Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Dasar Playboy !


__ADS_3

📨 Sedang apa?


^^^📩 Baru mau pulang kerja.^^^


📨 Mengapa selarut ini, apa Bosmu tidak punya hati menyuruh karyawannya harus lembur?


^^^📩 Yah, sedikit!^^^


📨 Sebenarnya aku harusnya menyarankan supaya kau berhenti, bukankah itu ide bagus.


^^^📩 Tidak buruk, tapi sayangnya aku betah sekali bekerja disitu.^^^


📨 Meski dengan Bos yang tidak menyenangkan?


^^^📩 Siapa bilang, dia baik sekali, mungkin aku yang terlalu royal dengan pekerjaanku.^^^


📨 Kau serius? Aku tanya apa Bosmu perempuan ?


^^^📩 Menurutmu?^^^


📨 Apa dia laki-laki?"


Yudha menggeram, Ia menghempaskan ponselnya di ranjang, rasanya di saat seperti ini sayangnya ia malah tidak bisa berbuat apapun, Weni jauh disana, dan ia hanya bisa menarik nafasnya dalam untuk menetralkan rasa cemburunya.


Apa lagi saat dalam hitungan menit Weni mulai tidak membalas pesannya, ia semakin frustasi saja rasanya.


"Sedang apa dia?" gumam Yudha.


Sedang di belahan benua lain, Weni menarik nafas pelan, tersirat rasa getir saat berbalas pesan pada sang pacar nun jauh disana, Yudha sudah semakin sering menanyainya, bahkan hari ini Weni tidak bisa jauh dari ponselnya, Yudha tidak akan berhenti mengirimkannya pesan lalu akan menelpon di beberapa menit kemudian jika ia lambat membalas.


"Apa pacaran dengan bocah memang seperti ini?" belum seminggu ia dan Yudha berjauhan, namun Weni sudah bisa melihat hilal kejenuhan.


Weni mulai menjalankan mobilnya, ia memang tidak berbohong soal mengatakan ia baru saja mau pulang kerja, rasa lelah menekan seluruh tubuhnya, pun juga kantuk yang semakin menyeruak.


Tiga puluh menit berlalu, ia sudah sampai di rumahnya, malam semakin beranjak naik namun sebuah panggilan telepon lagi-lagi membuatnya harus membuka mata.


^^^"Sayang, sudah tidur yaaa, kenapa tidak dibalas."^^^

__ADS_1


"Aku baru pulang kerja, ini baru mau mandi."


^^^"Ini sudah larut malam, sebaiknya cuci tangan dan kakimu saja, lalu segeralah tidur."^^^


"Iya!"


Weni mematikan panggilan dari Yudha, persetan dengan larangan Yudha, baginya setelah seharian lelah bekerja hanya airlah yang mampu meredamnya, ia tidak akan tidur nyenyak jika saja seluruh tubuhnya tidak terkena air, gatal-gatal akan menyerang, ia tidak sejorok itu, yah meski ini sudah larut malam dan mandi di malam yang dingin sangat tidak dianjurkan oleh pakar kesehatan, namun ia tidak perduli.


Lima belas menit berlalu, rasa kantuk semakin menyerangnya, Weni merebahkan tubuhnya pada ranjang, memeluk guling dan kemudian tertidur, rasa lelah membuatnya mudah saja pulas.


Tanpa tau lagi seseorang di belahan bumi lainnya sedang menggerutu karena menungguinya selesai dari kamar mandi.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Angga baru saja pulang dari rumah Afik, setelah mendapatkan penjelasan dari Afik tadi ia sudah tau segala yang dilakukan oleh Junedi mereka.


Ia salut saja, seketika ingin juga mencoba diselamatkan, bagaimana yaaa jika ia melakukan hal yang benar-benar salah seperti melanggar peraturan lalu lintas misalnya, apa nanti Jason akan menyelamatkannya dengan kekuasaan juga.


Angga tersenyum miring memikirkannya, saking kerasnya ia berpikir tidak sadar kalau motornya sedikit lagi akan menabrak seseorang.


"Aaaa." teriak seorang wanita.


Angga mengerem mendadak, tak lupa mengelus dadanya menandakan dirinya sendiri shock, dasar Junedi, semua ini gara-gara lo, batinnya dalam hati.


"Tidak apa Mas!" ucap wanita itu.


