
"Gue kesini buat minta nomor rekening lo, sebutin berapa biar keluarga gue gak punya utang lagi sama lo" ketus Yudha.
"Utang ?" tanya Weni.
"Iya utang, tiga juta sembilan ratus ribu rupiah, lo mau gue bayar sekarang apa diikhlasin aja ?"
"Eehh eehh ya di bayar lah, iya aku inget, makasih yaaa udah mau nyariin aku cuma buat bayar hutang" ucap Weni, ia merasa tersentuh karena di zaman kini walaupun orang kaya kadang banyak juga yang tidak ingat dengan hutang, ah menurutnya bukan tidak ingat lebih tepatnya pura-pura lupa.
"Geer aja lo, ini demi akhirat ya, kalau bukan karena itu ngapain juga gue cariin lo, pengen banget di cariin" ujar Yudha, ia sudah membuang muka, entah kenapa rasanya wajah kurang ajarnya itu malah memerah saat ini.
Lah memang demi bayar hutang kan dia nyariin aku, emangnya selain itu adanya demi apa ?
Weni mendengus kesal, ia tidak mengerti mengapa Yudha terlihat selalu cuek padanya. Lagi pula saat ini ia tidak mengira hal lain tujuan Yudha mencarinya, memangnya dia harus ge'er karena alasan apa.
"Udah gue mau pulang, ngapain lo masih disini mau nahan gue ?" bentak Yudha.
Ya salam bocah, yang sebenarnya ge'er itu siapa sih, untuk apa juga aku nahan kamu, kalau mau pulang, ya pulang aja sono sekalian dan jangan balik lagi ke Butik aku.
"Ya sudah, silahkan... Pintu keluarnya ada disana" ucap Weni setengah sabar.
"Lo ngusir gue ?" tanya Yudha melongo.
"Aahh bukan bukan, kan tadi katanya mau pulang, jadi..."
"Ya gak pake di tunjukin juga kali pintu keluarnya, berasa diusir gue, lo ternyata emang gak ada sopan santunnya ya sama tamu, gue juga heran kenapa orang kayak lo bisa di terima kerja di Butik sebesar ini ?" Yudha memotong ucapan Weni, tidak memberi kesempatan Weni untuk membela diri.
Entah kenapa kalau berhadapan dengan Weni bawaannya selalu emosi, meski ia sudah meredamnya, ada yang salah padanya karena biasanya ia yang tidak suka banyak bicara apa lagi dengan seorang wanita, namun entah mengapa ada pengecualian jika wanita itu Weni.
Weni tertunduk karena memang salahnya, ia yang selalu bicara ceplas-ceplos malah tidak sengaja menyinggung perasaan Yudha.
"Kau tau Jason, Tuan Abraham meninggal dunia di nyatakan sakit..."
"Bukan sakit, Opaku dibunuh" sanggah Jason cepat, Tuan Fred kembali mengerjabkan mata tidak percaya, bagaimana Jason bisa tau penyebab kematian Tuannya.
"Jason..." ucapan Tuan Fred tertahan, ia juga bingung harus bagaimana menghadapi Jason yang ternyata tau segalanya, bahkan dirinya belum mempersiapkan diri untuk sebuah rahasia besar ini.
"Kau tidak tertarik menanyakan aku mengetahuinya dari mana ?" tanya Jason.
__ADS_1
"Atau mungkin kau lebih tertarik untuk menyangkalnya" lanjutnya lagi.
"Karena kau sudah tau, aku tidak bisa lagi merahasiakannya darimu. Yah pada akhirnya aku memang akan bertanya dari mana kau tau ?"
"Aku... Heh, aku mengetahuinya darimu ?" jawab Jason.
"Dariku ?"
"Kau mungkin lupa, aku bisa melakukan apapun, yah apapun termasuk mengetahui apa yang ingin kau bicarakan saat ini" ucap Jason, tawanya menggelegar di penjuru ruangan, semakin menambah kesan menakutkan.
Jason benar-benar bukan lagi anak kucing, melainkan monster yang siap menerkam apa saja jika berani membuat masalah dengannya.
Tuan Fred, bergidik ngeri apa benar pikirannya telah terbaca oleh Jason.
Padahal yang sebenarnya, Jason sudah lama mengetahui perihal kematian Opanya, ia tidak sengaja menemukan sebuah bukti rekam medis yang menunjukkan bahwa kematian Opanya sangat tidak wajar.
Ia lalu mencari bukti-bukti lainnya, dan lagi-lagi ia menemukan sesuatu yang saling berkaitan.
