Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jangan menanyakan hal yang sama berulang kali.


__ADS_3

"Ma..."


Riska nampak begitu senang melihat Tiara benar-benar mengunjunginya, ternyata Rendi tidak ingkar, hari ini dirinya bisa melihat anaknya itu.


"Sayang!" ucap Riska penuh haru. Ia memeluk Tiara dan langsung saja menciumi anak gadisnya itu.


"Tiara sayang, maafin Mama ya, maafin semua kesalahan Mama, maaf untuk semua yang pernah Mama lakuin sama kamu." ucap Riska, ia menggenggam lembut jemari putrinya.


"Ma, Tiara sudah maafin Mama, Mama jangan sedih lagi yaaa, Mama kuat, Mama hebat, kita pasti bisa kumpul lagi seperti dulu." ucap Tiara.


Rendi nampak terdiam mendengar perkataan Tiara, mungkin dirinya bisa sama-sama membesarkan Tiara dengan Riska meski mereka telah berpisah sekalipun, tapi untuk kembali merajut kasih bersama, mungkin tidak baginya, rasa cinta yang masih ia simpan untuk Riska biarlah ia tutup rapat saja, ia sudah terlanjur kecewa, meski kesalahan pertama berasal darinya namun baginya Riska lebih lebih bersalah, dalam keadaan terdesak pun kalau dirinya menjadi seorang ibu, ia tidak akan tega menjual putri kandung sendiri.


"Iya sayang, Mama nggak sedih lagi, Mama udah bisa ketemu kamu, itu udah cukup bagi Mama, Tiara baik-baik yah sama Nyai disana, sekolah yang rajin, Mama disini selalu mendoakan supaya Tiara menjadi anak hebat, kesayangan Mama dan Papa." ucap Riska.


"Mas, aku titip Ara yah, sekali lagi maafin aku." lanjutnya lagi bicara pada mantan suaminya.


"Kamu baik-baik disini, semoga dengan kamu menjalani hukuman ini kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku berharap untuk itu." ucap Rendi.


"Aku akan jaga Tiara, dia akan baik-baik saja, tidak usah memikirkan dia, nanti saat liburan semester Tiara bisa mengunjungimu lagi disini." lanjut Rendi.


"Makasih Mas, makasih karena tidak membenciku." ucap Riska, hatinya teriris kala mengucapkan itu, beberapa hari di penjara ia semakin yakin bahwa dirinya sebenarnya masih mempunyai perasaan pada sang mantan suami, hanya saja mungkin waktu kemarin-kemarinnya ia terbawa emosi dan sulit mengendalikan diri, hingga ia tidak bisa berpikir jernih.


Jujur saja, penjara membuatnya menjadi lebih tenang, ia siap menanggung segala kesalahannya, ia tidak membenci keadaan, sungguh ia sudah berdamai dengan hatinya.


Rendi mengusap bahu Riska untuk memberikan semangat, mungkin jodoh mereka sudah berakhir hingga mereka bisa berpisah dengan cara seperti ini, Rendi tidak akan melupakan kenangan manisnya dengan Riska, namun bukan berarti mereka harus mengulanginya, ia menghargai Riska dan selamanya akan tetap begitu.

__ADS_1


Sementara di sebuah rumah sederhana, pagi sekali Weni nampak menjerit kala mendapati sebuah berita bahwa istri Jason Ares Adrian tengah di rawat di rumah sakit, tidak ada kabar lebih lanjut mengenai sakit yang seperti apa, namun yang jelas Shirleen sedang sakit dan ia tidak tau.


Gegas ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia harus segera ke rumah sakit untuk memastikan apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu.


"Bu, apa Ibu mau ikut, katanya Ilen sakit dan sedang di rawat inap?" ucap Weni pada Ibunya.


"Lho kok bisa, dari mana kamu tau?" tanya Ibunya Weni.


"Ada pemberitaan di sosmed, ibu liat berita gosip nggak pagi ini?" tanya Weni balik.


"Belum sih, ibu cuma nonton Mama Dedeh tadi, habis itu ibu matiin soalnya kalau udah nonton gosip suka keasikan." jawab Ibunya Weni.


