Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Telah dibayar Tunai.


__ADS_3

"Kenapa bisa tidak berakhir dipenjara, bukankah sudah kubilang apa yang harus kau kerjakan"


"Maaf Tuan Muda, tapi ternyata ia bisa membayar ganti ruginya, hanya saja kini Athar Adjiandanu masih harus berurusan dengan pihak bank" Roy tampak sedikit gemetar, karena rencana mereka tidak sesuai ekspektasi.


Jason menghela nafasnya pelan, latihan kesabaran yah tarik nafas hembuskan, yaakk tarik lagi hembuskan, tapi ternyata metode itu tidak berhasil untuk seorang Jason, amarahnya masih juga menyala.


"Roy, sejak kapan kau tidak bisa diandalkan ?" tanyanya seperti menahan amarah yang akan tersembur.


"Maafkan saya Tuan Muda"


"Pergi, dan lakukan apapun yang kau bisa, aku tidak mau tau" ucapnya dingin, aura membunuh terpancar jelas dihadapan Roy, Roy sudah pernah mengalami kemarahan Bosnya itu, jangan sampai lagi, jangan... ia tidak mau mati sia-sia, masih ada Shakira yang belum juga ia lamar lagi.


Roy memilih pergi, lama-lama berada disatu ruangan dengan Tuan Mudanya bisa membuat ia berhenti bernafas. Sungguh kalau tidak percaya mari lakukan saja.


"Aarrggghh sial, sial sial, seharusnya ia membusuk dipenjara" Jason tidak terima, baru kali ini rencananya tidak tercapai.


Jason menelusuri sebab mengapa Athar bisa membayar denda kerugian perusahaan, bukannya nilainya sudah sangat banyak ditambah hutang lelaki itu pada perusahaan.


Namun ternyata, usut punya usut nilai itu dibagi dua dengan Rudi, sehingga Athar bisa melunasinya dengan menggadaikan rumah barunya pada bank. Dan untuk masalah hutang, perusahaan yang akan mengurusnya.


"Heemmm jadi begitu, baiklah tidak apa, kau akan kubuat lebih menderita setelah ini" Jason menyeringai.


Disisi lain, kelima adik beradik itu sudah bulat memutuskan untuk menghentikan perawatan sang ibu dirumah sakit elit tersebut. Setelah melalui mufakat yang sebenarnya lebih ke adu pendapat mereka sepakat untuk membawa pulang ibu mereka.


Sibungsu mengatakan meminta bantuan dana untuk merawat ibu mereka, karena saat ini ia sudah berstatus pengangguran.


Sebenarnya keempat kakaknya tidak keberatan, hanya saja waktu itu mereka memang benci karena menurut mereka Atharlah penyebab sakit ibunya.


Namun kembali lagi, jika mereka bisa menerima segala yang terjadi, mereka bisa berpikir jernih mana mungkin seorang anak dengan tega membuat ibunya sakit seperti itu, pastilah ada unsur ketidak sengajaan, Adik bungsunya khilaf dan mereka sudah memaafkan itu.


Kondisi Ibu Athar sangat memprihatinkan, tubuhnya kurus, ia sering berhalusinasi seolah ketakutan, tapi karena struk yang ia alami anak-anaknya tidak bisa menyimak apa yang ibu mereka katakan.

__ADS_1


Seperti saat ini, kala sampai dirumah Ibunya mulai berhalusinasi lagi setelah melihat Sri, dengan Riska dan lainnya saja Ibunya itu kadang-kadang masih menunjukkan reaksi ketakutan, apa lagi dengan orang yang baru dilihatnya seperti Sri. Pokoknya asalkan perempuan Ibunya pasti akan menunjukkan reaksi begitu.


Athar bahkan harus mempekerjakan perawat pria untuk merawat ibunya, supaya Ibunya bisa tenang.


Perawat itu akan mulai bekerja hari ini juga, perawat itu juga diharuskan tinggal serumah karena Athar tidak bisa merawat ibunya pun juga dengan kakak-kakaknya.


Sri sudah diperingatkan supaya jangan memasuki kamar ibu mereka, karena itu akan berdampak buruk bagi kesehatan ibu mereka.


"Kak Riska, kita perlu bicara berdua ?" ucap Athar pada si sulung, ia ingin memperjelas apa yang ia dengar kemarin.


"Mau bicara apa, bicara disini saja ?"