Otak geniusnya menangkap keganjalan, saat ia menemukan sebuah racun yang berada tidak jauh letaknya dari tempat dimana ia menemukan rekam medis tersebut.
Ia menemukan itu saat ia berada di rumah Tuan Fred, dan ia merasa Tuan Fred mengetahui sebuah rahasia tentang kematian Opanya.
Ia datang dan menyelinap di rumah Tuan Fred, tuan Fred hanya tinggal berdua dengan Axel, satu kelebihannya di banding Axel, ia bisa membuka apa saja yang terkunci, jadi mudah saja baginya untuk masuk kemanapun di seluruh penjuru ruangan atau pun kamar di rumah tuan Fred.
Setelah lama pencariannya, ia menemukan sebuah ponsel lama, ponsel itu bahkan sudah tidak bisa dinyalakan lagi.
Ia lalu pulang kerumahnya, pencariannya malam ini cukup sampai disini.
Dirumah, karena ia adalah Jason Ares Adrian, hal semacam itu bukan masalah baginya, ia bahkan bisa memperbaiki ponsel yang usang dan rusak tersebut dengan mudah, dan benar saja ponsel tersebut berisi semua bukti kejahatan pelaku pembunuhan Opanya.
Nampaknya ponsel lama itu sengaja dirusak, ia semakin yakin mungkinkah tujuannya untuk menghilangkan bukti.
Ia meneliti isi data dari ponsel itu, isi pesan bertuliskan ancaman tampak begitu banyak memenuhi kontak masuk.
Ia bisa menyimpulkan, ponsel ini adalah milik Opanya, Tuan Abraham.
Dan setelah ia meneliti nomor yang mengancam opanya, ia sudah bisa menyimpulkan siapa dalang dari kematian Tuan Abraham.
__ADS_1
Ia akan kembali ke rumah Tuan Abraham malam besoknya, ia harus memastikan satu hal lagi.
"Bolehkah aku bilang kau juga pembunuh ?" Jason menanyakan suatu hal yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya.
"Aku membunuhnya untuk membalaskan dendam pada dia yang telah membunuh tuanku" ucap lirih tuan Fred, ia mengingat kejadian masa lalu.
"Bahkan kau pernah lebih kejam dariku, bagaimana bisa kau ingin mengarahkanku ke jalan yang benar dengan dalih seorang ayah" sindir Jason.
"Jason, kau punya keluarga, Shirleen, anak-anaknya, ada hati yang harus kau jaga" sanggah Tuan Fred.
"Axel, kau tidak memikirkan Axel ?" serang balik Jason, ia tidak akan kalah jika diajak berdebat.
"Dia bukan anakku, bedanya ia kurawat sedari kecil dan ia taunya aku adalah ayahnya"
"Lalu bagaimana dengan Misca dan Jacob yang juga sedari kecil aku rawat"
"Jason..." Tuan Fred ingin melayangkan protes, namun selalu saja begini, Jason lagi-lagi bisa mengembalikan ucapannya.
"Kau yang sesat sehingga aku mengikuti jalanmu, aku akan berhenti jika kau berhenti" ucap Jason lantang penuh keyakinan.
Ia lebih menganggap Tuan Fred adalah ayahnya dari pada Tuan Adrian, karena kebenciannya pada Adrian yang telah merenggut masa kecilnya sudah tertanam di benaknya.
"Nak..." Tuan Fred tersentuh, bagaimana bisa Jason mengatakan hal semacam itu padanya.
"Aku selalu mengikuti apapun yang kau lakukan, kalau kau tidak siap berhenti maka akupun sama"
"Jason, pikirkan Shirleen, pikirkan anak-anakmu, kau punya keluarga yang sangat menyayangimu, dan kau juga menyayangi mereka kan" ucap Tuan Fred, berhenti dari dunia yang telah memberinya kehidupan, butuh banyak pertimbangan untuk memutuskan berhenti.
"Lalu Axel, apa kau pikir Axel tidak menyangimu, lalu aku ? Dan juga katakan apa kau tidak menyayangi Axel Nickholas ?"
"Kita berada di posisi yang sama, tidak ada bedanya antara aku dan kau Tuan Fred, aku tidak akan memanggilmu ayah karena kita hanya akan menjadi sebatas rekan, rekan di dunia kita" mantap Jason, entah mengapa ia sangat yakin untuk berhenti jika pria paruh baya dihadapannya ini juga memutuskan untuk berhenti.
"Aku..."
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!