Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Angga berulah (Angga dan Rara)


__ADS_3

"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" tanya Rara, ia sebenarnya malas untuk menyambut kedatangan seseorang yang sudah membuatnya kesal ini, tapi mau bagaimana lagi totalitas dalam bekerja dibutuhkan di sini, meski hanya sebagai resepsionis.


"Nggak usah formal juga kali!" ucap Angga, ia tersenyum manis pada Rara.


Malam ini, setelah begitu melelahkan karena aktivitas ospek yang tak terelakan, Angga sengaja menyempatkan diri untuk menemui Rara di tempat kerja, ia akan meminta maaf secara langsung, dan mengutarakan niatnya untuk mengajak Rara kencan di akhir pekan.


"Maaf, ini masih jam kerja!" ucap Rara masih dengan mode formal.


"Kalau begitu saya mau menemui Bos kalian bisa?" tanya Angga lagi, baiklah jika ini kemauan Rara, ia akan turuti, Rara kira dirinya tidak bisa melakukan apapun, heh lihat saja nanti.


"Sebentar, saya hubungi beliau dulu." ucap Rara.


Rara terlihat mendial nomor telepon yang Angga tebak pastilah menghubungi Weni, dan beberapa detik kemudian, Rara mengatakan Bosnya itu sudah menunggu di ruang kerja.


"Silahkan Mas, sudah di tunggu!" ucap Rara lagi.


"Ya terimakasih!" balas Angga, canggung sekali tapi biarlah tak apa, untuk permulaan saja.


Angga menuju ruangan Weni, Weni nampak mengkerutkan kening, ada apa pikirnya sahabat tunangannya ini menemuinya malam-malam begini.


"Angga, ada apa ya?" tanya Weni heran.


"Gak ada apa-apa, gue mau ngomongin sesuatu sama lo, yah ada paham dikit lah!" ujar Angga.


"Katanya nggak ada apa-apa, tapi bilangnya mau ada yang diomongin, gak konsisten banget!" gumam Weni pelan yang masih bisa didengar Angga, tapi sayang sekali Angga tidak perduli.


"Gue mau ngajakin karyawan lo pulang, biar gue yang izin sama lo, bisa?" Angga mengatakan tujuannya.


"Karyawanku, yang mana? Siapa?" tanya Weni heran lagi.


"Rara!" jawab Angga pasti.


"Enggak enggak, dia bagian resepsionis, ini masih jam tujuh, dan juga Rara ada jadwal lembur hari ini karena kemaren dia cuma setengah hari masuknya, nggak ada yang bisa gantiin dia, jangan ngada-ngada kamu!" tolak Weni.

__ADS_1


"Jam berapa aku bisa ngajakin dia pulang?" tanya Angga pada akhirnya.


"Jam sepuluh!" jawab Weni.


"Hah lo gila, lo suruh dia kerja dari pagi sampe jam sepuluh, wah nggak waras lo!" protes Angga.


"Heh, beraninya kamu bilang gitu, itu dia sendiri yang minta, soalnya kemarin yang lembur temennya karena dia cuma masuk setengah hari, ya hari ini jadwalnya lah, aku itu selalu menomorsatukan karyawan yah asal kamu tau, kalau mau libur ya libur aja cuma harus bisa gantian sama pasangannya misal kan si Rara Rara yang kamu maksud itu kan ada juga temennya yang resepsionis jadi supaya bisa libur atau mau pulang cepet harus bisa atur waktu sama rekan kerjanya."


"Tapi kalau hari ini emang gak bisa, Rara harus tanggung jawab dong!" ujar Weni lagi.


"Haaahh," Angga menghela nafasnya berat, kira-kira apa ya yang bisa meluluhkan hati tunangan sahabatnya ini pikirnya.


"Sekali ini aja Wen, yah bantuin gue?" rayu Angga.


"Ya nggak bisa!" tegas Weni.


"Gimana kalau gue beli salah satu baju mahal lo, tapi gue minta waktunya Rara sekarang, mau yaaa!" rayu Angga lagi.


