
Weni kini masaih terperangah akan keterkejutannya, ia tidak menyangka seorang bocah tengil yang sempat diceritakan Shirleen beberapa bulan lalu benar-benar telah menjadi suami sahabatnya itu sekarang.
"Ini gila, benar-benar gila" ungkap Weni, ia masih belum bisa mencerna dengan baik semua yang telah terjadi.
"Gila apanya ?"
"Kamu ngilang gitu aja, aku nyariin beberapa hari ini, aku samperin ke apartemen yang disebelah itu kamu nggak ada, gak ada tanda-tanda kehidupan, spaning aku Len, aku kadang gak tidur mikirin kamu sebenernya dimana, dan tadi apa ? Kamu nelpon kalo kamu udah nikah ? Asem tau nggak" Weni tidak bisa bicara baik-baik, menurutnya Shirleen sudah keterlaluan, ia bahkan mencari-cari Shirleen beberapa hari ini, tapi yang dicari malah kayak gak bersalah kawin gitu aja, mana ia nggak diundang lagi.
"Itu tiba-tiba banget Wen, aku minta maaf deh udah bikin kamu khawatir, eehh tau nggak nanti kita liburan yah di pulau Belitung, sumpah pantainya keren banget tau" Shirleen mencoba mengalihkan pembicaraan, tidak ingin menambah mood sahabat kentalnya itu semakin buruk.
"Jangan ngalihin pembicaraan ya, aku lagi kesel ini"
"Hehe, kan biar kamu gak marah-marah lagi sayangkuh, eehh kamu kapan meritnya, aku udah dua kali aja ini sedang kamu belum juga hahaha" Shirleen tertawa menyebalkan, lagi-lagi ia menggoda sahabatnya itu, membuat Weni langsung mengerucutkan bibirnya.
"Aku mah santuy orangnya, gak banyak bunyi, eh tau-tau nanti kamu udah dapet aja undangannya"
"Hilih, aku tunggu palingan halu doang" sindir Shirleen.
"Halu halu, gini-gini aku banyak yang naksir yaahh, cuma aku aja yang pemilih"
"Aduuhh sahabatku ini, buktiin dong kalau banyak yang naksir"
"Heehh" Weni menghela nafasnya berat, ia kembali lagi ingat sosok Athar, ditengah candaan itu dirinya terdiam, rasa benci yang sudah menyelimuti hatinya, namun mungkinkah rasa cinta juga masih bersemayam disana walau hanya tersisa sedikit saja sehingga ia masih saja teringat pada lelaki bajingan itu.
Dulu dirinya memang terlalu pemilih untuk masalah pendamping, bukan tidak ada laki-laki yang ingin menjalin hubungan serius dengannya, namun bertahun lamanya, dirinya selalu berpatokan pada Athar, sehingga ia menginginkan pasangannya mirip dengan Athar, termasuk bagaimana sikap Athar memperlakukan Shirleen saat itu.
Dan saat mendengar Athar mengkhianati Shirleen, ia benar-benar kecewa, laki-laki yang selalu ia banggakan, laki-laki yang dianggapnya tipe ideal untuk menjadi seorang pasangan malah dengan tega melakukan hal menjijikan seperti itu.
Ia benci, namun mungkinkah juga cinta.
__ADS_1
"Wen, Wen, kamu ngelamunin apaan sih ?" Shirleen mengguncang pelan lengan sahabatnya itu
"Eehh, nggak ngelamunin apaan kok, aku cuma mikir nggak apa lah aku terlambat menikah dari pada terburu menikah malah memilih orang yang salah" ucapnya spontan, membuat Shirleen merasa kena saat ia berucap demikian. Itulah yang terjadi padanya dulu, kebelet nikah taunya malah memilih orang yang tidak tepat untuk diajak bekerja sama membangun rumah tangga seumur hidup.
"Uunncchh sayangkuuhh, iya deh apapun keputusan kamu aku dukung pokoknya, tapi jangan lama-lama juga, ini taun depan bentar lagi kepala tiga, emang kamu mau nanti anak orang udah masuk universitas eehh anak kamu masih TK, dan kamu udah sakit-sakitan lagi asam urat, kolesterol, apalah itu kan gak lucu" Shirleen terus mengoceh, sebenarnya ia sudah tidak sabar melihat sahabatnya itu menikah, baginya apa lagi yang Weni tunggu, cantik, mapan, sempurna, gak mungkin gak ada laki-laki sepadan yang kepincut dengan sahabatnya itu.
