Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Tekanan Tiara.


__ADS_3

"By, aku mau ngomong"


"By, ada yang mau aku bicarain"


Keduanya berucap bersamaan, Jason menoleh heran pada istrinya, saat ini mereka berdua sedang duduk berdampingan bersandar di kepala ranjang, membunuh malam untuk kemudian terlelap dalam pelukan.


"Kamu duluan By" ucap Shirleen.


"Kamu aja, mau ngomong apa sih istriku ini" ucap Jason, ia lalu merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya, bermaksud siap mendengarkan apa yang Shirleen ingin bicarakan.


"Kamu aja, lagian aku tiba-tiba lupa apa yang mau aku omongin" dusta Shirleen.


"Yakin lupa ?"


"Iya By, nah kamu mau ngomong apaan, jangan bilang lupa juga"


"Yaaa enggak dong, ingatan aku kan gak lemot kek kamu, biasalah faktor U" ujar Jason sambil menyentil kening istrinya.


"Aduh, iihh bagus yaaa, terus siapa yang ngejar-ngejar aku dulunya, udah tau aku tua masih juga ngejer-ngejer mana kek maling lagi"


"Heemmm, masih juga di inget inget, giliran keburukan aku aja ingatannya kenceng banget"


"lah emang iya kan"


"Iya deh iya, emang aku yang ngejar-ngejar kamu, soalnya tante meresahkan sih" ucap Jason dengan nada yang dibuat se*exy mungkin dan mata yang sengaja di genit genitkan.


"Apa kamu bilang, kamu pikir aku tante tante girang apa, ini mulut emang minta di ulek sambel keknya" geram Shirleen, semasa perkenalan lalu pacaran saja Jason tidak pernah memanggilnya tante, mana pake meresahkan pula.


"Hahaha, gitu aja marah, becanda By, meresahkan buatku aja, biar tante tante juga udah punya aku ini, udah di halalin gak girang lagi" ejek Jason.


"Wah nyari ribut kamu By" Shirleen lalu mencubit perut Jason, namun bukannya sakit malah geli yang Jason rasakan, sehingga tawanya yang malah terdengar menggelegar di seisi kamar mereka.


"Udah udah, udah By" keluh Jason, sembari memegangi perutnya.


"Gak, kamu emang harus di kasih pelajaran, dasar berondong gak ada akhlak"


"Ampun By, ampun aduh duh ampun By"

__ADS_1


Sebenarnya Jason bisa saja melawan, namun jarang sekali ia melihat Shirleen bahagia dengan lepas seperti itu, sudah banyak masalah yang mereka lalui biarlah ia mengalah sedikit demi moment yang begitu manis ini.


"Dasar kamu yaaa"


"Udah dong By, aku bisa mati ketawa kamu bikin gitu, geli tau" ujar Jason.


"Geli ??? Aku nyubit lho bukan gelitik, apanya yang geli coba ?" Shirleen heran karena perasaan ia tadi mencubit bukan menggelitik, apa tidak sakit sama sekali cubitannya.


"Iya karena tangan kamu ini gak ada tenaganya, nyubit aja gak berasa, serasa di gerayangin sih iya, hiiii" jawab Jason sembari bergidik ngeri, lagi-dan lagi, Jason seakan belum puas membuat istrinya kesal.


"Jasoooonn kamu kurang ajar banget sih, mesum terus bawaannya" protes Shirleen.


"Deket kamu aku jadi mesum terus By" ujar Jason yang kini sudah bangkit dari ranjang dan berniat untuk kabur.


"Maksud kamu apa, isshh makin kurang ajar kamu yaaa, iseng banget deh" Shirleen juga bangkit, ia tidak bisa membiarkan Jason kabur begitu saja.


"Weekk, tante godain kita dong" Jason sudah berhasil kabur berlari keluar kamar.


"Jasooonnn"


...###############...


"Ara, kenapa harus minjem, memangnya Ara perlunya berapa ?"


"Lima ratus ribu Om" ujarnya dengan masih sangat pelan.


"Lho buat apa, kok banyak sekali sayang, buat bayar apa ?" tanya Athar curiga.


