Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Menjenguk Shakira.


__ADS_3

"Sayang, haus!" ucap Shakira.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari saat Shakira terbangun, dirinya melihat Roy yang berbaring di sampingnya.


Segera Roy terbangun dan langsung membuka satu botol air mineral kemasan yang sudah tersedia untuk diberikan pada Shakira.


"Apa ada yang sakit sayang?" tanya Roy.


"Tidak ada, hanya saja punggungku kebas, apa yang terjadi?" tanya Shakira.


"Minumlah dulu, lalu makan, nanti akan aku ceritakan!" pinta Roy.


Shakira tersenyum, dirinya menurut saja.


Setelah minum dan disuapi Roy makan, Shakira mulai menerka-nerka apa yang telah terjadi padanya, hingga dirinya ingat kapan terakhir kali dirinya sadar.


Shakira mengentikan tangan Roy yang mau menyuapinya lagi, dirinya menggeleng.


Lalu wanita itu kembali berbaring, ia memejamkan mata lalu air mata mengalir dengan sendirinya.


"Sayang..." seru Roy.


Dirinya ingin mencegah wanitanya, karena jika baru saja selesai makan tidak baik langsung berbaring, namun niatnya ia urungkan melihat sepertinya Shakira sudah ingat apa yang terjadi padanya.


"Mengapa dia tidak mau tinggal bersamaku, hiks hiks, dia pergi karena kesalahanku!" lirih Shakira.


Roy menggenggam erat tangan istrinya, mengusap lembut pipi yang basah akibat air mata yang tumpah.


"Mungkin bukan waktunya sayang, ikhlaskan ya!" pinta Roy, sesak sekali rasanya saat ia mengatakan itu, meminta Shakira untuk ikhlas sementara dirinya saja belum sepenuhnya bisa mengikhlaskan.


"Aku pernah bermimpi, dia berada di gendonganku, wajahnya mirip denganmu, laki-laki, hiks hiks, aku bahkan membiarkannya pergi sebelum aku tau bahwa aku memilikinya." serak suara Shakira mengatakan itu di sela-sela tangisnya.


Roy bisa apa, dirinya hanya bisa berduka sebagai orang tua yang juga kehilangan anaknya.


"Sayang, ikhlaskan." ucap Roy, membelai rambut Shakira, dan mengecup kening wanitanya itu lama, berharap Shakira bisa mendamaikan hatinya dan juga bisa berdamai dengan apa yang menimpanya.


"Aku tidak tau kalau aku hamil, saat itu aku ingin membuang gelas berisikan minuman racun itu, namun jendelanya sulit sekali dibuka, aku hanya tau Nona Shirleen sudah aman, dan saat aku tengah memikirkan cara bagaimana membuang obat sialan itu tanpa ketahuan, pelayan datang sehingga aku tanpa sadar menenggak habis minuman itu, Roy maafkan aku, aku tidak bermaksud melenyapkannya." ucap Shakira dengan isak tangisnya.


Roy bungkam, tidak dirinya tidak menyalahkan Shakira sama sekali, baginya Shakira sudah bangun dan melewati masa kritisnya saja Roy sudah sangat bersyukur.

__ADS_1


"Jangan salahkan dirimu, ini bukan salahmu sayang, ini semua takdir!"


Shakira bangkit dibantu Roy, dirinya memeluk suaminya itu penuh haru, "Biarkan seperti ini saja, biarkan aku menangis melepaskan kepergiannya, mungkin aku belum pantas menjadi seorang ibu hingga dirinya tidak mau bersamaku, sayang maafin Bunda!" ucap Shakira sembari mengelus perutnya.


Roy teriris, dirinya mencoba tegar untuk luarannya saja namun hatinya terobrak-abrik melihat istrinya meratap seperti itu, dirinya hanya berusaha untuk tetap menjadi sandaran bagi Shakira, kalau dirinya tidak menguatkan siapa yang akan menopang Shakira.


Wanita itu baru saja kehilangan anak di rahimnya, saling berpelukan dan saling menguatkan, itulah yang sepertinya harus mereka lakukan saat ini.


Jason mengetuk pintu, Roy tau itu karena selain Jason siapa lagi yang akan datang dini hari begini.


Ceklek,


Roy menghela nafasnya, Tuan Mudanya datang bersama dengan Nona Mudanya.


"Tuan Muda, ini sudah larut, Nona Muda seharusnya tidur dan beristirahat." ucap Roy.


