
Roy menatap tak percaya dengan apa yang kini ia lihat, bagaimana bisa semua kesalahan mengarah padanya, ia bagaikan seorang penghianat dihadapan Tuan Mudanya. Pantas saja Tuan Mudanya menyerangnya seperti itu.
Ia masih belum sadar sepenuhnya, dihadapkan pada kenyataan seperti ini membuat otak jeniusnya tidak berguna sama sekali, Bagaimana bisa segala tuduhan mengarah padanya, sedang ia tak mengetahui apapun.
"Jelaskan..." perintah yang sudah diperintahkan sedari tadi terus menekan pikirannya untuk segera memberikan jawaban yang mungkin lebih tepatnya memberikan sebuah alasan. Yah alasan mengapa ia bisa melakukan ini semua. Ia begitu yakin itu yang ingin Tuan Mudanya dengar dari mulutnya.
Roy sungguh tidak mengetahui, ia ingin mengatakan itu, namun Tuan Mudanya tidak akan menerima alasan yang anggap saja sangat konyol seperti itu untuk kesekian kalinya.
"Royand Zuhrizal, aku bicara padamu, jelaskan atau kau benar mau mati ?" ucap Jason dengan tatapan membunuhnya.
Bendera perang sudah ia kibarkan karena Roy masih tetap bungkam.
Roy begitu bingung, kondisi ini benar-benar akan menjadi akhir hidupnya.
"Ibu, kumohon jika ada berita tentangku setelah aku mati, tolong jangan percaya. aku tidak pernah berhianat..."
Jason mulai mengarahkan tembakan pada kaki Roy, ia masih berharap Roy bisa menjelaskan semuanya. Jelaskan jika memang ia tidak mengetahuinya, katakan segalanya katakan ia tidak terlibat, dan berikan pembelaan yang masuk akal. Namun ternyata lain pula yang ada dipikiran Roy, nyalinya menciut ia tidak mampu menjelaskan kesalah pahaman yang kini menyangkut namanya itu.
"Boomm" sebuah peluru mendarat tepat di celana kerja Roy, namun tidak mengenai kakinya, itu memang sengaja Jason lakukan, bagaimanapun Roy adalah orang yang paling mengetahui kehidupannya, sudah banyak segala yang ia lalui bersama asisten pribadinya itu.
Roy memejamkan matanya, ia takut melihat kenyataan, melihat penyiksaan pada para tawanan-tawanan sebelumnya saja ia tidak kuat, apalagi sekarang harus terjadi padanya.
__ADS_1
Yaaa Tuhan, ampunilah hamba yang sering menemani Tuan Muda menyiksa manusia. Hamba tidak bermaksud ya Tuhan...
"Seharusnya kamu tau, jangan berurusan denganku" ucap Jason lirih.
"Tuan Muda..." Bibir Roy menjadi kelu seketika, ia bingung jika ia mengatakan tidak tau apa-apa sekali lagi, apa Tuan Mudanya bisa mempercayainya.
"Saya tidak melakukannya, tolong percaya, jika dengan membunuh saya membuat Tuan Muda puas hati, silahkan saja... Tapi saya akan tetap mengatakan sampai akhir nafas saya, saya tidak bersalah, saya tidak pernah berhianat Tuan Muda" Roy sudah pasrah, iblis dihadapannya ini tidak ada pawangnya jika sudah mengamuk.
"Membunuhmu, heh..." Jason menyeringai.
"Yaaa aku tau, entah berapa bagian yang kau dapatkan saat bekerja sama dengan rampok itu, apakah gaji dan bonus dariku tidak juga cukup untuk seorang Royand Zuhrizal, hingga kau berniat melindunginya dengan siap aku bunuh, katakan siapa yang menyuruhmu.?"
"Tidak Tuan Muda, saya benar-benar tidak tau"
Roy berusaha meneguk salivanya kelat.
"Kau tau seberapa ahli aku dalam menembak ?" ucap Jason.
Roy mengetahui itu, bahkan sangat mengerti, Tuan Muda Jason begitu mahir dalam olahraga menembak ataupun terjun langsung di dunianya, dunia mafia memang membuat Jason begitu terlatih berkawankan senjata api dan peluru bukanlah hal asing, namun Tuan Mudanya tidak melakukan keahliannya itu, karena jelas saat ini masih ada sedikit kesempatan untuknya.
Jason bingung harus berbuat apa, ia tidak menemukan jawaban apapun walau sudah mengancam Roy sedemikian rupa.
__ADS_1
Ia mengambil pisau dari lemari persenjataannya, mendekat kearah Roy yang tampak sangat ketakutan.
Sebenarnya Roy bisa saja melawan, karena tangan dan kakinya begitu bebas, Roy sama sekali bukan tawanan bagi Jason, Jason membebaskannya untuk kabur atau silahkan melawan namun itu semua tidak Roy lakukan, pengabdiannya pada Tuan Mudanya begitu besar hingga ia begitu menurut, walau sudah mendapat serangan dan ancaman.
"Baiklah mari kita bermain-main"
Dalam hati Roy sudah berteriak jangan sekeras-kerasnya, namun kenyataannya mulut Roy begitu kaku, hingga untuk sekedar protespun ia tidak mampu.
Jason mulai melukai sedikit demi sedikit wajah Roy, darah mengalir dari pipi yang tergores.
Sakit, sebenarnya sangat sakit yang roy rasakan, namun lagi-lagi untuk sekedar menahan tangan Tuan Mudanya saja ia tidak berani, bodohnya ia sama saja seperti terikat, kedua tangan dan kakinya apkir tidak berfungsi.
"Sshhhh" Desah Roy akhirnya lolos juga, ia merasakan sebuah tulisan yang diukir Tuannya diwajahnya, yaaahh ia bisa menebak sebuah kata "Penghianat"
Roy tetap memilih diam, ia membiarkan iblis dihadapannya ini melakukan apapun, jelas saja karena menurutnya Jason bukanlah tandingannya.
Jason melanjutkan aksinya, walau ia ragu, percayalah ia masih berharap Roy menghentikannya dengan menjelaskan apa alasan atau mengapa ia bisa tidak mengetahui kecurangan yang terjadi.
Mengukir lagi sebuah kata, Jason sangat terampil, hingga aksinya berhenti ketika seseorang memanggilnya.
"Jasoooonnn"
__ADS_1
Bersambung...
Like, koment, dan vote.