
"Papa, kok cafe Ayah tutup sih ?"tanya Misca, ia dan Papanya sedang mengunjungi sang Ayah saat ini.
"Nggak tau, coba kita turun dulu" ajak Jason, ia sengaja membawa Misca ke rumah Athar, rasanya ia masih bingung harus bagaimana.
Tok tok tok, Jason mengetuk pintu rumah Ibunya Athar.
Ceklek, seorang pria membukakan pintu.
"Cari siapa ?" tanya pria tersebut.
"Apa ayahku ada dirumah, kenapa cafenya tidak buka ?" tanya Misca tidak sabaran.
"Pak Athar maksudnya yaaa ?" tanya pria itu pada Jason.
"Iya, apa dia ada dirumah ?" tanya Jason lagi.
"Beliau di rumah sakit, beliau sedang sakit"
"Ayah di rumah sakit, Papa apa Ayah sakit seperti Misca tadi ?" tanya Misca polos.
"Emm mungkin iya, lalu bagaimana ?" tanya Jason pada putrinya.
"Apa boleh kita ke rumah sakit juga, Misca mau ketemu Ayah" tanya Misca, membuat Jason tidak tega jika harus mengatakan tidak.
"Ya baiklah, harimu !" ucap Jason.
Lalu Papa dan anak itu langsung menuju ke rumah sakit, sebenarnya pria tersebut pun tidak memberitahukan apa nama rumah sakit tempat Athar dirawat, untung saja Jason hanya sedang bersama Misca saat ini, jadi anak sekecil itu tidak akan mendetil dan merasa curiga.
"Girl, jangan beri tahu Bunda dulu ya, biar Papa yang nanti ngasih taunya" ucap Jason pada Misca saat mereka dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Iya Pa"
Sesampainya di rumah sakit, tidak ada yang berani menatap Misca dengan sinis seperti dulu, bahkan Delia terlihat sudah tersenyum manis pada keponakan yang pernah dibencinya itu.
"Misca pengen masuk Pa" ucap Misca, ia ingin melihat Ayahnya.
"Sayang, Papa kan lagi tidur, kita lihat dari kaca aja ya" ucap Jason.
"Pa..."
__ADS_1
"Heehh" Jason menghela nafasnya pelan.
"Nanti kalau Ayah sudah sembuh, kakak bisa lihat Ayah, bisa ketemu Ayah, kalau orang sakit kan gak boleh banyak ketemu orang, Ayah harus istirahat, kakak kan tadi juga istirahat biar cepat sembuhnya" jelas Jason, Papa baru sepertinya lumayan susah unyuk memberi oengertian pada anak-anak, sepertinya ia harus banyak belajar tentang parenting.
Misca tertunduk, lagi dan lagi Jason merasa tidak tega.
"Sayangnya Papa, kakak kan udah besar, kakak kan anak baik, anak pintar, biarkan Ayah istirahat dulu biar cepat sembuh, tuh lihat Ayah juga masih tidur, jangan dibangunin kan kasihan" Jason masih mencoba membujuk Misca.
"Iya deh Papa, tapi kalau Ayah sudah bangun nanti kita kesini lagi ya" ucap Misca pada akhirnya.
Lalu ia dan Misca pun kembali ke parkiran untuk pulang kerumah.
Sementara pada saat bersamaan, seorang wanita sedang menuju ke ruang tranfusi darah, ia akan mendonorkan darahnya untuk Athar.
"Sayang kamu yakin ?" tanya Mama Lisa pada anaknya, ia merasa keberatan karena Lisa baru saja bisa menjalani hidup normalnya di beberapa bulan ini.
"Yakin Ma, udah lah aku udah yakin banget Ma, aku seneng banget bisa berguna buat orang lain" ucap Lisa.
"Ya sudah, kalau keputusan kamu maunya begitu, Mama hanya bisa berharap ini yang terbaik"
"Makasih ya Ma"
"Iya sayang"
"Sudah ?" tanya Mamanya.
"Sudah Ma, Papa mana Ma ?" tanya Lisa.
"Itu, lagi nelpon katanya ada barang masuk" jawab Mama Lisa.
