Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Malam Panas yang Gagal.


__ADS_3

"Udah Ma, gak papa"


"Ilen, dia suamimu, jangan terlalu memikirkan anak-anakmu hingga kamu melupakan ada hatinya yang harus kamu jaga" ucap Mama Nena, ia ingin membawa Jacob untuk tidur bersamanya, namun Shirleen anaknya itu seakan tidak mau jauh dari Jacob.


"Mungkin selama ini dia tidak pernah keberatan dengan Jacob dan Misca, dia juga nampak menyayangi anak-anakmu, tapi kalian pasangan baru menikah, mungkin kamu sudah yang kedua kali, menciptakan hal manis berdua bagimu bisa kau anggap sudah biasa, namun bagi Jason ini yang pertama, waktu berdua itu penting sayang, mumpung kalian disini biarlah cucu kami ini bersama kami" lanjutnya lagi.


Shirleen tersentak, apa benar Jason menginginkan waktu berdua dengannya, tapi biasanya juga ada Jacob bersama mereka, dan Jason tidak pernah mengeluhkan itu.


"Baiklah Ma, susunya ada di freezer" ucap Shirleen, ia menuju kamarnya, dilihatnya Jason malah asyik bermain catur bersama papanya, apanya yang menginginkan waktu berdua batinnya.


Ia segera berlalu ke kamarnya, menyelimuti badannya dan mencoba memejamkan mata.


Sementara di teras belakang,


"Bagaimana pernikahan kalian, baik-baik saja kan, apa ilen menyusahkanmu ?" tanya Pak Haris pada mantunya itu sembari bermain catur.


"Tidak Pa, kami bahagia, ah yaaa dan juga dalam waktu dekat ini kami berencana akan mengadakan resepsi pernikahan" jawab Jason.


"Eehh begitu yaaa, wah sebentar lagi berarti kalian tidak perlu merahasiakannya lagi"


"Iya Pa, hanya saja kami belum menentukan tanggalnya, karena rencananya akan diadakan satu atau dua hari setelah perpisahan sekolahku"


"Ohh begitu, skak !" ucap Pak Haris tiba-tiba, rasanya senang sekali karena dari dua kali ronde bermain baru kali ini ia bisa menyerang Jason.


"Waahh serangan ini" Jason berpikir sejenak, lalu ia memindahkan buah caturnya menyerang balik kubu mertuanya "Skak"


"Kamu tuh nggak bisa biarin papa senang kayaknya"


"Its oke kalau papa pengen menang kali ini" ucap Jason, ia bisa saja menyerah untuk memberikan kemenangan pada mertuanya.


"Nggak nggak, jangan dong kalau gitu kan kayaknya terlalu maksa banget" Pak Haris menghindari serangan Jason lagi.


Pelan tapi pasti mata Shirleen mulai terpejam, namun dalam tidur yang menurutnya baru sebentar itu, ia mulai merasakan sebuah tangan kekar memeluknya, sebuah senyuman dengan manisnya seperti meminta sesuatu darinya.


Ia tidak kuasa menolak saat daster yang ia pakai sudah tersingkap sebagian atasnya, ternyata dalam mimpi pun Jason sanggup memenuhi pikirannya.


Bercumbu mesra, sama-sama merasai manisnya benda kenyal itu. Jason selalu saja bisa memenangkan pertarungan meski dalam mimpi sekalipun.


Namun ia mendorong spontan tubuh Jason saat Jason menggigit kecil bibirnya.


"Auw"


Jason terjungkal di lantai karena dorongan Shirleen yang secara tiba-tiba itu cukup keras, ia tidak tau mengapa Shirleen bisa melakukan itu padanya.


"Kenapa sih By, orang lagi asyik juga" ucapnya dongkol.


"Maaf By, maaf aku kira cuma mimpi soalnya, lagian kamu ngapain juga harus gigit gigit segala" jawab Shirleen.


"Ya aku gemas, tau ah pant*tku sampe sakit kan, dasar KDRT" Jason lalu bangkit dan mulai merebahkan dirinya di samping Shirleen, ia berbaring membelakangi istrinya itu.


Ia kesal, karena sedang menikmati malah di dorong sampai terjungkal oleh sang istri, si Jeki pun juga sampai ikut-ikutan menciut di balik celana, mungkin Jeki sudah tidak mood lagi untuk melanjutkan makan malamnya.


"By..." ucap Shirleen sambil mengguncang bahu suaminya pelan, ia benar-benar tidak menyangka sesuatu yang terjadi tadi itu nyata adanya, sumpah ia pikir semua itu hanya mimpi.


Tidak ada jawaban, Jason tetap membelakangi istrinya, papa muda itu sedang ngambek.