"Iyaaa, doain ajah, eehh iya Len, ini rumah si bocah itu ?" ucap Weni, sedari tadi ia memang berniat menanyakan itu, sebuah Mansion super mewah pasti kalau dirupiahkan gak bakalan sanggup ngitungin harganya, ia jadi penasaran seberapa kayanya sih suami sahabatnya ini.
Yang katanya berondong, masih bocah aja udah tajir melintir kek gini, gimana lima enam tahun kedepan, bisa beli dunia kali.
"Iya, eehh aku jadi lupa tau tujuan aku ngajak kamu kerumah ini" Mendengar kata bocah yang Weni ucapkan, Shirleen jadi ingat tujuannya menyuruh Weni datang kerumah.
"Mau ngapain emang , mau bagi duit, sinih gue siap kok nampung"
"Yee bukan kali, serius dong, aku pengen minta tolong ini"
"Sedikit ngadi-ngadi sih, tapi cuma kamu yang bisa nolongin aku, please mau yaaa" mohon Shirleen, padahal tujuannya belum juga ia sebutkan.
"Ya tolong apa dulu nih, kalo menyesatkan yah mana mau aku, aku gak ngikut yaaa"
"Gini nih, tapi kamu jangan ketawa yaaa"
"Iyaaa buruan apaan sih"
"Aku mau minta tolong kamu, eemmm gimana yah ngomongnya"
"Ya mana aku tau, kan kamu yang punya hajat"
"Gini, sebenernya aku..."
__ADS_1
"Buruan Maimunah..." Weni mulai geram, Shirleen terlalu bertele-tele padahal ia sudah sangat penasaran.
"Sebenarnya, kamu ada rekomendasi klinik atau dokter nggak buat merawat **** * ku ini, biar rapet gitu Wen, kami belum malam pertama ini masih ada waktu buat nyenengin suami" Dengan pelan Shirleen berhasil menyampaikan hajatnya.
Gubraakk, seketika Weni ingin nabok Shirleen pake panci, yang kayak gitu ditanyain sama dia, kawin aja belum, ya mana dia tau.
Namun Weni tetap mencoba memberikan jawaban terbaik. Sahabatnya itu sudah banyak menderita, ia akan mencoba untuk membantu sebisanya.
"Gak ada sih, tapi nanti aku coba cariin deh, emangnya kamu kapan mau mulai perawatannya, yang pastinya itu gak instan lho" tanya Weni, sedikit-sedikit ia tau lah teorinya walau belum pernah praktek. Otaknya masih bisa menjangkau bahasan kayak begituan walaupun ia kuliah jurusan bisnis dulunya.
"Bentar lagi aku selesai nifas nih, kamu cari aja dulu nanti secepatnya kamu kabarin aku" ucap Shirleen sumringah, Weni memang bisa diandalkan baginya.
"Lah kok kamu yang ngatur, bukannya aku yang harus bilang gitu, aku coba cari dulu, nanti secepatnya deh aku kabarin kamu, kata-kata itu kan harusnya aku yang ngucapin"
"Ah bodo amat lah, pokoknya kamu harus nolongin aku sebelum malam pertama nih, aku mau pokoknya udah harus ada hasilnya"
"Dih ngelunjak, sana pergi keluar negeri, dijamin rapet shayyy" ucap Weni penuh ejekan, rasanya lucu juga Shirleen yang dulunya gak terlalu suka membicarakan hal intim eeh sekarang malah dengan gak tau malunya menyuruh dirinya mencarikan rekomendasi yang kayak begituan.
Kedua sahabat kental yang sudah lama tak bertemu itu tampak tertawa riang, moment seperti ini sudah jarang sekali mereka temukan, terakhir pertemuan mereka Shirleen selalu saja menampilkan muka murung sebab kegagalan rumah tangganya, Weni bersyukur sahabatnya itu bukan tipe wanita yang mudah depresi jika menghadapi masalah berat, sehingga saat melihat Shirleen tertawa seperti ini ia merasa Shirleen memang layak untuk bahagia.
Kau sudah melewati itu Len, bahagia selalu sayangkuh sahabatku...
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1