
Suara-suara seseorang yang sangat ia benci memenuhi gendang telinganya, semakin ia membenci semakin ia lupa akan dirinya.
"Eeehh eehhh leenn, ha hee haa leenn"
Dendam itu telah membutakan mata dan hatinya, ia lupa cara menikmati hidup, kebencian telah bersarang dihidupnya, mengendalikan separuh jiwanya.
40 tahun yang lalu...
Ia menikahi Restu Adjiandanu, Mas Aji begitu ia memanggilnya, dari luar orang akan melihat sebuah keluarga bahagia, namun siapa sangka ikatan sakral yang bernama pernikahan itu menjadi racun pemupuk dendam.
Melahirkan lima orang anak, bagi sebagian orang sudah sangat kaya cinta, sebagai bekal dihari tua mengharapkan cinta kasih yang akan selalu melindunginya kelak.
Namun tidak baginya, lima orang anak hampir ia asuh dan dibesarkan dengan tangannya sendiri, suami ? Heh makhluk yang bernama suami itu sama sekali tidak menganggap kehadirannya, jangankan untuk sekedar peduli.
Ia hanya dijadikan alat sebagai pemuas ***** belaka, bahkan setiap kali memberikan nafkah batin tak jarang sang suami memperlakukannya dengan kasar, memanggil manggil nama wanita lain dalam setiap erangan penyatuan, nama yang sampai hari ini masih ia benci. Aleyna, Aleyna, Aleyna, nama itu terus mengingatkan ia tentang penderitaan.
Apa lagi yang lebih sakit dari ini, apa ?
Suami yang tidak pernah mencintainya, masih mencintai orang lain, heh selama itu juga ia terus memupuk dendam.
Hidupnya menderita tidak lain karena satu nama, Aleyna.
Dan Shirleen, dari wajahnya saja ia sudah bisa mengenali, Shirleen adalah anak dari wanita itu, wanita yang secara tidak langsung telah merebut separuh hidupnya, ia yang berharap menikah dan hidup bahagia saling mencintai, namun sampai suaminya mati pun bahkan cinta tidak pernah hadir untuknya.
Egois, ia bahkan mengorbankan kebahagiaan putra satu-satunya, sampai hari ini pun ia tidak bisa menerima Shirleen.
Saat Athar meminta restunya untuk menikahi Shirleen, awalnya ia begitu marah, namun memikirkan dendam yang harus terbalaskan pada akhirnya ia memilih untuk setuju, dan jelas dengan berbagai sikap angkuhnya ia akan membuat shirleen menderita, Ia berjanji Shirleen hanya akan mendapat penolakan dan siksa batin, ia akan membuat anak bungsunya itu berpaling, mencampakkan Shirleen sebagaimana ia dicampakkan dahulu.
__ADS_1
Dan itu berhasil, namun karena keegoisannya jugalah ia tidak memilih dengan baik wanita yang dijadikan pengganti Shirleen, Riana, wanita ular itu bagai benalu yang akan mencekik anak bungsunya.
Kalau saja waktu itu ia tau dukungan dibalik pisahnya Athar dan Shirleen, mungkin ia tidak akan berakhir disini, kalau saja ia bisa menahan diri, kalau saja ia tau Tuan Muda Jason menyukai Shirleen, mungkin ia bisa membuat pilihan untuk menyuruh mulutnya diam dan jangan berkoar-koar seenak udel. Berapa banyak kalau saja yang ia perlukan untuk meratapi nasibnya setiap hari.
Chip itu sudah bekerja dengan baik di otaknya, ia tidak bisa melawan tubuh yang sudah dikendalikan ini, sulit sekali rasanya.
"Kenapa Bu... Kenapa Ibu tega lakuin ini, Ibu membawa Riana kedalam keluarga kita, Ibu membuat semuanya jadi hancur" Riska baru saja tiba diruang rawat ibunya, kekesalannya memuncak seketika, melihat wajah ibunya.
"Aku akan bercerai dengan Mas Rendi, rumah tanggaku hancur, puas ibu, puas ? Dan itu semua karena Riana, mantu pilihan ibu, ibu yang membawanya, bangun, jangan lemah seperti ini, ibu harus bertanggung jawab"
Ia tidak perduli dengan apa yang ia lihat dihadapannya, ibunya sangat ketakutan, masih terus ketakutan setiap saat melihat wanita. Berteriak histeris dengan suara yang tidak jelas karena kondisi mulut yang sudah tidak normal. Namun Riska benar-benar tidak perduli, baginya ibunyalah penyebab hancur rumah tangganya.
Riska terus mendekat, di ruangan itu hanya ada ia dan ibunya, ia tidak berniat untuk menekan tombol darurat meski ibunya nampak terlihat menderita sekalipun.
"Kau harus bertanggung jawab..." Riska terus mendekat, Ibunya tidak bisa berbuat apapun selain berteriak tidak jelas, apa lagi yang bisa dilakukan pasien dengan gangguan mental dan lumpuh sepertinya.
"Kau harus bertanggung jawab..."
"Eeehhh eemmmhh aaaa leenn oaangg"
kedua wanita yang dikuasai halusinasi itu semakin mengikis jarak, kekecewaan tersirat dimata si putri sulung, sementara sang ibu begitu ketakutan, keringat dingin mengucur deras, jantungnya yang berdetak hebat, mungkin sebentar lagi ia juga akan terkena serangan jantung.
Riska terus mendekat, ia telah dikuasai emosi.
Kau harus mati, kau lah penyebab semuanya.
Mengangkat tangannya, perlahan menggantung dihadapan wajah ibunya, entah apa yang ia pikirkan.
__ADS_1
Tangan itu masih menggantung, Riska belum bertindak apapun.
Ia sadar dihadapannya ini wanita yang sangat ia sayangi, wanita yang telah melahirkannya, tapi ia juga sungguh kecewa, bagaimana mungkin ibunya dengan sadar membawa api yang menyala hingga suaminya tertarik mengobarkan.
Tidak, dialah tempatku pulang, jangan Riska, jangan seperti ini.
Tangannya tetap masih menggantung, ia enggan menurunkannya, dilihatnya leher yang kini penuh keringat itu, haruskah ia mencekiknya ?
Tidak, jangan...
Dialah penyebabnya...
Tidak, jangan seperti ini.
Kau harus bertanggung jawab.
Orang yang pantas disalahkan adalah ibu, ibu penyebab semua ini terjadi.
"Kak Riska..."
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, dan vote yaaa
Happy reading !!!