
Athar masih terduduk dilantai diruangan rawat istrinya, ia baru saja mendengar seluruh pengakuan tentang ibu dan wanita yang kini berstatus istrinya itu.
Tidak ada yang kurang dalam hidup Shirleen, ia begitu sempurna, entah setan apa yang merasukinya hingga ia tega menghianati jalin kasih rumah tangganya saat itu.
Lagi pula saat ini ia masih belum percaya sepenuhnya bahwa anak yang dikandung Shirleen adalah anak laki-laki waktu itu, Ia tidak semudah itu percaya Shirleen bisa menghianatinya.
Namun ia tidak bisa juga menganggap bahwa itu adalah anaknya, ia ingat betul saat itu Shirleen mengatakan ia sedang merah dimana kala itu Athar ingin mengarungi surga dunia miliknya. Sekelebat keraguan masih bersarang dibenaknya.
Ia nemandang kearah Riana, istrinya itu baru saja tertidur karena pengaruh obat penenang setelah apa yang ia katakan, Riana terus saja meracau, meminta maaf pada Shirleen karena telah merebutnya, sesekali tertawa bangga dengan pencapaiannya sebagai pelakor. Riana juga mengutuk Ibunya yang ternyata adalah dalang dari segalanya.
Istrinya itu sudah ditahap gila, keputusan dokter sudah ia terima.
Lalu ia melihat kearah Sri yang saat ini sedang menggendong putrinya, ia ingat lagi dengan Misca gadis kecilnya yang tak pernah ia kunjungi dari semenjak saat terakhir Shirleen meninggalkan rumah. Rindu, itu yang ia rasakan. Ia terlalu terlena dengan hidup barunya.
Digendongnya putri hasil buah cintanya dengan Riana, bayinya nampak kurus karena lahir belum cukup bulan. Bayi mungil ini tidak berdosa, mengapa harus berpisah dengan ibunya sekecil ini, membuat ia mengingat kembali pertemuannya dengan Riana.
Saat itu ia menemukan Riana disebuah hotel tempat ia menginap saat dinas luar kotanya.
Menangis tersedu diloby hotel mengatakan bahwa ia tidak bisa pulang ke bandung, karena bis rombongannya yang sudah pergi.
Athar yang tak tega pun membawa Riana masuk kedalam hotel, dan memesankan kamar lainnya untuk Riana tanpa perasaan curiga sedikitpun.
__ADS_1
Namun Riana yang waktu itu mengetuk pintu kamarnya, telah membuat Athar gelap mata, Riana begitu hot baginya dengan penampilan dan riasan bak bintang club malam.
dengan sedikit bujuk rayu, iman Athar yang hanya seujung kuku pun mudah saja runtuh, ia melupakan bahwa ada wanita yang sangat ia cintai sedang menunggunya dirumah.
Dan terjadilah cinta satu malam yang membuatnya harus bertanggung jawab menikahi Riana, karena pihak hotel mengrebeknya yang saat itu curiga ia dan Riana tidur satu kamar. Ia begitu malu, dan besoknya ia menikahi Riana secara sirih tanpa menanyakan persetujuan istri sahnya dirumah.
Ia juga ingat, Ibunya juga hadir saat itu, padahal perjalanan Jakarta ke Kalimantan membutuhkan waktu tidak sesingkat itu karena ia mengabari Ibunya saat pagi hari dimana hari pernikahannya sebentar lagi berlangsung. Benarkah yang diucapkan Riana, ini semua sudah disetting sedemikian rupa, dan mengapa ia baru menyadarinya.
Ah nasi sudah menjadi bubur, kini gadis mungil yang ia beri nama Fahira itu akan menjadi penguatnya, Riana harus diobati disini dulu, setelah sembuh ia akan dikirim kerumah sakit jiwa di Indonesia, Athar harus melakukannya ini demi kebaikkan anaknya, dan selalu berharap Riana akan segera sembuh karena hutang penjelasan yang begitu banyak ingin ia tanyakan.
Pun juga rasa kemanusiaan yang harus membuatnya iba dengan kondisi wanita yang ia sebut istrinya itu.
"Kamu masih punya Ayah nak" bisik Athar ditelinga Fahira, ia harus kuat.
"Kau tidak ingin merawat dia"
"Kau harus sembuh"
Athar juga sudah ketularan gila nampaknya, perasaan marah namun masih diimbangi kesedihan membuatnya sedikit meneriaki Riana yang masih terbaring lemah.
"Sri, kamu ikut saya saja pulang ke Indonesia, biar kamu rawat Fahira dirumah saja" ucap Athar pada Sri.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Besoknya Athar pergi tanpa pamit pada istrinya, sejujurnya ada sedikit kebencian tertoreh dalam hati kecilnya, ia hanya menitipkan istrinya itu pada Inem saat bertemu di dekat pintu ruangan Riana tanpa masuk kedalam. Sri juga berpamitan pada Inem, karena ia harus ikut majikannya pulang merawat Fahira.
Baiklah, rencana selanjutnya bisa kita mulai lebih cepat.
Seringai lolos dari bibir cantik wanita yang bernama asli Shakira itu, kepergian Athar baginya adalah hal yang menguntungkan.
Sebenarnya ia sungguh ingin menyuntik mati Riana, ia sudah tidak tahan tiap hari harus mencemari hidungnya dengan bau busuk koreng Riana yang menyeruak, namun ia masih mau hidup tenang dan mencoba bersabar menunggu perintah tuan mudanya, bayang bayang Roy juga kadang sengaja ia ingat ingat, karena jika tidak begitu, ia tidak akan bertahan dengan penderitaan ini sampai hari ini.
Ia akan menelpon gebetan berstatus bosnya itu, kini ia siap menerima perintah selanjutnya.
Bersambung...
*
*
*
***Hai readers, jangan lupa like, koment. kasih hadiah dan vote untuk selalu dukung karya ini yaaa.
__ADS_1
Happy reading*** !!!