
"Len, bukan salahmu, ini tidak ada hubungannya sama sekali denganmu." ucap Weni, keduanya masih berpelukan, bagaimana pun Weni tidak bisa menyalahkan Shirleen atas segala yang terjadi padanya.
"Aku sangat mengenalmu Wen, tapi aku sungguh tidak tau akan kisah cinta yang begitu rapuh kau jalani ini," ucap Shirleen, ia melonggarkan pelukannya, menatap lekat wajah Weni. "Terimalah Yudha Wen, temukan kebahagiaan bersamanya, jika dia menyakitimu beri tau aku, jangan ada lagi yang disembunyikan, aku ingin melihatmu bahagia, aku ingin melihatmu bahagia Wen."
"Len..."
"Aku memang tidak bisa jika tidak bergantung padamu, aku akan bahagia jika kau bahagia Wen."
Weni meneguk salivanya kelat, sekali lagi ia tidak bisa mengabaikan permintaan Shirleen, sudahlah demi Shirleen ia akan mencoba menerima Yudha.
"Iya Len, akan aku coba." ucap Weni yang telah memutuskan.
"Sungguh ?" tanya Shirleen.
"Apapun akan aku lakukan untukmu." ucap Weni, kedua sahabat itu tersenyum manis sekali, Shirleen yang bahagia telah berhasil membujuk Weni, sementara Weni mencoba tersenyum untuk Shirleen yang adalah sebagian hidupnya, meski hatinya lagi dan lagi menolak.
Biarkanlah aku egois, ini tidak akan lama, aku yakin Yudha bisa membuatmu merasakan apa itu cinta, dengan Yudha pasti kau akan menemukan kebahagiaan.
Aku akan selalu berdoa untukmu Wen, kau berhak bahagia. Maafkan aku...
Yudha sudah sadar dari pingsannya, lukanya juga sudah selesai diobati, ia juga sudah dipindahkan di ruang rawat, kini ia melihat Jason berada didekatnya.
Yudha mengingat apa yang telah terjadi padanya, ia menghembuskan nafasnya berat pagi tadi saat ia dalam perjalanan hendak menuju sekolah, tiba-tiba motornya diikuti oleh mobil sedan yang telah ia kenali milik siapa.
Tentu saja ia kenal, karena mobil sedan itu juga yang telah terparkir rapi di hari pernikahan Sarah mantannya.
Apa lagi ia bisa dengan jelas mengenali siapa pengemudinya, seorang bajingan yang telah berani menyentuh Weni di cafe Jason saat itu.
Ia mengambil jalan memutar, ingin membawa mobil yang mengikutinya itu ke tempat yang lumayan sepi.
Rencananya, ia akan menanyakan apa maksud dari suami mantannya itu mengikutinya.
Namun diluar dugaan, seorang pejalan kaki hampir saja tertabrak olehnya, membuat ia secepat kilat mengendalikan motornya dan saat itu juga mobil suami mantannya itu sudah berada dekat dengannya bahkan seperti menghimpit menghalanginya, dan braakkkk motor sport warna merah milik Yudha tidak terelakan lagi menabrak body samping mobil sedan itu.
Yudha terpental hingga sampai ke pinggir jalan,beberapa detik berlalu setelah itu samar ia dengar banyak orang mendekat kearahnya sebelum akhirnya ia menutup mata tak sadarkan diri.
"Gue udah selidiki semuanya." ucap Jason seolah tau apa yang sedang ia pikirkan.
"Hah," Yudha memalingkan wajahnya, bagaimanapun saat ini mungkin nasib keluarga Sarah sedang dipertaruhkan. "Lakuin aja apa yang mau lo lakuin, dia memang pantas dapet balasannya." ucap Yudha.
__ADS_1
Sisa-sisa cintanya untuk Sarah kini sudah lenyap karena kebencian yang telah ia tanam saat suami Sarah telah berani menyentuh Weni.
"Sayang banget gue udah pensiun, mau nyuruh si Roy tuh aspri lagi menjelajah, gimana yaaa ?" ucap Jason.
"Terserah lo aja, gue pengen dia bertanggung jawab, bukan hanya karena udah buat gue kek gini, tapi karena Weni pernah dilecehin sama itu bajingan, dan dia masih berani muncul dihadapan gue." ucap Yudha, kemarahannya memang sudah terisi penuh saat ini.
"Heemm, baiklah akan gue pikirin !" ucap Jason.
Ia menyeringai, sungguh tangannya sudah gatal ingin segera menorehkan beberapa sayatan pada wajah para bajingan, telinganya sudah rindu akan suara jeritan tangis manusia memohon meminta ampun, ia begitu ingin membuat para pencari masalah berada diambang ketakutan.
