Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Petuah Afik.


__ADS_3

Malam sudah beranjak naik, empat pemuda nampak masih betah berbincang santai di karaoke room milik pribadi Jason.


Selepas dari acara pertunangan Yudha, Jason membawa ketiga sahabatnya itu untuk bermalam dirumahnya, mereka akan menghabiskan waktu bersama.


"Kak Ilen nggak ikut main, nyanyi-nyanyi ayok ?" tanya Afik, saat Shirleen mengantarkan minuman serta cemilan untuk menemani malam mereka.


"Aku nggak ikutan, kalian aja siapa yang ngurus anak-anak nantinya, btw selamat ya Yud tadi kamu itu gentle banget lho." puji Shirleen pada sahabat suaminya itu.


"Keren nggak kak ?" tanya Yudha antusias.


"Keren banget, semoga..."


"Ehmmm..." suara deheman Jason terdengar syarat akan ancaman.


"Masih kerenan kamu By !" ucap Shirleen pada akhirnya dengan nyengir kuda.


Gak Weni nggak nih suami, selalu aja haus pujian...


"Udah dilanjut yah, sampai pagi juga nggak papa !" ujar Shirleen lagi kemudian berlalu pergi meninggalkan


"Junedi, lo tiduran mulu dari tadi, gak ada semangatnya kita disini, yang ngajakin kesini kan lo, nih ngopi biar seger tuh mata !" ujar Angga, melihat Jason yang nampak anteng tiduran di sofa seolah asik sendiri.


"Gue ngantuk !" sahut Jason.


Angga dan Afik kemudian mulai tes vocal, begitupun Yudha meski hanya menyimak namun ia sungguh menikmati, apa lagi Angga yang emang basicnya seorang vocalis di Band mereka.


"Udah lama nih kita nggak gini, kumpul-kumpul kek gini, terakhir seingat gue pas Jason masih pacaran sama Kak Ilen deh." ujar Afik ditengah-tengah suara Angga bernyanyi, ia berteriak agak keras supaya bisa di dengar Yudha.


"Iya bener, besok gue udah balik, gue pasti bakalan kangen sama kalian." sahut Yudha.


"Si Junedi, udah molor aja tuh, apa nggak keganggu suara si Angga dia." tunjuk Afik, ia heran pada Jason yang dilihatnya nampak pulas.


Jason memang berada agak jauh dari mereka, namun tetap saja namanya juga ruang karaoke ya pasti bising mau di sebelah manapun jauhnya.


"Kata kak Ilen dia kerjaannya tidur mulu seharian ini, kek ada yang aneh tau nggak sih nggak biasanya, tuh anak kan udah biasa kalau cuma begadang, apalagi baru jam segini." ucap Yudha.

__ADS_1


"Gak biasanya emang." sambung Afik lagi.


"Woy, giliran siapa ini mau nyanyi ?" tanya Angga rupanya ia sudah menyelesaikan lagi tembangnya.


"Gada, nih minum dulu, biar serek !" tawar Afik.


"Gue udah kembung ege minum soda mulu dari tadi," tolak Angga, "Junedi mana woy ?"


"Noh, terkapar molor !" tunjuk Yudha.


"Set dah, tumbenan tuh anak."


"Lah iya."


Lalu ketiganya mulai bercerita apa saja, menghabiskan malam mereka bersama Yudha.


"Selamat ya Men, gue nggak nyangka lo segentle tadi." puji Angga pada Yudha. Ia memang dari tadi mau mengucapkan itu, tapi karena patah hati mendengar Shakira sudah menikah jadinya ia malah melupakan itu.


"Iya gue juga belum ngucapin selamat ma cebong, gak nyangka gue lo udah tunangan aja sekarang, pesen gue, jagain itu hati biar nggak berpaling, perawan tua itu yg lo janjiin nikah, gue adalah orang pertama yang bakalan nyari lo kalau lo sampe belok." ucap Afik, meski Yudha adalah sahabatnya, ia bisa mengerti apa yang tengah dirasakan Weni saat ini.


"Lo inget nggak Yud, waktu lo ditinggal Sarah kewong ?" tanya Afik lagi.


"Bego banget tau lo, bisa-bisanya sampe gak mau makan, nyiksa diri gitu, heh apaan keknya lemah banget."


"Lo..." Yudha menghela nafasnya berat, "Udah lah Men, nggak perlu dibahas lagi kali." seakan malas, Yudha memang sungguh tidak mau lagi mengingat masa lalunya itu.


"Gimana rasanya ?" tanya Afik lagi, Angga menyimak, apa sih maksud Afik ini, mau bikin Yudha tengsin maksudnya pake ngingetin si Serong lagi.