Lisa menunggu beberapa saat, ia ingin mengatakan sesuatu pada Papanya.
"Yuk..." ucap Pak Jefri saat ia sudah selesai menelpon, ia merasa tugas mereka sudah selesai jadi ia akan mengajak keluarganya pulang.
"Pa..." seru Lisa.
"Kenapa ?" tanya Pak Jefri.
"Apa Papa bisa mendonorkan darah Papa, pasiennya sangat membutuhkan darah, tadi aku dengar ceritanya, pasiennya ternyata korban luka tusuk" jelas Lisa mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
"Lho kok bisa" tanya Pak Jefri.
"Iya Pa, kasihan banget ya, makannya golongan darah kita kan sama, apa papa mau membantu, dia kekurangan banyak darah"
"Hehh" Pak Jefri sekali lagi harus menghembuskan nafasnya berat, ah sudahlah dulu saat Lisa kritis ia pernah berjanji akan menjaga dan selalu membuat hati Lisa senang.
"Baiklah, kalian tunggulah sebentar" ucap Pak Jefri kemudian.
"Terima kasih Pa, Papa terhebat" puji Lisa.
Lalu Pak Jefri pun masuk untuk mendonorkan darahnya, ia memang sedikit tergerak hati untuk menolong pasien yang sedang membutuhkan ini, namun alasan paling utama ialah karena Lisa.
Kalau diingatkan lagi tentang Lisa, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, melihat Lisa pernah koma sangat lama, ia mengabaikan kesehatan Lisa untuk mendonorkan darah, ia tidak boleh egois jika Lisa memintanya untuk mendonorkan darahnya juga itu bukan masalah besar baginya, Lisa sudah cukup menderita, jadi apapun akan ia lakukan untuk anak satu-satunya itu.
"Ma, tadi aku ketemu Jason deh kayaknya, ini kan bukan rumah sakitnya" ucap Lisa, karena ia pernah sangat mengagumi idolanya itu ia nampak begitu mengenal meskipun hanya sekilas melihat Jason.
"Ih ngapain sih ingat-ingat dia, dia udah bahagia sementara kamu, ah sudahlah Mama nggak mau bahas itu lagi" ucap Mama Lisa, diingatkan lagi tentang kejadian yang menimpa keluarganya, bolehkah ia membenci Jason.
"Ma, Lisa sudah ikhlas, dari Jason juga Lisa bisa belajar, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak akan baik" ucap Lisa tenang, saat kita sudah menerima segala yang terjadi, dan tidak lagi melayangkan protes pada dunia, saat itulah dewasa yang sesungguhnya.
"Anak Mama..." ucap mama Lisa, tangabbya dengan lembut sudah membelai pipi putrinya.
Siapa yang menginginkan hidup putrinya hancur, siapa ? Begitupun ia, ia tidak pernah menyangka putrinya yang selalu ia jaga, putrinya yang selalu ia limpahkan kasih sayang, hidupnya sudah hancur karena seorang laki-laki.
Lisa, bagaimana bisa Mama menerima semua yang terjadi, meski ini semua memang salahmu, tapi rasanya balasannya tidak setimpal, kamu terlalu berharga nak.
"Mama jangan menangis" ucap Lisa, ia melihat Mamanya mulai menangis, mengapa rasanya sangat sesak meski mulutnya sudah berapa kali berucap ikhlas.
"Mama hanya memikirkan bagaimana nasibmu sayang" ucap Mama Lisa.
"Ma, tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, lihatlah aku sudah sangat sehat saat ini" ucap Lisa seolah sangat berbahagia.
"Hiks hiks" Mama Lisa tak kuasa membendung tangisnya, ia segera memeluk putrinya itu, kesedihannya meluap, ah tidak tidak mengapa ini semua harus terjadi pada putrinya, mengapa harus terjadi pada keluarganya.
Bukan hanya kesehatanmu sayang, bagaimana bisa Mama menerima semua ini dengan mudah, entah bagaimana nasibmu nanti, siapa yang akan menerimamu apa adanya, sebagai seorang wanita kamu sudah hancur sayang, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya, semoga kamu benar selalu bahagia.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!