
"Aku akan usut tuntas apa yang terjadi, jika sampai terjadi sesuatu pada Athar, kau harus membayar semua yang Athar alami, meski tidak ada saksi kejadian tapi aku bisa pastikan kau akan berakhir di Penjara, aku yakin sekali pasti kau lah yang telah menusuk Athar" ucap Delia, ia begitu yakin karena melihat adanya bercak darah di baju dan tangan Riska, lagipun menurutnya pada Tiara anak kandungnya sendiri saja Riska tega menjual untuk menjadikan anaknya itu ladang uang, lalu bukan tidak mungkin ia melakukan hal buruk pada Athar. Sungguh sebuah kepercayaan sudah lenyap saat Kakak sulungnya itu sudah berapa kali membohonginya.
Saat ia selalu mengirimkan uang untuk biaya berobat ibu mereka namun tidak jua pernah sampai, saat Riska selalu saja meminta uang pada Athar mengatakan kalau dirinya dan kedua kakaknya yang lain tidak pernah andil dalam merawat ibu, ia merasa Riska sudah jauh berbeda, ia benci Riska yang saat ini.
Terlebih saat ia mendapati kenyataan bahwa Riska menjual anak kandungnya sendiri Tiara, baginya Riska bukan lagi kakaknya.
Dan yang lebih membuatnya yakin, saat ia berkata demikian, Riska tetap diam saja, seolah tidak menyangkal apa yang ia tuduhkan, meski tidak ada pengakuan yang terlontar langsung dari mulut Riska.
Athar sudah melewati masa kritisnya, namun karena belum adanya pendonor yang cocok hal itu membuat ia harus tetap waspada, kondisi Athar bisa memburuk kapan saja.
Ia tidak bisa kehilangan Athar, Delia adalah orang yang paling dekat dengan adik bungsu mereka itu.
Suhu badan Misca sudah kembali normal, hanya saja anak gadis Shirleen itu terlihat tidak bersemangat.
"Kenapa sih kakak, kata Bi Ipah kamu nggak mau makan yaaa" tanya Shirleen pada anaknya itu.
"Papa kemana Bun, katanya mau bawa kakak ke rumah Ayah, tapi Papa malah pergi" ucap lesu Misca.
"Papa kan masih ada kerjaan, nanti sebentar lagi Papa pulang" ucap Shirleen.
"Kenapa tidak boleh pergi sama Bi Ipah saja, biasanya juga kakak pergi sama Bi Ipah" protes Misca, karena pesan Bundanya ia masih disuruh menunggu Papanya lagi untuk berangkat kerumah Ayahnya, dan Bi Ipah tidak di perbolehkan mengantarnya, entahlah anak sekecil dirinya kadang tidak mengerti banyak hal tentang alasan.
"Sabar ya sayang, kakak kan juga masih demam, ayo makan dulu, siang ini belum minum obat lho" ucap Shirleen.
Dengan malas Misca makan lalu meminum obatnya yang berbentuk sirup itu, yang jelas saat ini ia rindu Ayahnya.
Sementara Jason, ia harus ke kantor sebentar karena ada sebuah kerja sama yang harus ia tanda tangani, sebuah tender besar sebentar lagi akan diraihnya.
"Apa dia sudah berhenti ?" tanya Jason pada Roy.
"Dia mengatakan terpaksa, tapi sebisanya akan ia lakukan" jawab Roy.
__ADS_1
"Baguslah"
"Roy menurutmu bagaimana ?" tanya Jason lagi.
"Tentang Tuan Muda yang berhenti atau tentang nona kecil" tanya balik Roy, nampaknya setelah berhasil memeluk Jason semalam ia sudah agak sedikit berani.
"Tentang diriku"
"Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Tuan Muda berhenti, Tuan Fred juga sudah memutuskan untuk berhenti, untuk masalah akan kembali atau tidaknya kita tidak bisa berbuat banyak, itu adalah hidupnya, mungkin benar yang ia katakan ia hanya menghibur dirinya dari kesepian, lalu Tuan Muda, Tuan Muda memiliki keluarga yang utuh, Nona Shirleen tidak akan senang jika Tuan Muda masih berkutat di dunia hitam" ucap Roy memberikan saran.