"Lo apaan sih ?" kesal Yudha.


"Gue cuma ngingetin Yud, bukannya main-main yang bisa lo anggep gak serius perkataan gue tadi, Weni memang bukan siapa-siapa gue, gue aja kenal dia baru beberapa hari ini yang pas di rumah sakit, tapi tolong please jangan sakitin dia." ucap Afik yang nampak mulai serius.


Seriusnya orang yang suka bercanda emang beda ya, seakan menegangkan dengan aura ketegasan yang gak main-main banget kalau udah serius.


"Gue cinta sama dia Fik, gak mungkin lah gue nggak setia." ucap Yudha, ia nampak kesal karena seakan Afik begitu menekannya.

__ADS_1


Ia juga pergi ninggalin Weni sedikit banyaknya dipaksain, kalau bukan alasan menuntut ilmu serta segala yang ia butuhkan sudah ia tata di sana, gak akan dia ninggalin Weni, kalaupun Weni mau menikah dengannya tadi bukannya tunangan, dia siap-siap aja memboyong Weni ke Jerman.


"Gue cuma ngingetin Yud, gue yakin sama lo, tapi tetep aja gue mau ngingetin, lo tau kenapa ?" tanya Afik.


Yudha diam, begitupun Angga. Ah situasi macam apa ini, di remangnya pencahayaan ruang karaoke namun justru tercipta suasana menegangkan. Sayangnya ada yang tidak terganggu sama sekali dan malah lebih memilih molor di pojokan.


"Karena kalau lo ngehianatin Weni, posisi Weni bisa lebih sakit dari apa yang ko rasain pas waktu di tinggal Sarah nikah." jelas Afik.


"Dia, keluarganya, udah nantiin hari bahagia dia sama lo, udah berharap dan bergantung sama lo, mungkin Weni nggak bakalan ngelakuin hal beg* dengan nyiksa diri kayak yg waktu itu lo lakuin, tapi kepercayaan, cinta, rasa sakit, percayalah nggak akan ada yang bisa memahaminya nanti selain dirinya sendiri, makanya gue tegasin sekali lagi sama lo, jaga Weni, lo harus ingat gimana sakitnya saat dulu Sarah orang yang sempat lo cintai malah ngehianatin lo, lo harus ingat gimana perjuangan Angga buat bawa Weni ke rumah sakit waktu itu, gue nggak berharap lo menemukan yang lebih baik dari Weni disana atau dimanapun, jaga dia dan selalu saling percaya meskipun nanti jarak akan terbentang, badai acap kali datang, lo harus berjanji dalam hati lo, kalau lo akan tetap milih dia."


"Yud, mungkin kita bisa bantu disini buat jagain tunangan lo, tapi lo disana harus harus lebih kuat buat jagain lo sendiri, dan meski terlihat mudah padahal sebenarnya itu tuh berat banget, gue berpesan kayak gini bukan sok menggurui, karena gue tau hati wanita itu kalau udah sakit gak semudahnya membaik."


Afik memberikan sepatah dua patah petuahnya, untuk bekal Yudha disana, pacaran jarak jauh itu adalah hal kedua yang nyatanya paling sakit setelah yang pertama adalah berpisah dari kematian.


"Wes mantap, terbaik lah bang Afik, belajar dari mana sih, kata-katanya ngena banget keknya, lo nggak suka sama Weni kan ?" tanya Angga, sembari memberikan tepuk tangan meriah untuk pelajaran yang baru saja ia dengarkan.


"Gue cuma ngerasa kita perlu sama-sama saling ngingetin." ucap Afik.


"Thanks ya Fik, gue jadi ngerti, ini emang bukan cuma perihal mengikat seseorang, pacaran tunangan, itu meski terdengar sudah jelas statusnya namun yang paling berpotensi mewujudkan semua itu untuk sampai ke status yang sebenarnya ya cuma hati, gue usahain buat jaga Weni, gue usahain gak akan berpaling sedikitpun, gue usahain bakalan cuma liat Weni, cuma liat tunangan gue seorang." ucap Yudha penuh keyakinan, ia tidak lagi menganggap main-main perkataan Afik.


"Fik, ini bukan pengalaman pribadi lo kan ? Kali aja selama ini lo punya pengalaman cinta yang ngena nyesss di hati tapi kita-kita nggak tau ?" selidik Angga.


"Apaan sih lo, ya kagak lah." tentang Afik.


"Bener ?" selidik Angga lagi.


"Iye Ferguso !"


"Iye apa ?"


"Ya nggak ada gue pengalaman kek gitu !" ucap tegas Afik.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2