." ucap dokter Eri ramah.


"Terimakasih Dok." sahut Shirleen, hanya Shirleen sementara Jason ia cukup memperhatikan, mau marah pun tidak bisa.


Dokter Eri permisi keluar, ia harus pulang karena tadi ia kesini terkhusus untuk memberikan obat pada Shirleen.


"Jangan terlalu ramah padanya By!" ucap Jason pada istrinya saat dokter Eri sudah keluar.


"Dia dokter By, kita yang minta bantuannya untuk sembuh." dengus Shirleen kesal.


"Baru dilarang begitu saja kau sudah kesal." ucap Jason.


"Seorang istri harus menurut apa kata suami By, aku nggak suka kamu terlalu ramah." lanjut Jason lagi.


Ingin rasanya Shirleen menjambak rambut Jason yang mulai gondrong itu, atau meneriaki tepat di telinga suaminya yang dengan seenaknya mengatakan kewajiban seorang istri.


Itu aliran sesat, kau tau seorang istri memang harus menurut apa kata suami, tapi yang kulakukan tadi bersikap ramah pada sepupumu itu biasa saja antara dokter dan pasien, kau saja yang berlebihan, dasar pencemburu.


"Ya sudah, kali ini ku maafkan!" ucap Jason tiba-tiba dengan tengilnya.


Dih kapan aku minta maaf emangnya.


Sungguh ingin sekali Shirleen protes, namun itu hanya sebatas di hatinya saja, mengingat sang suami memang suka bertindak semaunya jadi kadang dirinya memang sudah terbiasa.


Beberapa menit kemudian pasangan suami istri itu sudah melupakan ketidaksesuaian tadi, kembali berbincang mesra, hingga tak terasa subuh telah berganti pagi yang cerah, Shirleen merasakan kantuk jadi dirinya memutuskan untuk mencoba tidur sebentar, entahlah mungkin efek obat yang diberikan dokter Eri tadi sudah bereaksi padanya.


Jason membenarkan selimut istrinya, kemudian mengecup singkat kening Shirleen, ia juga akan mencoba terlelap sebentar rencananya.


Di pagi yang cerah ini, di sebuah Desa yang jauh dari pusat kota, Sri sedang melakukan aktivitasnya seperti biasa saat ia masih tinggal di kampungnya.


Membantu Simbok mengerjakan pekerjaan rumah karena sebentar lagi Simbok dan Bapaknya harus berangkat ke sawah.


Ditambah lagi mengurus sang suami dan anaknya, Dareen mengatakan ia akan membatu Bapaknya di sawah sehingga mereka memutuskan nanti makan siangnya lebih baik di sawah saja tidak usah pulang ke rumah.

__ADS_1


Dareen menatap Rangga dari kejauhan, matanya mengisyaratkan cemburu karena kemarin sore ia pernah melihat Fahira di gendong olehnya, Rangga juga tampak berbincang asyik dengan Simbok dan Sri.


Bukankah ia mengetahui dari Sri bahwa Rangga hanya tetangga tidak ada hubungan persaudaraan, jadi jika Rangga menyukai Sri itu sah sah saja, namun sekarang sudah tidak sah karena Sri sudah menjadi istrinya.


Benar apa yang pernah dikatakan Pak Safar, bahwa Dareen akan sangat merasa beruntung memiliki Sri, dan setelah tau kenyataannya Dareen tidak akan pernah melepasnya.


Itulah yang saat ini Dareen lakukan, saking cintanya dengan Sri ia bahkan tidak bisa berpikir jernih.


Ia mendekat pada Rangga yang sedang menyapu halaman, pemuda itu sebenarnya tidak punya perasaan lebih selain persahabatan pada Sri, ia dan Sri sudah hidup bertetangga sejak masih bayi, melewati masa kecil hingga remaja bersama bagaimana mungkin mereka tidak dekat, ia juga bahagia mendengar kabar kalau Sri sudah menikah dan lebih bahagia lagi saat dipertemukan dengan Fahira, ia sudah diberi tahu oleh Simbok asal usul Fahira karena Simbok sudah menceritakan itu pada Ibunya tidak lama setelah pulang dari Jakarta waktu itu.


Jujur, ia bangga dengan sahabatnya itu, meski orang baik dan taat agama sekalipun tidak sembarangan orang bisa memutuskan untuk merawat anak orang lain dan dijadikan anaknya seperti Sri, baginya sungguh mulia hati sahabatnya itu.


"Eh Dareen, mau kemana?" sapa ramah Rangga, ia tersenyum pada Dareen.


Masyaallah bojone sri iki nggantheng banget, untunge kancaku, agamane, apikan, heh dak nyangka aku.


Dareen diam saja, ia memperhatikan Rangga dari ujung rambut sampai kaki, apanya yang dilihat Sri pada Rangga pikirnya. Tanpa sadar Dareen malah membandingkan dirinya dan Rangga.


Rangga yang ditatap demikian merasa heran, ada apa pikirnya, ia mengelap peluh yang menetes si wajahnya karena habis mencari keringat menyapu keliling halaman rumahnya, apa dirinya terlihat kucel hingga Dareen melihatnya sampai sebegitunya, Rangga berusaha tetap santai.


"Kamu udah lama kenal Sri?" tanya Dareen pada akhirnya.


"Lho sudahlah pasti, kami tetanggaan dari bayi." jawab Rangga.


"Kamu dekat dengan Sri selama ini?" tanya Dareen lagi.


"Ya dekat lah, dia sahabat aku, kami tiap hari main bareng, pergi sekolah sama pulang juga bareng, apa lagi di kampung sini nggak banyak yang sekolahnya sampai SMA, aku dan Sri salah satunya kami harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa sampai di sekolah, ya kalau tidak bareng kasihan ongkosnya."


Dareen nampak kesal karena baginya Sri dan Rangga sudah sedekat itu, di tempatnya seorang cewek dan cowok itu kalau berteman berdua biasanya jarang sekali hanya murni berteman, mungkinkah Sri dan Rangga juga begitu, nampaknya ia sudah parno duluan.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2