"Angga, aku bukan tipe bos yang akan seenaknya memberikan karyawanku hanya untuk kesenangan pribadiku ya, kalau kek gitu ceritanya, itu sama aja aku menjual Rara dong, meski kamu nggak bakalan ngelakuin apapun tapi tetep aja Rara ditukar sama baju."


"Yaaahh." keluh Angga.


"Kejem banget sih lo jadi Bos, balas budi kek, gue tau nggak yang nyatuin lo sama si Cebong, makasih aja enggak!" Angga frustasi hingga ia mencoba mengungkit lagi jasanya.


"Haaah," desah Weni, ya Tuhan dasar yaaa bikin susah aja, batin Weni.


"Ya udah, nanti sampai jam 9, biar aku tutup lebih awal hari ini." ucap Weni.


"Dikit amat ngurangnya, jam 8 dong, yah yah!" rayu Angga lagi.


Ini bocah dikasih hati minta jantung, nggak Yudha nggak temennya doyan banget maksa.


"Gimana?" tanya Angga lagi mencoba menawar.

__ADS_1


"Iya jam 8, kamu boleh bawa dia meski aku belum tutup!" ujar Weni. Tak apalah dirinya sekali-kali menolong Angga, mengingat waktu itu Angga berperan banyak dalam kelancaran hubungannya.


"Yes!" pekik Angga kegirangan, seulas senyum terbit di bibir Weni, meskipun sederhana namun bolehkah ia iri, ia menginginkan Yudha di sini juga menemaninya, menjemputnya pulang setelah seharian lelah bekerja, saling bertatap muka menceritakan bagaimana hari ini, ah Yudha, dirinya merindukan tunangannya itu.


"Lo bengong, mikirin cebong ya?" goda Angga pada Weni.


Weni tersenyum manis, seolah ia mengakui apa yang dituduhkan Angga.


"Kalau lagi mikirin telpon dong ayang beb, sekarang jam satu di sana, coba aja telpon kali aja cebong lagi nggak ada kelas." ujar Angga.


"Aku takut ganggu!" ucap Weni.


"Yah di chat aja dulu, tanyain lagi apa, lagi dimana, bobok sama siapa? Lah kok kek lagu jadinya!" ujar Angga.


"Hehehe, iya nanti aku telpon, ini lagi ada kerjaan dikit, nah udah mau jam setengah delapan ini, kamu mau nunggu disini apa gimana?" tanya Weni, berdua di ruang kerja bersama Angga meski pintu terbuka lebar membuatnya sedikit canggung saja rasanya.


"Gue beli sesuatu dulu ke luar, nanti lo bilangin aja sama karyawan lo itu suruh pulang cepet, gue bentaran kok!" ujar Angga, ia bangkit dan langsung menuju pintu keluar, ia akan menyiapkan sesuatu untuk Rara, hanya sebentar, tidak akan sampai setengah jam lamanya.


"Ya udah, jangan lama-lama." ucap Weni.


"Iya Kakak Ipar!" ucap Angga.


"Hah, kakak Ipar?" heran Weni sembari menatap punggung Angga yang mulai menjauh.


Angga ke luar sebentar, dilihatnya saat hendak melewati Rara, gadis itu nampak menundukkan muka memberi salam hormat, ia bersikap seakan tidak perduli, ia menuju parkiran dan langsung saja mencari motor Rara, beruntung daya ingatnya sedikit lumayan malam ini, sehingga ia bisa mengenali motor Rara cepat, atau mungkin juga motor Rara sendiri yang mudah dikenali.


Ia melakukan tugasnya, membuat Rara akan bergantung padanya nanti, terang saja, ia bisa memastikan itu karena ia sudah berulah.


Seorang Angga tidak akan bisa di hentikan jika sudah jatuh cinta, sekian lama dirinya bisa merasakan bagaimana rasanya tertarik pada seorang gadis, jika Rara adalah gadis yang tepat ia berharap ia bisa menanggalkan gelar playboynya yang terkenal dengan sistem pacaran tiga bulan itu.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2