"Ya sudah mau ikut nggak?" tanya Weni lagi.


"Sebentar, Ibu jilbaban dulu."


"Iya iya!"


Weni dan Ibunya langsung saja meluncur le rumah sakit, mereka sudah sangat khawatir.


Pun dengan Angga ataupun Afik, kedua sahabat Jason itu tampak tidak percaya dengan berita yang baru saja mencuat di sosial media, karena bagi mereka Jason tidak mengabari mereka apapun, Angga dan Afik pun lalu janjian untuk bertemu di rumah sakit, mereka akan menjenguk istrinya Junedi mereka.


Jason membersihkan tubuh istrinya, ia dengan senang hati merawat Shirleen, kondisi Shirleen sudah semakin membaik, tubuhnya sudah bisa relaks dan digerakkan dengan mudah, mungkin karena makanan dan obat yang diberikan ia sudah kembali bertenaga meski tidak sepenuhnya.


"Saat aku menua duluan nanti kau masih akan merawatku juga kan?" tanya Shirleen saat Jason mengelap tubuhnya.

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa sih, aku sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulutmu ini By!" ucap Shirleen, Jason mulai protes karena Shirleen acap kali menanyakan pertanyaan serupa.


Entahlah, mungkin menurut Jason Shirleen terlalu takut akan suatu hal, pernah gagal dalam berumah tangga karena dikhianati serta hadirnya orang ketiga membuat Shirleen sering kali bersikap.seolah meragukannya, ia mengerti itu namun jika pertanyaan yang sama selalu saja ditanyakan, Jason jiga bisa marah dan protes.


Shirleen tampak tertunduk, tidak ia tidak bermaksud, melihat Jason memperlakukannya dengan begitu baik, mulutnya refleks sendiri menanyakan itu, kalau bisa ditarik kata-katanya tadi, ia tidak akan menanyakan itu, karena sejatinya ia sudah tau apa jawabannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, mendapatkannya saja begitu sulit seenaknya saja meninggalkanmu." ucap Jason.


"Jangan tanyakan itu lagi By, lawan ketakutan itu, sifat orang berbeda-beda, jangan pernah samakan aku dengan mantan suamimu." ucap Jason, ia juga tanpa sengaja mengatakan itu, sudahlah ia sedang kesal saat ini.


Sementara Shirleen, ia semakin merasa bersalah karena ternyata Jason tau apa yang sedang ia pikirkan.


"Maafkan aku By!" lirih Shirleen.


"Sudahlah tidak perlu minta maaf, aku mengerti, dan lain kali jangan menanyakan hal yang sama berulang kali, meski dengan kalimat yang berbeda namun pertanyaanmu tetap bermaksud sama By, aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan aku mencintaimu, namun menjawab pertanyaanmu tadi berulang kali sungguh ada kalanya aku muak, karena sebenarnya masih ada ragu di hatimu sehingga kau bagai orang yang tidak percaya padaku." ucap Jason.


"Aku tidak bermaksud By, bukan maksudku begitu, sungguh!" mohon Shirleen.


"Sudahlah aku tidak apa, jangan terlalu di pikirkan, tugasmu cukup mencintaiku saja itu sudah cukup bagiku." ucap Jason, ia mengecup singkat pipi istrinya.


Jason menuju sofa, disana ia akan bekerja, jadwal serta berkas yang dikirimkan Roy via email harus ia periksa satu persatu, ia tidak perlu lagi khawatir bagaimana pekerjaan di kantor, Roy sudah kembali ia yakin Roy bisa mengatasi semuanya.


Matanya menyipit sedikit kala melihat pemberitaan di sosial media yang menyatakan istrinya tengah di rawat inap karena sakit, pagi ini berita itu menjadi trending topik, ia memeriksa isi dari berita yang menyebut-nyebut keluarga kecilnya itu, tidak ada yang merugikannya, media hanya memberitahukan bahwa istrinya tengah sakit, sebab dan apa penyakitnya ternyata belum diketahui publik, sudahlah tidak perlu terlalu ditanggapi, paling nanti dirinya akan menyuruh Roy untuk mengurus segalanya jika kedepannya ada yang merugikan pihaknya.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2