
Hari ini Athar akan mulai merintis usahanya, membuka kedai kecil-kecilan di halaman rumah ibunya, berbagai aneka minuman dan makanan kekinian tersedia di kedainya dengan harga murah meriah.
Pernah bekerja diperusahaan yang lumayan besar membuat ia terlatih dalam segi mengemas dan memasarkan produk.
Ia melihat kakak sulungnya baru saja kembali kerumah dengan mata yang agak sembab, ada sedikit keresahan dalam dirinya, namun ia tidak berani menanyakan apa yang telah terjadi.
Riska sedang mengamuk di kamarnya, harapannya tidak sesuai kenyataan, pada akhirnya karena ia yang tetap mempertahankan pendiriannya, Rendi memang sudah menerima apa yang telah menjadi keputusannya, namun Rendi mengatakan akan mengambil Tiara darinya, dan saat dipersidangan tadi ketika ditanyai perihal hak asuh, entah bagaimana bisa Tiara anaknya sendiri lebih memilih hidup bersama seseorang yang akan menjadi mantan suaminya itu, yah Tiara malah lebih memliih untuk tinggal bersama Rendi.
Ia tidak bisa menerima itu, ialah yang paling tersakiti saat ini, namun kenapa anaknya malah tidak menginginkan hidup bersamanya.
Lain halnya dengan Tiara, gadis kecil yang masih duduk di bangku SMP itu tampak murung akibat perceraian orang tuanya.
Ia sedang bersama Papanya saat ini, karena tadi Riska mamanya itu memarahinya habis-habisan saat diparkiran pengadilan agama.
"Tiara sayang, papa mau tanya sesuatu boleh ?" tanya Rendi, ia juga cukup kaget dengan keputusan anaknya yang memilihnya untuk hidup dengannya setelah ia dan Riska bercerai nanti.
"Iya Pa"
"Ara kenapa milih hidup sama Papa, padahal Ara kan sangat sayang sama Mama, Papa tidak apa kalau Tiara memilih Mama ?" tanya Rendi, tubuhnya bergetar menanyakan itu, memandangi wajah buah hatinya itu, sungguh demi apapun Tiara tidak seharusnya menanggung buah dari kesalahannya.
"Ara..."
"Katakan sayang, Papa disini, Papa akan selalu mendengarkan keluh kesahmu"
"Ara harus pilih papa" ucap Tiara sambil terisak, ia kembali menangis mengenang kedua orang tuanya yang sebentar lagi akan berpisah.
Rendi memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang, ia tau saat ini Tiara membutuhkan sebuah pelukan.
"Pa, kalau Ara milih tinggal dengan Mama, Ara mungkin nggak akan bisa lagi ketemu dengan Papa tapi kalau Ara milih Papa, Ara masih bisa ketemu Mama, karena Ara tau Papa nggak bakalan ngelarang Ara ketemu Mama nanti" ucap Ara sambil menangis.
Hati Rendi tersayat, inilah akhirnya, ia belum resmi berpisah dari Riska, namun anaknya sudah menjadi korban saat ini.
Maafkan Papa nak... Maafkan Papa Ara.
"Iya nak, kapanpun Ara mau ketemu Mama nanti, Papa akan anterin, janji" ucap Rendi.
"Janji yah Pa"
"Janji sayang"
Jason sudah pulang sekolah, ia langsung pergi ke kantornya karena ingin menemui seseorang.
"Tuan Rasya, hahahaha kau sepertinya lebih tampan dengan wajah barumu itu" ucap Jason pada seseorang yang tengah tertunduk tidak berani menatapnya.
"Roy, tempatkan dia di posisi manager cafe, aku ingin ia mengelola cafeku di Jogja, jauhkan ia dari orang-orang yang mengenalnya meski dengan wajah seperti itu menurutku tidak akan ada yang mengenalinya" ucap Jason, sebisa mungkin ia menepati janjinya untuk menjamin hidup Rudi.
__ADS_1
Yah Rudi yang baru saja berganti identitas dengan nama Rasya Aditya.
"Baik Tuan Muda"
"Pergilah" ucap Jason menyuruh pergi Rudi.
"Apa jadwalku hari ini Roy ?" tanyanya kemudian pada Roy.
"Kita akan menjamu tuan Revan di cafe Jash sore ini, saya sudah menyiapkan segalanya Tuan Muda"
"Hemmm"
"Lalu, sebenarnya nanti malam ada undangan makan malam untuk tuan muda dan nona muda, tapi berhubung nona Shirleen tidak akan bisa hadir mendampingi Tuan Muda, jadi tawaran itu langsung saja saya tolak karena Tuan Muda pasti ingin makan malam dirumah pastinya" ucap Roy dengan level waspada.