"Kenapa motornya?" tanya Angga, ia melihat wanita itu tengah mengotak-atik motornya dengan bantuan senter ponsel, entah ada kesalahan apa.


"Mogok Mas, biasalah motor butut." ucap si wanita, lalu wanita itu kembali mengotak-atik motornya dengan peralatan montir yang seadanya, karena dirinya telah bersiap-siap, kuda besi kesayangan dan satu-satunya itu sering sakit-sakitan minggu ini.


"Ini sudah malam, lebih baik kamu aku antar saja." ucap Angga, ia mengedarkan pandangannya sekeliling, sudah tampak sepi hanya ada beberapa kendaraan yang lewat, di kota penuh persaingan ini susah sekali mendapatkan bantuan, orang-orang sudah buta jika tidak sengaja melihat seseorang yang tengah mogok motor di pinggir jalan, mereka pikir semua sama hanya modus belaka, maklumi saja karena begitu maraknya tindak kejahatan akhir-akhir ini.


"Ah tidak tidak, ini sebentar lagi selesai." tolak halus si wanita.


Angga membuka helmnya, ia ingin turut membantu, melihat wanita dihadapannya ini memperbaiki motornya, ia jadi terkesan nampaknya wanita ini bukan anak yang manja pikirnya.


"Kita belum kenalan, Angga!" ucap Angga, ia mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


Spontan si wanita itu menoleh karena mendengar nama itu di sebutkan.

__ADS_1


"Angga!" pekiknya girang.


Angga melongo karena sepertinya si wanita mengenali dirinya, namun anehnya ia merasa tidak mengenali si wanita.


"Maaf siapa yaaa?" tanya Angga heran.


Gubrak, hancur sudah kebahagiaan bertemu seseorang yang pernah ditaksirnya itu, Rara kecewa bahkan Angga tidak mengenalinya, lalu apa gunanya berkenalan di pertunangan kak Weni Bosnya waktu itu.


Rara kembali melanjutkan pekerjaannya, ia tidak perduli lagi dengan Angga, ah bodo amat.


"Hey, apa kamu kita pernah kenalan, kamu mengenalku lalu aku tidak mengenalmu, maaf, emmm kalau boleh kita bisa kenalan lagi." tawar Angga dengan rasa tidak nyamannya, ia melihat lagi ke arah wanita namun wanita itu menggunakan helm dan menunduk.


Tapi rasanya ia tidak pernah berkenalan dengan wanita yang mirip dengan wanita dihadapannya ini, apa aku lupa ya, Angga berpikir keras.


"Sini biar aku bantu." Angga hendak mengambil alih pekerjaan Rara, namun karena Rara yang hendak menolak jadilah Angga tidak sengaja menggenggam tangan Rara.


Beberapa detik Rara dan Angga justru terdiam, saat tangan itu bersentuhan bahkan dalam genggaman, Angga masih memikirkan dimana kiranya ia melihat wanita dihadapannya ini, sementara Rara sedang berusaha menetralkan jantungnya, ia memang sudah menyukai Angga semenjak awal bertemu, dan ia yakin saat ini sebenarnya dirinya sudah lebih dari menyukai.


"Lepasin tangan lo!" ucap Rara.


Angga tercengang, kok jutek pikirnya.


"Maaf jika kita pernah bertemu dan gue nggak bisa ngenalin lo, mungkin karena..."


"Ya karena saking banyaknya cewek yang ngajakin lo kenalan kan, jadi lo ngerasa laku, dan gue, heh apalah..." potong Rara, meski suka namun juga sekaligus benci yang ia rasakan saat ini pada Angga, mungkin setelah ini ia bertekad untuk berhenti menyukai lelaki beralis tebal dengan senyum mempesona itu.


Dasar playboy!


"Heh, filter dikit napa itu mulut, kalau ngomong suka bener!" ujar Angga, ia tidak ingin menganggap serius ucapan Rara, bodo amat kalau wanita dihadapannya ini tidak menyukainya, ya sudah kenapa harus memaksa untuk menyukai.


Dasar nggak tau malu, ngerasa laku banget sampai gue bilang kek gitu, lah dianya malah setuju-setuju aja.


Rara melemparkan busi motornya, ia pikir lebih baik menyetop taksi atau mengabari orang rumahnya saja untuk segera di jemput, malas sekali harus berdua dengan Angga disini pikirnya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2