Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Mama nggak bilang.


__ADS_3

"Kenapa By?" tanya Shireen, dirinya cukup kaget kala mendengar sebuah pesan dari Ipah yang menyuruhnya untuk tetap tinggal di ruangan.


Sudah lama dirinya menunggu namun sang suami baru saja menemuinya setelah hampir dua jam.


"Tidak ada!" jawab Jason.


"Yuk makan!" Ajaknya.


Shireen menyusun segala menu yang dirinya bawa dari rumah tadi dibantu Ipah.


"Hemm sepertinya enak, akhir-akhir ini entah kenapa aku suka udang?" Jason mencomot beberapa udang goreng tepung dan langsung memasukkan semua ke mulutnya.


"Bawaan yang dua ini kali By!"


"Mungkin juga sih!" Jason mengangguk setuju, dirinya mengelus sayang perut sang istri.


"Nanti aku balik ke kantor, kamu sebelum magrib kalau bisa udah di rumah ya!" perintah Jason.


"Iya By!"


Sementara di kantor,


"Aku kira kita akan kelaparan sayang!" ucap Shakira.


Roy nampak menikmati nasi padang kiriman Ben, dirinya kira ia dan Shakira akan menahan lapar hingga sore, syukurlah Tuan Muda mereka tidak sekejam dulu.


"Bagaimana?" tanya Shakira.


"Hampir selesai, aku tidak menyangka selama ini musuh Tuan Muda malah orang yang dekat dengannya." ungkap Roy.


"Aku sudah menyangka, bahkan aku sudah lama menaruh curiga." Shakira membuang bekas makannya di tong sampah, wanita itu akan kembali berkutat dengan tugasnya.


"Benarkah?" tanya sang suami.


"Yah, dulu sebenarnya mereka pernah mengajukan kerja sama dengan perusahaan Tuan Muda, saat itu kau belum selihai ini meretas data, mereka selalu menggunakan cara seperti ini, namun waktu itu mudah sekali karena mereka menggunakan perusahaan fiktif, jadi tidak perlu penelusuran sampai ke akarnya, aku sudah tau!" jelas Shakira.


"Oh ya?"


"Iya, mungkin itu juga sebabnya Tuan Muda bisa dengan mudah mengetahui rencana busuk mereka."


"Ah iya, aku sudah lama mau menanyakan ini padamu!"


"Ada apa?" tanya Shakira.

__ADS_1


"Sejak kapan kau bisa mengatasi hal seperti ini?" tanya Roy.


"Heh, untuk apa mengetahui hal semacam itu?" tanya balik Shakira.


"Tidak ada, aku hanya penasaran saja."


"Sebenarnya aku dulu adalah anak buah Tuan Fred, kau kenal dia kan?"


"Ya!" Roy mengangguk pelan.


"Namun Bos mengambil alih dan mengajariku banyak hal tentang hacker, setidaknya butuh satu tahun untuk aku bisa terjun ke dunianya, awalnya sulit namun nyatanya setelah pernah satu kali berhasil aku malah ketagihan, apa lagi kau tau kan gajinya tidak main-main, aku masih ingat gaji pertamaku bahkan senilai rumah utama Tuan Adrian." jelas Shakira.


Roy, suaminya itu hanya bisa melongo, meski dirinya sudah tau, namun mendengar pengakuan dari mulut istrinya sendiri membuat jantungnya sedikit sulit untuk merespon dengan baik.


"Uhukk uhukk"


"Kenapa sayang? Kau baik-baik saja?" tanya Shakira.


"Seharusnya begitu, aku butuh minum!" jawab Roy.


Segera Shakira mengambilkan suaminya minum.


"Tapi itu dulu sayang, sekarang aku sudah berjanji hanya akan menjadi istrimu."


"Ya sudah selesaikan pekerjaan kita, lebih cepat lebih baik!" ucap Roy.


Shakira mengangguk paham, hari sudah menunjukkan pukul 14:15, Tuan Mudanya itu belum juga kembali, mereka harus segera menyelesaikan tugasnya.


"Pah, ayok kita pulang!" ajak Mama Mila pada siang suami, dirinya mulai tidak betah berada di pedesaan itu.


Tidak ada pemanas, kalau malam di sini sungguh dingin, hanya mengandalkan selimut, dirinya tidak bisa terus begitu.