"Aku ingin melihat keadaan Shakira, siang bukanlah waktu yang tepat, jadi tolong izinkan aku." pinta Shirleen, dirinya sudah sedari tadi ingin menjenguk namun suaminya selalu saja beralasan karena waktu yang belum tepat untuk menjenguk Shakira.


Roy menoleh ke arah Tuan Mudanya, Jason mengangguk mengiyakan.


"Silahkan masuk Nona Muda, Tuan Muda!" ucap Roy mempersilahkan.


"Shakira!" seru Shirleen, dirinya mengambil tangan Shakira dan menggenggam lembut, mengusapnya pelan, memberitahukan keberadaanya.


Shakira menoleh, dirinya menatap Shirleen dengan senyuman.


"Maafkan aku, aku yang terlalu percaya pada orang lain, aku yang tidak mengetahui bahwa dunia bisnis terlalu kejam, aku tidak bisa membantumu, aku tidak bisa menyelamatkannya." ujar Shirleen, dadanya sesak, ya Tuhan bagaimana Shakira bisa tetap tersenyum setelah kehilangan pikir Shirleen.


Padahal nyatanya, Shakira hanya berpura-pura tegar di hadapan Nona Mudanya, karena sudah tertanam di hatinya bahwa kebahagiaan Tuan Muda dan Nona Muda mereka adalah nomor satu, begitu pun Roy.


"Tidak apa, aku sudah ikhlas Nona!" ucap Shakira.


"Kau akan segera mendapatkan penggantinya, jangan menyerah, jangan berkecil hati, kau juga boleh menyayangi anak-anakku seperti anak-anakmu jika kau mau." ucap Shirleen.


"Mereka akan memanggilmu Bunda, iya aku akan ajarkan nanti pada mereka panggilan itu."


"Nona, itu sungguh sebuah kehormatan bagi saya!" ucap Shakira.


"Aku yang berterimakasih padamu, bagiku itu belum seberapa, berbahagialah Shakira, aku bahagia jika kau bahagia." ucap Shirleen lagi.

__ADS_1


Shakira meneteskan air matanya lagi, dirinya terharu, bolehkah ia memeluk Nona Mudanya ini, tetapi masih canggung karena masih dalam pengawasan Bos Jasonnya.


Namun tanpa Shakira duga, Shirleen malah lebih dulu melakukannya, Shirleen sudah memeluknya memberikan kekuatan untuk dirinya supaya tetap kuat menjalani hidup, yah Nona Mudanya seakan tau bahwa dirinya benar-benar rapuh.


"Berbahagialah Shakira, ini cobaan, setelah kau bisa melewatinya nanti pasti ada bahagia yang kau jelang, aku akan berdoa untukmu." ujar Shirleen.


"Tentu Nona Muda!"


Jason dan Roy sedikit menjaga jarak, membiarkan para istri mereka berbincang, Shakira juga butuh teman, meski dalam hidupnya baik Roy maupun Jason tau Shakira tidak memiliki banyak teman. Wanita itu sangat tertutup perihal hidupnya.


"Shakira kuat sekali!" ucap Jason.


"Dia hanya mencoba kuat Tuan Muda, dirinya pernah mengatakan pada saya bahwa Nona Shirleen adalah segalanya baginya." ucap Roy.


"Meski demi Shirleen dia melakukan itu namun setidaknya dirinya bisa mencoba tegar." ucap Jason.


"Saya sangat berharap untuk itu! Ah iya, apa Tuan Muda mau kopi?" tanya Roy.


"Aku akan menemani kalian di sini, ku rasa bukan ide buruk!" Jason mengangguk mengiyakan bahwa dirinya mau kopi.


Roy membuatkan Tuan Mudanya itu kopi, Tuan Mudanya memberikan ruang rawat dengan fasilitas yang hampir sama dengan saat Nona Muda mereka di rawat, sehingga Roy bisa menganggap dirinya sedang berada di rumah.


Namun yang namanya rumah sakit, tetap saja rumah sakit, apa lagi penyebab sakit Shakira yang sangat menghancurkan hatinya, Roy tidak bisa makan dengan baik dan benar meski segala kebutuhan terpenuhi selama di sini.


"Kau tidurlah, biar aku yang jagain Shakira!" ucap Jason.


Roy tidak percaya, tidak! Bagaimana mungkin dirinya membiarkan Tuan Mudanya melakukan itu, tapi kalau di tolak apa Tuan Mudanya tidak tersinggung? Mengingat Tuan Mudanya itu bukanlah seseorang yang suka dibantah.


"Tapi Tuan..."


Bersambung...


*


*


*


Like, coment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2