
"Dimana Shirleen nak?" tanya Mama Mila sembari menuju anaknya itu dengan terburu-buru, ia mendapatkan kabar kalau Shirleen telah melewati masa kritisnya, apa itu, mengapa ia tidak tau.
"Dia di ruang perawatan Ma." jawab Jason.
"Jason, apa yang telah terjadi?" Mama Nena juga tiba-tiba datang dan langsung menanyakan itu.
"Ceritanya panjang Ma, nanti aku ceritakan." ucap Jason.
Entah bagaimana jika mertuanya tau penyebab Shirleen sampai dibawa ke rumah sakit dan malah hampir saja meregang nyawa.
Jason tidak bisa membayangkan itu.
"Ya sudah, Mama akan menemui Shirleen dulu." ucap Mama Nena, begitupun Mama Mila yang mengikuti langkah besannya.
Jason baru saja keluar dari ruangan Dokter Eri, ia menghela nafas panjang, Lisa lagi pikirnya.
Ben tadi sudah menjelaskan semuanya padanya, bahwa Shirleen mengetahui semua informasi itu dari Lisa, seseorang yang pernah ia hancurkan hidupnya.
^^^"Bagaimana Bos?"^^^
"Kau lepaskan saja semuanya, begitupun wanita yang bernama Lisa itu, dan katakan untuk jangan pernah menampakan diri padaku, siapapun tak terkecuali."
^^^"Baik Bos!"^^^
Bagaimana pun dirinya sudah berjanji, waktu itu ia sudah pernah ingkar, tidak kepercayaan itu mahal.
Jason memijit kepalanya pelan, hari ini sungguh melelahkan.
"Bagaimana Nak? Kau sudah tau rasanya kehilangan?" tanya Tuan Fred yang entah kapan sudah berada dihadapannya.
"Kau!" dengus Jason.
"Sudah ku katakan, mereka adalah tempatmu pulang, berhenti dan jangan kembali, kau menyakitinya lagi kan." Tuan Fred seakan melimpahkan semua kesalahan pada Jason, padahal yang sebenarnya dirinya pun tidak tega dengan apa yang menimpa pemuda yang bagai sudah menjadi anaknya itu.
"Ya kau benar." ucap Jason.
Kalau sudah begitu ia tidak bisa menyangkal, bahkan sebelum Shirleen tidak sadarkan diri tadi, Shirleen juga mengatakan bahwa dirinya menyakiti.
"Ikhlaskan meski berat, mereka pasti akan mendapatkan balasannya, biar Tuhan selalu hakim yang paling adil yang membalasnya." ucap Tuan Fred.
__ADS_1
"Apa kau sudah berhenti juga?"
"Apa jika aku tidak berhenti kau akan terus mengikuti aku yang jahat ini?" tanya balik Tuan Fred.
"Jason, kita berbeda, jangan perdulikan aku, aku pasti akan berhenti kalau sudah waktunya." ucap Tuan Fred, ada sesal terselip saat ia mengatakan itu.
"Apa kau tidak mau menjadi Papa yang baik buat Axel?" tanya Jason sinis.
"Dia urusanku! Aku juga bukan papa yang baik untukmu, kembalilah pada Papamu, dia yang terbaik."
"Kau kesini hanya untuk mengatakan itu, kau menganggap hubungan kita selama ini tidak berharga begitu? Sehingga kau bisa dengan mudah mengatakan hal semacam itu, sungguh luar biasa, yah aku akan mengatakan bahwa aku sangat terkesan." ucap Jason angkuh.
"Jason, kau tau, aku tidak lebih hanyalah budak bagimu, seorang budak memang tidak seharusnya dimuliakan, apa lagi dengan panggilan seorang Papa, aku tidak bisa menganggap diri bahwa akulah Papamu, tidak aku tidak sepantas itu."
"Kau mengatakan itu lagi, sudahlah silahkan pergi, kalau begitu anggap saja kita tidak pernah sedekat nadi, hey orang tua memangnya siapa kau, aku tidak pernah mengenalmu." ucap Jason, meski dalam nada kemarahan, namun jelas sekali terlihat bahwa dirinya tengah benar-benar kecewa.
"Jaga dirimu, jaga dia, jaga keluargamu, jangan pernah mengecewakan mereka lagi." ucap Tuan Fred, ia memegang pundak Jason sebelum ia benar-benar akan pergi.