"Papa betah deh Ma kayaknya di sini, lagi pula perusahaan sudah Papa serahkan pada Jo, dia pasti bisa mengatasinya, palingan ada beberapa perusahaan yang menarik investasi mereka, kalau bisa Papa maunya menginap di sini untuk dua sampai tiga hari ke depan, terlalu banyak masalah belakangan ini rasanya Papa mau istirahat." jelas Pak Adrian.


"Papa, nanti kan pasti adanya biaya kerugian, Jo tidak mungkin kan mengatasinya." ujar Mama Mila.


"Dia bisa kok Ma! Jo pasti bisa mengelola keuangan dengan baik, Papa percaya dia, lagi pula semalam Papa juga sudah menelpon Jason di seberang jalan sana." ungkap Pak Adrian.


"Papa! Kenapa tidak bilang kalau mau menelpon anak itu?" tanya Mama Mila.


"Semalam Papa sudah bicara banyak dengannya lewat telpon, perusahaan kita memang harus dalam kondisi bangkrut untuk satu bulan ini, anak kita sedang mengatasi semuanya, entah karena kekuatan apa sepertinya Papa yakin sekali padanya kali ini."


"Lho, maksud Papa, Papa setuju kalau Jason balas dendam?" tanya Mama Mila, dirinya menatap heran suaminya. Bukankah kemarin suaminya itu sangat tidak setuju akan rencana Jason yang ingin membalas dendam.

__ADS_1


"Tidak juga, aku yakin dia bisa mengerti, dan kalaupun dirinya memang ingin membalas dendam, meski aku tidak setuju sekalipun apa aku bisa melarang? Bukankah anakmu sudah biasa bertindak semaunya?"


"Anakku, itu anakmu juga Pa!"


"Aku juga takut sih Ma, Ilen lagi hamil sementara Jason... semoga saja tidak ada pertumpahan darah, sebenarnya kalau Jason hanya akan membuat paman-pamannya menderita kadang mungkin ada juga baiknya seperti itu, tapi kalau sampai terjadi pertumpahan darah, aku khawatir Ma!" ucap Pak Adrian.


"Iya sih, tapi Pa biarkan saja kali ini anakmu yang menyelesaikan, kita terlalu banyak mengatur hidupnya, kali ini biarkan saja dirinya bebas, bukannya selama ini dia selalu berhasil."


"Seharusnya kita memang tidak meragukan kemampuannya, semoga setelah ini keluarga kota bisa kembali utuh seperti dulu, semoga Jason bisa kembali menerima kita Ma!" ucap Pak Adrian penuh harap.


"Yah semoga saja!"


"Selain itu, apa saja yang Papa bicarakan pada Jason semalam?" tanya Mama Mila lagi.


"Sebenarnya Jason punya rencana lain Ma, Papa hanya menurut saja, Jason menyuruh perusahaan kita tetap seperti itu, diambang kebangkrutan, untuk itulah Papa tidak pulang dan lebih memilih di sini, selain Jo, Jason juga akan mengatasinya."


"Lagi pula, kita sudah lama tidak liburan Ma, di sini tempatnya lumayan bagus, tidak terlalu buruk, sejuk, jauh dari hingar bingar kota, Papa sudah lama ingin menghabiskan waktu menjadi orang biasa, Adrian... Nama itu kadang membuat Papa lelah." ucap Pak Adrian.


"Papa... Papa harus semangat dong, nggak boleh bilang gitu, nama itu sudah besar, begitu banyak yang Papa dapatkan karena sebuah nama itu, lagi pula Tuan Abraham, mertuaku itu pasti sangat bangga dengan nama itu, nama yang disandang anak satu-satunya, hingga Almarhum memberikan nama Adrian untuk perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah." ucap Mama Mila.


"Ya sudah kalau Papa maunya di sini, Mama akan ikutin kemauan Papa, Mama akan dukung apapun kehendak Papa, semoga pikiran Papa bisa tenang, relaks, Mama juga akan mencoba menikmati liburan ini."


"Yakin?" tanya Pak Adrian.


"Tapi Pa, boleh tidak kita beli AC atau minimal kipas angin deh, di sini benar-benar membingungkan, kalau siang panasnya nggak kira-kira tapi aneh kalau malamnya kayak mau beku!" keluh Mama Mila.


"Hahaha, Mama ini, ya sudah ayo siap-siap, di ujung sana ada toko elektronik, Mama bisa beli apa saja yang Mama butuhkan!" ajak Pak Adrian.


"Kenapa tidak bilang dari pagi tadi..." protes Mama Mila.


"Mama nggak bilang!"


"Ih Papa!"


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2