"Eemm eemm" bingung Tiara.


"Ara... Jujur sama Om, buat apa uang sebanyak itu, kamu udah bayar SPP kan bulan ini, atau ada uang buku yang belum di bayar, bilang sama Om" tanya Athar, uang dari Rendi masih ia simpan untuk jaga-jaga kebutuhan Tiara,namun karena Rendi sudah mengamanahkan Tiara padanya ia merasa bertanggung jawab karena anak SMP seperti Tiara rasanya tidak wajar memerlukan uang dalam jumlah demikian.


Ia ingat, kakak sulungnya itu pernah meminjam atau lebih tepatnya meminta uang padanya dengan alasan membayar SPP Tiara yang menunggak dua bulan, kenapa Athar katakan meminta, ya karena tidak akan mungkin di ganti oleh Riska.


Meski yang ia berikan itu adalah uang Rendi, namun jika saja Riska menggantinya maka Athar akan menyimpannya kembali untuk kebutuhan Tiara.


"Maaf Om, kalau Om tidak punya uang tidak apa-apa" ucap Tiara, kemudian ingin undur diri meninggalkan Omnya.

__ADS_1


"Ara, dengar Om, Om hanya tanya untuk apa bukan tidak mau ngasih, tapi Ara harus jujur, anak sekecil kamu nggak mungkin merluin uang sebanyak itu kalau nggak ada alasannya, Ara kan tau papa kamu udah nitipin kamu sama Om, jadi kalau ada apa-apa Om berhak untuk tau" ucap Athar menasihati keponakannya itu.


Setitik air mata menggenang di pelupuk, membuat Athar semakin yakin kalau pasti ada yang tidak beres dengan keponakannya itu.


"Ara, cerita sama Om ada apa ?" gencar Athar, pikirannya tidak lain adalah menuju ke kakak sulungnya, entah apa lagi yang kakak sulungnya itu perbuat pada Tiara yang padahal anak kandungnya sendiri.


"Om, kapan Papa pulang dari Palembang ?" isak tangis Tiara mengiringi sebuah pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Athar akan keluar dari mulut Tiara.


"Ara..." ucap Athar bingung, ada apa lagi ini batinnya.


"Ara mau Papa Om, Ara mau tinggal sama Papa aja"


"Ara mau Papa, hiks hiks" kali ini Tiara sudah menangis, ia merasa titik jenuhnya sudah diluar batas, berharap di sayangi oleh seorang Ibu namun malah kekerasan yang ia dapatkan.


"Ara, Ara, hei dengerin Om, cerita, cerita sama Om ada apa, Om disini akan selalu ada buat kamu, sebentar lagi Papa pulang, Om pernah tanya hari kamis kalau nggak salah, nanti kalau Papa udah pulang Om bilangin buat jemput Ara langsung" ucap Athar menenangkan keponakannya, ia memeluk Tiara dengan penuh kasih sayang, ia ikut menangis bukan hanya karena nasib yang di alami Tiara, namun karena tiba-tiba saja ia juga membayangkan bagaimana nasib Misca yang sudah lebih dulu mengalami perceraian orang tuanya.


"Hiks hiks" Tiara masih menangis sesegukan, ia tidak tau lagi bagaimana menghadapi hidupnya, di rumah dan di sekolah seakan sama saja, ia tidak pernah hidup tenang lagi semenjak orang tuanya memutuskan untuk bercerai.


"Udah udah, sekarang Ara jujur sama Om buat apa uang lima ratus ribu, kalau alasannya memang untuk keperluan yang baik, Om punya kok uangnya" ucap Athar.


"Om..." ragu Tiara.


"Iya, bilang aja, gak usah takut ada Om"


"Tapi Om jangan marah yaaa"


"Tiara, kalau niatnya baik kenapa harus marah, ayo katakan untuk apa, jangan takut, ada Om, ada Papa juga"


"Sebenarnya..." jujur Tiara sangat ragu mengatakannya, sebuah ketakutan selalu saja bersarang di benaknya membuat ia sesak saat itu juga.


"Sebenarnya apa ?" cerca Athar.


"Sebenarnya..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2