"Heemm"
Jason mengangguk mengerti, Roy memang paling bisa diandalkan.
"Bagaimana itu si Athar ?" tanya Jason.
"Menurut pengintaian Rasya, ia terakhir kali bekerja di sebuah yayasan, ia bekerja sebagai petugas kebersihan"
"Hahaha, apa dia terlihat sudah sangat menderita, apa dia terlihat sangat menyedihkan ?"
"Kau mengasihaninya ?" tanya Jason sinis.
"Tidak Tuan Muda, dia bisa lebih menderita lagi" ucap Roy, sebuah kesalahan jika ia membela musuh tuan mudanya, sekalipun sang musuh sudah terlihat sangat menderita.
"Apa kau ingin menyudahinya ?"
"Tidak Tuan Muda"
"Kau yang meminta yaaa bukan aku, jika kau maunya begitu aku bisa apa, mari silahkan lakukan" ucap Jason lagi.
Roy serba salah, ingin menentang tapi tatapan tuan mudanya saja tidak mampu ia lawan.
Dan apa lagi tadi, Tuan Mudanya membuat seolah-olah ia yang sangat ingin menyiksa Athar, keadaan macam apa ini ? Roy sudah berhasil dijebak karena kata-katanya sendiri.
Kau yang meminta yaaa bukan aku, heh memangnya kapan aku setuju dengan permainanmu ini Tuan Muda.
Hei Tuan Penguasa, yang sebenarnya itu kalau kau sudah menatapku seperti itu, aku bisa apa ?
"Iya Tuan Muda"
"Hahahaha" Jason tertawa bak iblis, ia suka sekali mempermainkan asisten pribadinya itu.
__ADS_1
"Siapkan segalanya, sebentar lagi kita ke cafe Jash kan" ucap Jason, ditatapnya Roy yang seakan meresahkan sesuatu.
"Hei tidak usah terlalu dipikirkan, biarlah mengalir seperti air, aku peringatkan jangan terlalu kejam jadi manusia" lanjutnya lagi.
"Iya Tuan Muda"
Sementara di sebuah komplek perumahan padat penduduk.
"Ngapain lo masih disini ?"
"Maaf Tuan, tapi saya belum menemukan kontrakan untuk saya tinggali dengan anak saya, jika nanti saya sudah menemukannya pasti saya akan langsung pergi dari sini" Sri menahan kesal, seumur hidup ia tidak pernah dibentak-bentak seperti itu.
Walau keluarganya miskin, namun keluarganya begitu hangat, ia selalu diperlakukan baik oleh simbok dan bapaknya dikampung.
Dareen melenggang pergi saat ia baru saja pulang sekolah namun dilihatnya Sri masih juga ada dirumahnya.
"Gue harus cepetan cari kontrakan tu buat si Sri, biar dia cepet minggat dari rumah gue"
Dareen kemudian melajukan motor maticnya bergegas mencarikan Sri kontrakan. Entah apa yang membuatnya terlalu membenci Sri, hanya karena Sri janda dan punya anak, lalu kenapa ia harus merasa tidak suka, padahal Sri sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan padanya ataupun hal buruk selama dirumahnya.
"Ya Tuhan, lindungilah hamba dimanapun hamba berada, lindungilah kami, berikanlah kehidupan yang layak untuk kami berdua ditengah kota yang penuh kekejaman ini" ucap Sri sembari menengadahkan tangan berdoa pada sang khaliq.
"Sri, kamu lagi apa ?" ucap bu Halima yang tiba-tiba mengagetkan Sri saat sedang melamunkan nasibnya.
"Eeh tidak sedang apa bu, bagaimana apa Bapak sudah datang ?" tanya Sri, ia sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baik dari Pak Safar sepulang dari mencarikannya kontrakan.
"Eemm begini, yuk kita ke ruang tamu dulu, ada yang ingin Bapak sampaikan" ucap Bu Halima mengajak Sri karena suaminya ingin membicarakan sesuatu.
"Aah iya Bu ayo, sebentar saya taruh botol susu Fahira ke dapur dulu"
"Iya Ibu tunggu diruang tamu yaaa"
"Iya Bu"
Sesampainya diruang tamu, Pak Safar sudah mengembangkan senyum melihat Sri. Ia punya sebuah rencana supaya Sri mendapatkan hidup yang lebih baik.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!
__ADS_1