Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Mencari Weni II


__ADS_3

"Selamat siang Mbak, eh maksudnya sore, bisa bertemu dengan karyawan disini yang bernama Weni ?" tanya Angga saat dirinya sudah sampai dam masuk di Butik Angel's W.


"Dengan Mas siapa ?" tanya si Mbak resepsionis.


"Angga, bilang aja Angga mau ketemu gitu ?" ucap Angga.


"Sebentar ya Mas !" ucap Mbaknya, namun seperdetik kemudian ia teringat akan suatu hal, "Siapa Mas tadi yang dicari ?" tanyanya lagi.


"Weni !" ulang Angga.


"Disini tidak ada karyawan yang bernama Weni Mas !" ucap Mbak resepsionisnya yakin.


"Ah yang bener Mbak ? Duh gue lupa lagi siapa nama panjangnya !" gumam Angga.


"Iya Mas, coba telpon dulu biar lebih mudah !"


"Eeh saya nggak punya nomornya lagi Mbak, gimana dong ?" sesal Angga mengapa tadinya ia tidak meminta nomor Weni pada Yudha.


Padahal sebenarnya, Yudha saja tidak mempunyai nomor Weni.


"Fotonya mungkin ?" tanya Mbaknya lagi.


"Nggak ada juga Mbak !" ucap Angga, sebenarnya apa sih yang ia cari kenapa tidak punya petunjuk apapun, ternyata mencari wanita bernama Weni tidak semudah yang ia bayangkan.


"Yah bagaimana sih Mas ini ?" keluh si Mbaknya, "Ganteng ganteng kok gak meyakinkan !" gumamnya pelan takut membuat pemuda dihadapannya ini tersinggung.


"Ciri-cirinya aja Mbak bisa nggak, rambutnya lurus panjang sepinggang lah, suka di kuncir kuda sih, wajahnya agak mungil gitu kalau dibanding Mbak ini, ponian dia, terus ada tahi lalat kecil di deket sudut bibir kanan atas kalau senyum manis banget itu, yah kayak gitu kalau nggak salah !" ucap Angga menjelaskan bagaimana ciri-ciri Weni sebanyak yang ia bisa bayangkan.


"Namanya Weni ?" tanya ulang Mbak resepsionisnya sekali lagi.


"Iya Mbak !" ucap Angga, harus berapa kali ia mengatakan kalau yang tengah ia cari saat ini namanya Weni, budek apa gimana ini resepsionis pikirnya.


Mbak Resepsionis tersebut seperti familiar dengan ciri-ciri wanita seperti itu, namun masa iya Bosnya dikatain karyawan Butik.


Hening dua menit,


"Ada nggak Mbak karyawan dengan ciri-ciri kek gitu disini, emaknya juga tadi bilang dia kerja disini kok udah aku tanyain !" ujar Angga lagi.


"Nggak ada !" ucap yakin Mbaknya.

__ADS_1


"Yah Mbak, terus mikir lama tadi maksudnya apa ?" geram Angga.


"Ya aku udah mikirin satu satu karyawan disini, nggak ada yang namanya Weni, kalau Eni ada itu dia orangnya !" ucap Mbaknya sembari menunjuk seorang wanita yang kira-kira sudah seumuran Mamanya Angga.


Angga hanya menunjukkan deret giginya, siapa juga yang mau nyari emak-emak pikirnya.


Ia merasa sangat heran, bagaimana bisa Ibunya Weni mengatakan Weni bekerja disini namun Weninya sama sekali tidak terlihat keberadaanya disini, apa dibagian dapur ya, eh kalau Butik terkenal gini ada nggak dapurnya ? pikirnya ngawur.


"Mbak saya tanya sekali lagi lho, ada nggak karyawan namanya Weni disini ?" tanya Angga mencoba mencari keberuntungan.


"Enggak ada Mas, beneran kalau karyawan emang nggak ada yang namanya Weni..."


"Kalau yang lainnya ada maksudnya ?" potong Angga cepat.


"Kalau pemilik Butik ini memang Kak Weni sih, sesuai dengan nama Butiknya Angels W." jelas Mbaknya.


"Pemilik Butik ?" ucap Angga tak percaya, sama sekali tidak menandakan seorang pengusaha jika Weni dilihat dari penampilan dan kesehariannya.


"Iya Mas !"


"Bisa saya bertemu dengan Bosnya Mbak ?" tanya Angga.


"Bisa telpon dia, bilang ada yang ingin bertemu. ?" tanya Angga lagi menggantungkan harapan.


