Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Surat


__ADS_3

Ting tong ting tong


"Permisi, pos..." Suara tukang pos mengantarkan surat kerumah Julian.


Bu Nena, yang saat ini sedang berada ditaman belakang mengurus tanamannya pun samar-samar mendengar seperti ada orang diluar rumahnya, ia pun mencuci tangannya yang kotor karena sedang berkebun saat ini.


Ia memanggil pembantu dirumahnya untuk membukakan pintu.


"Sekar, diluar kayaknya ada tamu, tolong bukain sebentar ya, Ibu mau bersih-bersih dulu" suruh Bu Nena kepada Sekar pembantunya.


"Baik Bu" Sekar pun langsung pergi keluar untuk membukakan pintu.


Ternyata tukang pos, sekar pun lalu menanda tangani surat yang dikirimkan untuk keluarga Julian tersebut.


Ia bertemu majikannya di ruang tamu.


"Lho Sekar, tamunya mana ?" Tanya Bu Nena.

__ADS_1


"Eh gak ada Bu, tadi cuma tukang Pos, nganterin ini" Sekar memberikan surat yang ditujukan untuk keluarga Julian tersebut kepada Bu Nena.


Bu Nena pun mengambil surat tersebut, namun ia tersentak melihat nama si pengirim. ia tidak bisa menyembunyikan bahagia dalam dirinya mengetahui surat itu dari anak semata wayangnya... padahal ia belum melihat isi suratnya.


"Sekar, ini surat dari Ilen Sekar, Ilen ngirim ini" Bu Nena berkata dengan bahagia kepada pembantunya.


"Iya Bu, itu surat dari non Ilen, Sekar juga tadi terkejut, namun seneng juga akhirnya non Ilen mau ngabarin kita disini" Sekar pun ikut merasa bahagia.


"Sini sekar, sini duduk kita baca sama-sama yah" Bu Nena menyuruh pembantunya duduk disampingnya.


Lalu mereka berdua membuka surat itu dan mulai membacanya, tangis dari Bu Nena dan Sekar tidak bisa lagi dihindari, keduanya tidak menyangka setelah enam tahun Shirleen memberikan kabar pada mereka, Shirleen malah memberikan kabar yang begitu sakit.


Bu Nena pergi diantar supir pribadi keluarga Julian, begitu sampai di kantor ia langsung menemui suaminya diruangannya. Ia begitu terburu-buru sampai lupa untuk mengetuk pintu, ia langsung masuk begitu saja karena kecemasan sudah menyelimuti pikirannya.


Suaminya, Pak Haris sedang bertemu dengan kolega bisnis diruangannya pun terkejut melihat kedatangan istrinya yang secara tiba-tiba. Ia sedikit merasa tidak nyaman atas tindakan istrinya itu, namun ia dapat melihat raut kekhawatiran pada istrinya.


Ia mengisyaratkan istrinya untuk menunggu sebentar di kamar pada ruangan kerjanya sembari beristirahat. Lalu ia meminta maaf pada kolega bisnisnya karena harus menyudahi pertemuannya.

__ADS_1


Ia mengantar tamunya itu sampai ke pintu keluar ruangannya, lalu ia menemui istrinya yang sedang beristirahat dikamar. Nampaknya istrinya itu tengah menangis.


Haris mendekati istrinya itu, ia mencoba menenangkan istrinya, dan bertanya apa yang telah terjadi.


"Ada apa Ma, kenapa mama bisa seperti ini..." Tanya Pak Haris


"Pa, hiks kiks Ilen Pa, telah terjadi sesuatu dengan Ilen Pa..." Bu Nana menjelaskan dengan raut wajah yang begitu khawatir.


"Ilen kenapa Ma, bukannya ia baik-baik saja dengan suaminya" Pak Haris mulai gelisah


"Ini, Shirleen mengirimkan ini lewat pos, anak kita telah menyesal Pa, itu berarti pasti sudah terjadi sesuatu dengan Shirleen" Bu Nana lalu memberikan surat yang dikirim Shirleen untuk keluarga Julian.


Pak Haris langsung membuka surat yang diberikan istrinya itu, ia membacanya dan bulir air matanya menetes, ini lah penyesalan orang tua terhadap seorang anak yang dicintainya, ia sangat menyesal merasa gagal menyelamatkan anak semata wayangnya, sungguh apa yang ia takutkan enam tahun lalu kini telah terjadi.


Ia pun terduduk lemas, tenggorokannya serasa tercekat, ia tidak akan memaafkan apa yang telah terjadi dengan putrinya.


"Ayah juga rindu nak, bahkan sangat merindu..." Batin Pak Haris

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2