
Athar masih mematung tidak percaya, digenggamannya terdapat sebuah kertas hasil tes DNA Fahira.
Hasil menegaskan Fahira 99,9% bukanlah darah dagingnya, ternyata selama ini Riana telah menipunya dengan begitu banyak kebohongan.
Lalu anak siapa ? Apa benar Fahira adalah anak Rendi. Athar kembali mengingat sebuah kenyataan yang ia dapati hari itu, hari dimana ia mulai meragukan kehadiran Fahira dalam hidupnya.
Ia kembali kerumah ibunya, dilihatnya Fahira yang sedang tertidur pulas, ia menyadari gadis kecil itu suci tanpa dosa, namun penghianatan Riana seakan tidak bisa ia terima begitu saja.
Haruskah ia mencari Rendi dan mengatakan semuanya, dan jika Rendi memang ayah biologis bayi perempuan itu, haruskah ia memberikannya pada Rendi, tidak Kakak sulungnya sudah sangat kecewa atas penghianatan suaminya, dengan membawa dan memberikan Fahira pada Rendi itu akan semakin menambah masalah. Batinyya berperang, entah apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Sri bisa kita bicara sebentar ?" ucap Athar pada pengasuh bayinya itu saat ia sudah sampai dirumah.
"Iya Tuan, silahkan"
"Sri, aku ingin bertanya padamu, maaf jika aku melibatkanmu dalam masalah pribadiku, tapi kamu adalah salah satu orang yang paling tau apa saja yang terjadi pada hidupku saat ini, aku hanya ingin bertanya, jika Fahira bukan anak kandungku, menurutmu apa yang harus aku lakukan ?" tanyanya, pernyataan yang berat namun ia lega saat ia bisa mengungkapkan semuanya, walau hanya berbagi dengan pembantunya itu.
"Maksud Tuan, non Fahira bukan anak tuan ?" Sri lumayan shock mendengarnya, berat sekali cobaan yang dihadapi majikannya ini pikirnya.
Athar mengangguk lalu ia menyodorkan hasil tes DNA Fahira pada Sri.
"Menurutmu sekarang saya harus apa, apa kamu punya saran ?" tanya Athar.
__ADS_1
"Eemm saya tidak tau Tuan, mungkin kalau dari saya ya non Fahira tetap bersama tuan saja, mau bagaimanapun bayi sekecil ini murni tanpa dosa, mau dilahirkan atas dasar hubungan seperti apapun dia tidak pernah tau, tapi itu terserah tuan saja, mau bagaimananya kembali pada tuan, tuan yang akan memutuskan" ujar Sri, ia sudah mengeluarkan unek-uneknya, ia justru mengkhawatirkan bayi yang sudah ia rawat sedari lahir itu, entah akan seperti apa nasibnya.
"Ya kau benar, tapi aku tidak yakin bisa menjadi orang tua yang baik, karena melihat kenyataannya yang seperti ini membuat aku semakin membenci ibunya, aku takut menjadi keras hati jika dia dibiarkan bersamaku"
"Lalu bagaimana Tuan ?"
"Sri, menurutmu jika aku menyerahkannya ke panti asuhan, apa aku termasuk orang yang jahat ?" tanya Athar, itu adalah satu-satunya pemikiran yang dianggapnya solusi di sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit tadi.
"Tuan, apa Tuan yakin ?"
"Aku tidak bisa menerimanya Sri, aku takut gagal menjadi orang tuanya nanti karena dia tumbuh dengan hatiku yang penuh benci, bagaimana bisa aku memberikan kasih sayang untuknya jika hatiku saja masih dipenuhi kebencian"
"Terimakasih Sri, kemasi barang-barangnya, aku akan mengantarnya"
"Sekarang Tuan ?" kaget Sri, ia kira perpisahannya pada bayi malang itu akan menunggu beberapa hari kemudian, tapi ternyata tidak. Ingin rasanya Sri merawat Fahira dan hidup berdua saja, namun apa daya ia hanyalah perantau yang baru saja memulai hidupnya di kota penuh persaingan ini, bagaimana ia bisa menghidupi Fahira sedang setelah dari sini saja ia tidak tau bagaimana nasibnya.
Tapi dalam hati kecilnya ia tetap nekat berjanji jika dia sudah ada sedikit uang, ia akan membawa Fahira dan bertekad ingin menjadi ibu dari anak itu, anak yang sudah bagai anak sendiri baginya, karena ialah orang pertama yang mencurahkan kasih sayang untuk gadis kecil malang itu. Fahira gadis kecil yang selalu tertidur didekapannya selama ini, dengan kedua tangan inilah ia memberikan seluruh kasih sayangnya, bagaimana mungkin bisa ia lepaskan begitu saja hanya karena nasibnya yang kurang beruntung.
Mungkin Athar bisa membuang bayi malang itu karena banyaknya penghianatan yang dilakukan oleh ibu si bayi padanya, namun Sri adalah wanita, naluri keibuannya tentu ada meski ia belum menikah, ia tidak akan tega dengan apa yang terjadi pada Fahira kini, baginya bayi malang itu tidak pantas menerima semua itu, Fahira tidak berdosa, bayi mungil itu tidak minta dilahirkan jika ia harus menghadapi cobaan diumurnya yang masih sangat baru seperti itu, sungguh ia menerima Fahira, terlepas dari kesalahan apapun yang pernah dilakukan kedua orang tuanya dimasa dulu.
"Iya"
__ADS_1
"Baik Tuan"
Sambil menangis terisak Sri mengemasi barang-barang Fahira, ia masukan tiga setel baju Fahira kedalam tasnya, baju yang belum sempat ia cuci, bau khas bayi masih tercium semerbak di baju kotor milik anak asuhnya itu. Baju itu akan menjadi penguat rindunya, pada titipan tuhan yang terkasih.
Mulai sekarang aku adalah Ibumu. Ibu janji Ibu akan segera cari pekerjaan supaya nanti kita bisa hidup berdua, kamu jangan rewel yaaa sayang, jangan nyusain orang-orang disana, ibu nggak bakalan sanggup jika denger kabar kalo kamu gak terurus disana, ibu janji secepatnya ibu akan bawa kamu pergi dari sana, ini hanya sementara. Ibu janji sayangnya ibu...
Sri lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Fahira, berharap ikatannya dengan Fahira benar-benar ada, sehingga Fahira bisa merasakan bahwa ia benar-benar tidak rela ini semua terjadi.
Ia lalu mengecup pipi Fahira, mencium lama keningnya, ia pasti akan sangat rindu bayinya ini.
Tunggu Ibu Nak...
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!
__ADS_1