"Heemm, yah kau benar, kadang aku juga memikirkan hal yang sama, istriku, keluargaku, Shirleen pernah bilang ia tidak mau anak-anaknya mengenalku dengan keburukanku"
"Tapi aku harus memastikan ia benar-benar berhenti, dia itu sudah tua, masih saja sok berkuasa" ucap Jason lagi mengumpati Tuan Fred.
Bagaimanapun Tuan Fred adalah bagian dari hidupnya, seseorang yang telah mengisi sebagian hatinya.
"Tuan Muda, anggaplah saya mengatakan ini sebagai seorang kakak yang menasihati adiknya" ucap Roy tiba-tiba.
"Tuan Muda, siapapun istrinya tidak akan mau suaminya masuk kedalam lubang yang hitam, percayalah, Nona Shirleen sebenarnya mengatakan itu bukan hanya perihal soal anak-anaknya semata, namun karena Nona Shirleen sangat mencintai Tuan Muda, mana mungkin Nona Shirleen akan membiarkan Tuan Muda dalam kegelapan terus menerus, bagaimana bisa Nona Shirleen seakan menutup mata dan menulikan telinga jika mengetahui kenyataan bahwa suaminya bukanlah orang yang baik, karena dia menyayangi Tuan Muda dan Nona Shirleen menginginkan keluarga yang ia bangun dengan Tuan Muda baik-baik saja, tanpa ada masalah, hidup harmonis dan bahagia, bukankah memang benar lebih baik Tuan Muda harus berhenti"
Jason mangut-mangut mengerti "Yah, aku bisa apa, karena aku sangat mencintainya kan" ucap tenang Jason.
"Nanti akan ku bicarakan lagi pada Darwin, akan kuserahkan semuanya padanya" Jason menunduk dalam, semoga ia bisa benar-benar meninggalkan dunia hitamnya.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku suruhkan semalam" tanya Jason.
"Sudah Tuan Muda"
"Baiklah, pastikan ia dibenci keluarganya"
"Iya Tuan Muda"
__ADS_1
"Kau pergilah, aku akan pulang cepat, Misca sedang demam, dia mau bertemu ayahnya dan aku sudah janji akan membawanya kerumah Athar" ujar Jason lagi.
"Baik Tuan Muda"
Jason mengambil jasnya, lalu segera keluar dari ruangannya, ia akan pulang dan menepati janjinya pada Misca.
Kasihan sekali anak itu, semoga Athar baik-baik saja.
Roy berbicara sendiri dalam hatinya, melihat kondisi Athar semalam ia juga masih was-was dengan apa yang terjadi.
Apa lagi info terakhir yang ia dengar, Athar belum juga mendapatkan donor darah.
Roy selalu saja begitu, merasa tidak tega sekalipun itu pada musuh Tuan Mudanya, lain halnya dengan Tuan Mudanya yang kejam tak kenal ampun, beruntung saja semenjak menikah dengan Shirleen perlahan sikap Tuan Mudanya itu sedikit bisa dikendalikan, Shirleen bagai seorang pawang dalam hidup Jason.
Memang benar, kasih sayang adalah hal yang paling dominan dalam membentuk pribadi seseorang, meski dulunya ia hidup pas-pasan namun Roy sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang orang tuanya, meski pada akhirnya saat ia SMP ayahnya meninggal dunia, namun karena begitu banyak kenangan baik yang terekam olehnya, begitu banyak nasihat dan kasih sayang yang berlimpah ia dapatkan, ia bisa mengendallikan diri saat berhadapan dengan beragam sifat manusia di kemudian hari.
Pun dengan sang Ibu, selalu membuainya dengan cintai kasih, semuanya lengkap ia dapatkan.
Tuan Muda, saya mengerti, tidak mudah menghadapinya, namun saya yakin Tuan Muda pasti mau berusaha.
Nona Shirleen, terima kasih, terima kasih sudah merubah Tuan Muda, membawanya ke jalan yang benar, sedikit demi sedikit saya sudah bisa melihat cinta dimatanya, ia tidak sekejam dulu.
Roy bisa bernafas lega, ia tidak menyangka dalam beberapa bulan terakhir ini bahkan ia sudah tidak pernah mengunjungi markas mereka.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1