Yudha tidak tau saja, bagaimana Jason kalau sudah beraksi, ia hanya tau Jason mungkin akan memberikan sedikit pelajaran pada keluarga Sarah, semacam membuat bangkrut keluarga Sarah dalam sekejap, itu biasanya yang ia ketahui dalam permainan bisnis sebanyak orang menggunakan kekuasaan untuk masalah pribadi.
"Nanti kita buat sedikit perhitungan, sekarang lo jawab jujur, udah sejauh mana hubungan lo sama si Weni ?" tanya Jason.
"Gue nggak tau, sore ini rencananya gue mau ketemuan sama dia di cafe, tapi yah lo liat sendiri keadaan gue sekarang." ucap Yudha, ada sedikit kecewa tersirat dalam nada bicaranya.
"Dia ada disini !" ucap Jason.
"Oh.." singkatnya yang masih dalam kekecewaan, namun seperdetik kemudian, "Siapa ?" kaget Yudha, apa ia tidak salah dengar, maksud Jason ada disini dia siapa ?.
"Weni !" jawab Jason.
"Iya, lagi sama bini gue di Toilet, tau deh ngerumpiin apaan !"
"Son, apa gue kucel banget, muka gue gimana ?" panik Yudha, orang jatuh cinta memang aneh, saatnya penampilan malah lebih penting dari pada kesehatan.
"Heh, penuh luka." dusta Jason menggoda Yudha, padahal tidak ada luka serius di wajah Yudha, hanya ada sedikit tempelan perban di dipelipisnya, namun bukankah itu tidak akan mengurangi kadar ketampanannya.
"Hai gaes," ucap Angga dan Afik bersamaan, mereka datang lagi setelah tadi pergi ke Kantin Rumah Sakit sebentar, "Gimana cebong rasanya abis guling-guling dijalanan ?" tanya Afik.
"Kalau mau tau, ya lo rasain aja sendiri." jawab Yudha.
"Afik bukan cuma mau guling-guling, mau nyium aspal dia." sambung Angga.
"Cocok tuh jomblo buat latian." sambung Jason lagi.
"Oh jadi lo sekarang timnya siapa sih Ga ?" protes Afik karena saat ini Angga nampak tidak sejalan dengannya.
"Gue tim yang menang !" jawab santai Angga.
__ADS_1
"Menang menang, kira perlombaan, heh cebong gimana keadaan lo, mana yang paling sakit ?" tanya Afik lagi.
"Semuanya..." jawab Yudha.
"Yeee semuanya, maruk amat lo semua diborong !" ucap Angga, nampaknya kali ini ia kembali sejalan dengan Afik.
"Ya emang semuanya woy, badan gue rasanya remuk semua." jelas Yudha, ia memang tidak berbohong mengatakan seluruh badannya bagai remuk, wajar saja badannya terasa sakit semua, mengingat ia yang tadi sudah terpental lumayan jauh.
"Ya udah ya udah, lo istirahat, jangan banyak gerak, nanti bakalan segera datang obatnya, mujarap banget malah." ucap Jason sembari mengedipkan matanya pada Yudha.
"Apaan lo Junedi kedap kedip, keremian lo ?" ucap Afik yang melihat gelagat Jason, tidak biasanya si es batu bersikap begitu ramah pikirnya.
"Diem lo, gue lagi seneng." ucap Jason.
"Si es kok ngeri ya kalo lagi seneng" Angga bergidik ngeri, "Kedipan matamu adalah sesuatu." ucap Angga pada Afik, ia mengatakan itu dengan memakai nada lagu Pengalaman Pertama milik A. Rafiq, yang secara langsung mereka tujukan untuk menyindir Jason.
"Oh senyumanmu sulit kumengerti..." sahut Afik menimpali.
"Sehingga membuat, aku ngeri kali..." kali ini Angga lagi, entah mengapa rasanya bisa pas saja saat mereka menyanyikannya dengan plesetan seperti itu, siapa yang menyangka Angga dan Afik ternyata tau lagu dangdut milik penyanyi kondang tersebut.
"Jadi ceritanya si cebong digenitin sama si es." timbal Afik, ia memulai drama bak ibu-ibu komplek sedang bergosip.
"Mereka main kode-kodean." sambung Angga tak kalah serius.
"Hei berdiri mak buku romaku..." timpal Afik lagi sembari bernyanyi, "Sebentar lagi mereka pacaran kali, hii kok ngeri gue."
"Sama !" sahut Angga.
Keduanya menggelar tawa akbar, ah lega rasanya melihat Yudha sudah sadar dan alhamdulillah baik-baik saja, mungkin tingkah mereka bisa jadi sedikit hiburan untuk Yudha.
Jason meraup wajah Angga dengan kasar, bisa-bisanya kedua sahabatnya itu berpikiran gila seperti itu tentangnya dan Yudha.
"Dasar sinting !"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!