
"Kau dipecat !!!" kata-kata itu bagai tamparan keras bagi Athar, ia sudah tau ia akan kehilangan pekerjaannya, tapi kenapa rasanya sakit sekali, dipecat tanpa pesangon dan menjadi topik perbincangan seisi kantor tidak pernah tebayangkan olehnya, baginya itu adalah pengalaman paling buruk semasa hidupnya.
Belum lagi ia tetap harus kehilangan kedua rumahnya untuk membayar hutang dan ganti rugi ketekoran kas perusahaan akibat ulahnya dan Rudi, yaaa Rudi entah kemana perginya si brengsek itu, Rudi masih menjadi buronan polisi karena kasus ini sudah diserahkan pada pihak yang berwajib, namun ia bersukur karena ia mengakui kesalahannya dan walau terpaksa menyetujui ganti rugi dengan jumlah yang ditentukan, setidaknya ia bisa lolos dan hanya dikenakan status sebagai saksi.
Ia berencana tinggal dirumah orang tuanya untuk sementara waktu, mengingat tentang ibunya, kali ini ia juga tidak tau bagaimana cara membayar biaya perawatan ibunya yang harganya selangit itu, semenjak kakak-kakaknya memutuskan untuk memindahkan ibunya ke rumah sakit elit waktu itu, ia bahkan sudah menghabiskan ratusan juta yang tampak sia-sia karena sampai saat ini Ibunya itu tidak menunjukkan kondisi semakin membaik, bak tidak melakukan apapun semuanya masih sama seolah berjalan ditempat, hanya uangnya saja yang terus mengalir terbuang.
Kalau sudah begini, mungkin tanggungan untuk ibunya harus ia hentikan, ia juga butuh uang untuk hidup, belum lagi kebutuhan Fahira, gaji Sri, siapa yang akan peduli kalau bukan keluar dari kantongnya.
Riska masih memusuhinya, terakhir kali saat ia bertemu dirumah sakit, si sulung itu enggan menatapnya jangankan untuk berbicara seperti biasa, entah apa yang salah pada dirinya seingatnya ia hanya melakukan kesalahan karena telah membuat ibunya jatuh sakit namun bukankah ia sudah mati-matian bertanggung jawab supaya ada kesembuhan untuk ibunya dengan menghabiskan biaya yang tidak sedikit, lalu apa lagi salahnya.
Ia juga mendapat kabar yang sampai saat ini tidak berani ia tanyakan kebenarannya, Riska sisulung keluarganya menggugat cerai suaminya, namun beberapa kali ia melihat Mas Rendi baik-baik saja berbicara dengan kakaknya itu. Yang pasti ia tidak berani menarik kesimpulan sementara rumah tangganya saja tidak terurus.
Ia pulang, menyuruh Sri mengemasi barang-barangnya dan Fahira, ia duduk merebahkan bokongnya yang tampak lelah karena tidak terbiasa berkendara dengan menggunakan sepeda motor.
Perlu diketahui, mobilnya juga sudah ia jual dam uang hasil penjualannya ia rencanakan untuk biaya hidupnya kedepan, lalu ia juga membeli sebuah motor bekas yang masih lumayan bagus untuk membantunya bepergian kemana-mana, setelah ini dipastikan ia pasti akan sibuk mencari kerja dikota yang penuh siksa bagi para pengangguran ini.
__ADS_1
Lain halnya dengan keluarga yang tampak sedang menikmati hidup mereka, memutuskan untuk jauh dari kota dan memulai usaha di sebuah desa, keluarga Pak Jefri tampak bahagia.
Semenjak Lisa sadar dari komanya, Pak Jefri sangat memperlakukan putrinya dengan baik, ia memboyong keluarganya pergi meninggalkan kota dan hidup sederhana didesa, ia memulai lagi bisnisnya dari nol, tidak ada kata terlambat yang terpenting adalah keluarga mereka tetap utuh, bisa tetap berkumpul begini saja ia sudah bersyukur mengingat Lisa yang hampir saja meregang nyawa akibat dari ketidak perduliannya.
Kondisi Lisa semakin membaik, walau ia kini harus duduk di kursi roda karena mengalami patahnya tulang pinggang akibat penganiayaan waktu itu, ia juga tetap harus kontrol terjadwal seminggu sekali di rumah sakit.
Pak Jefri sudah menebus putrinya dari penjara, hal itu seharusnya sudah sejak dulu ia lakukan, lagi-lagi walau terlambat namun ia berjanji ia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti putrinya.
Begitupun Lisa, sungguh ia bahagia walau harus mengorbankan tubuhnya tersakiti, sudah ia bilang sebelumnya, luka pada fisiknya itu tidak sebanding dengan jika harus terasing dari keluarganya sendiri. Itu adalah hal paling menyedihkan baginya.
Jika dibilang jera, mungkin yaaa ia sudah jera, jera memaksakan kehendak, jera melawan orang tuanya, dan jera berurusan dengan pewaris keluarga Adrian itu.
Hanya satu yang ia sesalkan, karena kesalahannya itu ia harus kehilangan sesuatu berharga yang sangat ia jaga selama tujuh belas tahun lamanya, ia menukar yang berharga demi obsesinya yang ternyata menyesatkan.
"Sudahlah sayang, bagaimana pun itu semua sudah terjadi, putri papa sangat cantik, nanti pasti kau akan mendapatkan kebahagiaan, bertobatlah maka Tuhan akan senantiasa merangkul hambanya yang pernah salah jalan" ucap Pak Jefri saat melihat putrinya termenung, ia tau apa yang sedang Lisa rasakan karena tidak bisa dipungkiri, ia pun sama walau sudah menerima dan memaafkan namun rasa kecewa itu masih ada didasar sana.
__ADS_1
"Aku sudah kotor Pa Ma" ucapnya lirih, jika ingat lagi kejadian itu, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Kata siapa ? Anak mama masih sama seperti dulu, hanya saja kadang sebuah kenyataan memang tidak bisa dirubah, meski berat cobalah untuk menerima, Mama dan Papa akan selalu ada, kita akan melewati ini sama-sama, saling menguatkan" Mama Lisa menggenggam erat tangan putrinya.
"Putri Papa pasti kuat" ucap Pak Jefri lagi.
"Terimakasih Pa Ma"
Begitulah hidup, konflik datang silih berganti tergantung bagaimana kita menyikapi,percayalah semua akan baik-baik saja jika kita bisa ikhlas menerima, walau tukarnya kita harus mengorbankan hati yang tidak bisa berbahagia.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!