"Tidak, hanya berdua, ayo ke kamarku" ucap Athar lagi. Ia tidak ingin gegabah, ia ingin kata-kata itu keluar dari mulut kakaknya dan harus menatap matanya jika sudah begitu baru ia akan percaya. Karena sampai kini pun ia masih enggan untuk percaya.


"Mau apa lagi" ketus Riska saat keduanya sudah berada didalam kamar.


"Kak, ku mohon, semua yang kakak katakan waktu itu, tidak benar kan ?"


"Kak..."


"Kamu berharapnya apa, aku bohong gitu ?" tanya balik Riska, sudahlah semua sudah kebuka juga, di blak saja terserah mau hancur ya hancur saja sekalian pikir Riska. Ia mulai mengabaikan kesepakatannya dengan Jason.


"Haaahh" Menghembuskan nafasnya pelan, kini Athar sudah siap mendengar kenyataan. "Jelaskan saja kak"


"Kau pikir kenapa aku bisa menggugat cerai suamiku ?" Riska masih tetap bertanya, ia malas mengakui suaminya berkhianat karena kenyataan itu akan membuat ia terluka lagi.


"Kak..." lirih Athar.


"Memangnya apa yang kau harapkan, apa kau pikir istrimu itu orang yang sangat baik, kau tau dia itu tidak lebih dari seorang ******" Nampaknya Riska sudah terbawa suasana, segala makian yang ia simpan untuk Riana dulu bisa jadi akan ia limpahkan pada adik bungsunya itu, darahnya mendidih, ia benar-benar akan marah.


"Aku bahkan pernah melihat vidionya, di hotel San*ika, kamar 115, durasi 51:22, apa ? lalu apa yang akan kau harapkan ?"

__ADS_1


"Berharap wanita ular itu akan mencintai kamu sampai ujung nyawanya, kalau aku jadi kau sudah lama aku buang wanita menjijikan seperti istrimu itu"


"Dan aku akan berharap mempertahankan rumah tangga yang telah diisi dengan kebohongan ini, kau tidak tau apa yang aku rasakan, kau pikir mudah hah, mudah menerima lagi bajingan seperti Mas Rendi ?"


Athar masih mematung, rasa sesak memenuhi dadanya, ia kecewa.


"Dasar sampah, kau yang membawa j*lang itu kesini, kau, ibu, kalian penyebabnya, kau sama saja seperti dia, seperti Mas Rendi, tukang selingkuh, bajingan, aku benci kalian, pergi jangan tunjukkan mukamu itu, kau bukan lagi adikku" ucap Riska lantang, ia terduduk lemas, kini ia kembali hancur. Bayangan dan suara laknat itu kembali memenuhi gendang telinganya.


"Pergi, pergi, pergi kalian..." Riska menutup kedua telinganya, berharap ia bisa menghalau suara-suara yang sangat tidak ingin ia dengar itu.


Delia berlari menuju kamar Athar, sumber suara pertengkaran yang terjadi.


"Kak Riska, kak sadar ini Delia" ucap Delia sembari memeluk sisulung keluarga mereka. Dari keempat saudaranya hanya ia yang tau masalah yang dialami Riska.


Delia memberikan sebuah permen yang sempat ia ambil dari kamar kakaknya tadi, dan memasukkan paksa kemulut Riska.


Ia menoleh pada Athar yang masih betah mematung.


"Pergilah Athar, tinggalkan kak Riska dulu, kau tidak tau bahkan Kak Riska hampir gila karena ulah wanita ular itu, kalau kau masih merasa adik kami kau pergilah dan jangan cari masalah dengan kak Riska, jangan menemuinya dulu untuk sementara waktu, sebisa mungkin jangan mengungkit masalahnya" ucap Delia, ia hanya benci pada Riana tapi tidak dengan Athar, baginya Athar tetaplah adik kecilnya, mungkin adik kecilnya itu tengah salah jalan saat itu, yang berlalu biarlah berlalu.


Athar berlalu pergi, ia juga tidak sanggup melihat kakaknya seperti itu. ini salahnya ini salahnya telah berani bermain api, ternyata bukan hanya Shirleen yang menjadi korban dari penghianatannya.


Saat ia menyakiti Shirleen, Tuhan bahkan membalasnya secara tunai dengan membalikkan apa yang telah dilakukannya, Kak Riska saudara perempuannya itu harus mengalami apa yang Shirleen alami dan rasakan.


Apa tadi, kak Riska hampir gila, oh yaaa Tuhan bagaimana bisa Shirleen tetap tegar berdiri kokoh seperti itu setelah apa yang terjadi, membayangkannya saja ia tidak sanggup.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2