"By..."


"Heemm" singkat Jason.

__ADS_1


"Jangan marah dong" bujuk Shirleen.


"Hemmm"


"By..."


"Apa ?"


"Jangan marah"


"Aku nggak marah"


"Ya tapi kamu tidurnya biasanya ngadep aku, kalau nggak marah kenapa kayak gini tidurnya" tanya Shirleen.


"Lagi pengen gini" jawab Jason seadanya.


"By, ayolah kalo nggak marah" rayu Shirleen.


"Apa ?"


"Ngadep aku sinian"


"Aku lagi pengen gini, kamu tidur aja"


"Kamu marah kan" tuding Shirleen.


"Nggak !"


"Heehh, siniii" ucap Shirleen sembari tangannya memaksa membalikan tubuh Jason untuk menghadap dirinya.


Jason menurut, namun tangannya sudah memeluk guling, padahal tidak biasanya karena setiap malam ia tidur selalu memeluk istrinya itu.


"Apa sih By, siniin itu"


"Kalau marah ya bilang, aku kan udah bilang aku nggak sengaja, aku juga udah minta maaf tadi, aku nggak suka lho By kamu ngambek kek gini" ucap Shirleen, ia masih sabar dan jangan sampai ia bertengkar dengan suaminya hanya karena malam panas yang gagal, sangat tidak mengena bukan.


"Aku nggak ngambek By, cuma aku lagi gak mood aja"


"Terus kalo nggak mood kamu bisa diemin aku kek gitu" tanya Shirleen lagi.


"Ya bukan gitu By, iya iya aku yang salah, ya udah yuk tidur lagi aja" bujuk Jason.


Shirleen mengerucutkan bibirnya, ia menggerutu dalam hatinya.


Dasar bocil, ngambekan.


Lalu Shirleen berbaring lagi, Jason sudah menghadap dirinya, sepasang suami istri itu tidur dengan saling berpelukan, meski ada sedikit gangguan teknis tadinya.


"Gimana keadaannya Sri ?" tanya Dareen, saat ini ia akan menggantikan Sri untuk menjaga Fahira setelah tadi ia sempat tidur untuk mengisi staminanya supaya bisa kuat begadang.


"Panasnya sudah turun Mas, tinggal nunggu di periksa dokter saja besok, semoga saja Fahira bisa pulang" jawab Sri.


"Oohh, ya udah lo tidur gih biar gue yang jagain Fahira, lo udah makan kan tadi ?"


"Udah Mas"


"Eemm"


"Mas"

__ADS_1


"Sri"


Keduanya berucap bersamaan.


"Kamu aja duluan"


"Emm Mas, aku mau tanya sesuatu" ucap Sri.


"Apaan ?"


"Eemm, gini, ini kan rumah sakit elite, memangnya tidak apa Fahira dirawat disini ?" tanya Sri, ternyata selama ini hal itu selalu mengganjal di pikirannya.


"Oh itu, lo tenang aja, kita gak perlu bayar di rumah sakit ini, semuanya udah ada yang urus" jawab Dareen.


"Lho kok gitu Mas, siapa ? Bapak yang bayarin ya ?" ucap Sri, ia mengira Pak Safar yang membayar tagihan rumah sakitnya.


"Bukan, temen gue yang kemaren, Jason"


"Jason ?" ucap Sri bingung "Dia kaya banget ya Mas memangnya ?"


"Hah, lo nggak kenal Jason siapa ?"


Sri menggelengkan kepalanya, siapa Jason pikirnya.


"Jason Ares Adrian, lo nggak tau tuh nama" tanya Dareen sekali lagi.


"Enggak Mas"


"Pernah denger nggak ?"


"Enggak Mas"


"Ada juga ternyata orang yang gak kenal Jason, lo kemana aja selama ini, TV suka heboh beritain tuh anak, lo pernah nonton TV nggak sih, emak gue aja doyan sama Jason" heran Dareen.


"Enggak Mas" jawab Sri.


"Maksudnya ? Variatif dikit dong jawabnya, jangan enggak Mas mulu"


"Ya aku nggak pernah nonton TV Mas"


"Demi apa ? TV nangkring di kamar kita dan lo nggak pernah nonton selama ini ?"


"Iya Mas"


"Lo betah gitu ?"


"Iya Mas, memangnya Jason itu siapa sih Mas, orangnya kaya banget gitu, atau dia artis jadi sering nongol di TV"


"Gak usah tau, nanti lo juga tau sendiri"


"Oohh iya Mas kalau gitu" Sri tersenyum kecut "Nah Mas Dareen mau ngomong apa tadi ?"


"Aku..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2