"Pergi saja kau, dasar sialan!"
Dengan tersenyum Tuan Fred memutuskan pergi meninggalkan Jason.
Nyatanya, seorang Fredy Nickholas, tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa sebab alasan.
Jason menggeram saat melihat Tuan Fred benar-benar pergi.
"Dia benar tidak punya rasa sedih sedikitpun saat pergi begitu." gumam Jason, kemudian berlalu pergi menuju ruang rawat istrinya.
Shirleen masih belum sadarkan diri, Mama Mila dan Mama Nena berada di sisi kiri dan kanannya, menggenggam jemari putri dan menantu mereka, Jason teriris kala melihat itu, sumpah demi apapun bukan inginnya hingga Shirleen berakhir terbaring lemah seperti itu.
"Nak, apa kata dokter?" tanya Mama Mila.
"Shirleen selama ini ternyata mengidap penyakit jantung, mungkin karena keturunan, dan sayangnya itu terlambat kita ketahui." ucap Jason.
"Ya Tuhan, sayangku, keluarga kami memang ada yang memiliki riwayat penyakit jantung, tapi aku tidak menyangka kalau Shirleen akan terkena juga, selama ini ia sehat." ucap Mama Nena penuh sesal.
"Lalu bagaimana dengan bayi kalian?" tanya Mama Mila.
"Iya Nak!" sambut Mama Nena lagi.
__ADS_1
"Sejauh ini kondisinya cukup baik, namun jika Shirleen tidak bangun juga, mungkin keadaan bisa berubah." ujar Jason.
"Oh ya Tuhan, selamatkanlah putri dan cucu-cucuku." Mama Nena langsung saja menangis, Shirleen belum juga bangun hanya baru saja berhasil melewati masa kritisnya.
"Kita berdoa saja, Jason kamu yang sabar Nak." ucap Mama Mila, sungguh kedua Mama itu tidak tau menahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
"By, kamu bangun ya, ayok kamu pasti bisa." ucap Jason berbisik pada istrinya.
Yah karena jika Shirleen tidak juga bangun itu pasti akan berpengaruh pada kedua bayinya.
"Kasihan mereka didalam sini, kamu kuat By."
"Mama akan ke Mushola dulu." pamit Mama Nena.
"Aku ikut kamu Jeng." susul Mama Mila.
Jason mengangguk saja, dan juga sedikit tersindir, mendengar nama tempat sholat di sebut, seumur hidup mungkin saat ia masih bersekolah di Sekolah Dasar itu terakhir kalinya ia menginjakkan kaki ke tempat beribadah umat Islam tersebut.
"Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya sholat yang benar!" gumamnya.
"By, apa kau tau bagaimana cara beribadah yang benar, buruknya aku, aku memang bukan imam yang baik ya, maafkan aku yaaa, saat kamu bangun nanti aku pasti akan berusaha menjadi lebih baik." ujar Jason mengajak bicara istrinya.
"Aku hanya melakukan apa yang aku mau saja selama ini, tidak perduli akan agama, tidak perduli akan kebahagiaan orang lain, tidak perlu merasa bersalah saat melakukan kesalahan itulah aku, yang orang pikir sangat hebat padahal nyatanya sangat-sangat miskin ilmu."
"Lucu sekali ya By, aku mengharapkan pendamping yang begitu baik sepertimu, tapi aku yang begitu buruk ini malah sangat tidak tau diri kan."
Tidak ada jawaban karena memang Shirleen belum juga bangun.
Air mata Jason mengalir, mengapa istrinya bisa menjadi semenyedihkan ini, ya Tuhan ia tidak sanggup.
"Aku yakin kau pasti bisa mendengarku By, aku benar-benar minta maaf, aku janji sekali ini saja demi aku bangunlah, demi mereka, aku berjanji tidak akan berbohong lagi tentang semua ini, aku janji akan berubah, aku janji."
"Mereka sudah ku bebaskan, dan wanita yang baru saja kau kenal itu tidak akan aku usik, aku berjanji."
Meski tau Shirleen tidak akan menunjukkan reaksi namun Jason tetap saja rasanya kecewa, sungguh ia berharap dengan dirinya yang berusaha mengajak bicara istrinya Shirleen akan membaik.
"By, kau tidak ingin bangun, aku mohon By, bangunlah..."
Bersambung...
__ADS_1
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...