Baru saja Mbak resepsionisnya mau menelpon Weni, namun yang tengah dicari pun tidak lama muncul dari kejauhan setelah memarkirkan mobilnya.


"Itu Bos kami Mas !" tunjuknya pada seorang Wanita yang baru saja akan menuju pintu masuk kaca Butiknya.


Spontan Angga menoleh, dan benar saja dilihatnya memang Weni yang tengah ia cari cari.


"Ikut gue !" tak ayal, Angga langsung saja menarik tangan Weni paksa.


"Heh, siapa sih langsung main tarik aja, lepasin !" ucap Weni yang belum mengetahui siapa pemuda yang menarik tangannya.


"Lo harus tanggung jawab, gue nggak mau tau, ikut gue sekarang !" ucap Angga pada Weni yang sedang menatapnya tidak percaya.


"Apa lagi sih, tanggung jawab apa coba, kalian waras nggak sih udah nyakitin malah suruh orang tanggung jawab pula." gerutu Weni tangannya masih terus ditarik Angga hendak menuju sebuah motor sport yang Weni sangka pastilah motor milik Angga.


"Diem lo !" Bentak Angga, "Naik buruan !" suruhnya lagi pada Weni.

__ADS_1


"Lepasin aku nggak mau, dan ngapain juga harus ngikut sama kamu ?" tolak Weni mentah.


"Gue nggak tau apa masalah yang sedang melanda percintaan kalian, tapi please kalau ada masalah itu selesaikan secara baik-baik jangan main tinggal-tinggal aja, lo nggak tau gimana Yudha berjuang untuk bangkit dari keterpurukannya dan lo malah nggak ada rasa bersalahnya ninggalin dia, apapun masalahnya kalau lo beneran nggak mau sama dia bilang secara baik-baik." jelas Angga yang masih mengira bahwa Weni meninggalkan Yudha hanya karena Weni tidak ada ketertarikan sedikitpun dengan sahabatnya itu.


"Heh, kamu nggak tau apa-apa tiba-tiba beraninya bilang gitu, temen kamu sendiri yang mau ninggalin aku, jadi aku bisa apa ?" sanggah Weni, ia merasa heran kenapa juga ia harus disalahkan.


"Udah buruan ikut gue !" suruh Angga, ia tidak perduli akan penolakan Weni, ketularan Jason dan Yudha ternyata ia bisa juga bersikap semaunya dan pemaksa seperti ini.


Weni hanya bisa pasrah meski dalam hati ia juga dilanda kebingungan sebenarnya apa yang telah ia perbuat pada Yudha.


"Sebenarnya kita mau kemana sih ?" tanya Weni saat di tengah perjalanan, ia menepuk pundak Angga namun sayangnya Angga tidak menghiraukan pertanyaan Weni.


Dua puluh lima menit berlalu Angga dan Weni sudah sampai di rumah sakit tempat Yudha dirawat, Angga langsung saja menarik paksa tangan Weni untuk dipertemukan dengan Yudha secepatnya.


"Masuk !" suruh Angga dengan bentakan saat ia dan Weni telah sampai di ambang pintu.


Pelan Weni pun masuk dan melihat keadaan Yudha yang sedang membelakanginya, Sebenarnya apa yang telah terjadi pikirnya, Weni sungguh dilanda kebingungan.


"Yud !" panggil Weni.


Tidak ada sahutan kemudian membuat Weni mendekat kearah Yudha, ia meraba wajah Yudha yang sepertinya sangat tertekan, Bagaimana bisa keadaan Yudha menjadi seperti ini sedang tadi saat ia tinggalkan rasanya Yudha masih baik-baik saja.


"Yud !" panggilnya sekali lagi.


benar saja kali ini Yudha betul merespon, ia memandang Weni lama seolah tidak percaya bahwa wanita yang ia cintai sedang berada dihadapannya.


"Wen !" ucapnya.


"Iya ini aku !" imbuh Weni.


"Wen !" panggil Yudha sekali lagi, ia benar-benar merasa tidak percaya akan kehadiran Weni, ia menoleh pada Angga seakan hendak berterima kasih dan masih tidak percaya bahwa Angga bisa melakukan itu untuknya.


Pelan Angga menggangguk, ya begitulah persahabatan mereka, jika seorang sahabat sedang bersedih maka sahabat lainnya tidak akan tega untuk tidak berbuat apapun demi menepis segala kesedihan, meski kadang juga harus melakukan hal terkonyol sekalipun.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2