Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Lisa Koma.


__ADS_3

Athar bisa tersenyum puas saat ini, ternyata apa yang ia raih tidak sesulit yang ia bayangkan.


Ia akan mencoba sekali lagi rencananya, setelah itu, ia janji akan berhenti.


Matahari nampak berada tepat diatas kepala saat ini, senantiasa memancarkan panasnya.


Athar ingin segera pulang kerumah ini sudah waktunya jam istirahat, melihat wajah Fahira mungkin akan melengkapi kebahagiannya saat ini.


Sementara itu, kondisi yang memprihatinkan datang dari lapas tempat dimana Lisa melanjutkan hidupnya.


Mukanya biru lebam, bengkak, sekujur tubuhnya dipenuhi luka, mulutnya mengeluarkan darah, diakibatkan ulah rekan satu selnya.


Kondisi terkini mengabarkan ia sudah tidak sadarkan diri.


Ambulan melaju kencang, mengaum membawa tubuh penuh lukanya kerumah sakit, kedua teman satu selnya sudah ditahan untuk dilakukan penyidikan, nampaknya mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.


Semenjak hari dimana terakhir kali ibunya menemui ia, Lisa seakan tidak sanggup untuk menjalani hidup, sering kali pembullyan dan penghinaan akrab ditelinganya, namun ia tetap abai, ia seolah tidak perduli walaupun ia menjadi samsak tinju rekannya sekalipun.


Dalam hatinya ia hanya rindu keluarganya, pukulan yang sangat sakit baginya melebihi sakit fisik yang ia terima selama di tahanan.


Ia juga sudah menyesal, jika waktu bisa diulang ia sangat ingin kembali dimasa ia selalu disayangi.


Aaahh, keluarga adalah tempat ia pulang, namun sekarang kehadirannya pun sudah tidak diharapkan.


Setiap hari ia menunggu, barang kali papanya berubah pikiran, namun bayangan mamanya tinggalah bayangan, itu semua hanya angan, Mamanya memang benar-benar pergi meninggalkannya demi papanya.


Maaf, maaf, maaf... dalam tangis kadang ia hanya mampu mengucapkan maaf dengan lirihnya.


Mengejar Jason Ares Adrian bukanlah hal yang mudah. Ia mengetahui itu namun bodohnya ia seakan membutakan mata, fokusnya hanya tertuju pada tuan muda keluarga Adrian saja.


Ah andai dulu...


Dalam ketidaksadarannya ia memutar ulang memori tentang masa indahnya, bersama keluarga, bahagia tanpa mengenal rasanya sakit hati.


Bayang-bayang rasa bersalah itu setiap hari datang, ia Ralisa Imanuella Syarif memang berniat mengakhiri hidupnya sehingga ia tidak pernah sekalipun melawan kekerasan fisik yang setiap hari ia terima.


Ia sudah tidak mempunyai tujuan untuk hidup, Mama dan Papanya sudah pergi meninggalkannya, ia merasa anak pembangkang yang memang pantas mendapatkan ini semua.


Gue harap, setelah ini gue bener-bener nutup mata gue selamanya.


Papa Mama maafin Lisa, Lisa Rindu, maafin Lisa Ma Pa, Lisa tetap anak kalian kan, maafin Lisa.

__ADS_1


Jika Lisa mati nanti, tolong terima Lisa sebagai anak Mama dan Papa, Lisa sayang kalian.


Matanya terpejam, namun tidak dengan hatinya, hatinya tak hentinya berucap sesal dan terus meminta maaf.


Saat ini Dokter dan para crew yang mendampingi sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa Lisa, kerusakan ginjal yang diduga akibat pukulan benda tumpul membuat ia harus mengangkat satu ginjalnya, beruntung satu ginjal lainnya tidak rusak.


Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka, ini benar-benar biadab, pelakunya harus mempertanggung jawabkan dengan yang setimpal pula.


5 jam berkutat di meja operasi, dan 2 jam dilakukan untuk menstabilkan kondisi tubuh pasiennya, akhirnya Lisa bisa melewati masa kritisnya.


Dengan langkah terburu-buru, seorang wanita paruh baya namun tampak lebih muda dari umurnya berlari menunju ruang rawat putrinya.


Koma, putrinya dinyatakan koma setelah babak belur di seluruh tubuh dan wajahnya, itu yang ia dengar saat rumah sakit ini menghubunginya.


Baru saja ia sampai diruang rawat putrinya, tubuhnya mendadak kaku, ia tidak bisa menyembunyikan bulir air mata yang menganak sedari tadi.


Lisaaaaa.....


Braaakk, tubuh lemas Pak Jefri berlutut di lantai tepat di samping ranjang putrinya.


Ia yang awalnya enggan peduli, tidak bisa mengabaikan begitu saja, walau kecewa menyayat hati, ternyata melihat putrinya berbaring penuh luka seperti ini rasanya begitu sakit. Bahkan lebih sakit saat hal memalukan dan kebangkrutan yang disebabkan ulah putrinya.


Ia sempat berdebat dengan suaminya karena tadi Pak Jefri melarangnya untuk melihat kondisi Lisa, namun ibu mana yang bisa dicegah jika menyangkut hal anak seperti ini. Apalagi yang ia dengar anaknya sekarat, coba tanya... ibu mana yang tega ? Tidak ada ibu yang ingin membuang anaknya, begitupun ia, walau putrinya salah namun Lisa tetaplah putrinya, sampai kapanpun bahkan sampai ia mati nanti Lisa tetaplah putrinya, darah dagingnya.


Kondisi Lisa memprihatinkan, bahkan jika hanya sekilas wajahnya sulit dikenali, karena lebam dan bengkak.


Mama Lisa semakin menangis, ia cium wajah kesakitan itu, wajah yang sangat ia rindukan.


"Maafin Mama sayang, Lisa anak Mama..."


Pak Jefri hanya menunduk berlutut, ia tidak berniat mengubah posisinya. Dihadapannya kini terbaring lemah seorang anak yang lahir dari benihnya, lalu bagaimana bisa ia melakukan ini semua, bagaimana bisa ia tidak peduli.


Ya Tuhan, apa yang aku lakukan, anakku... putriku...


Mama Lisa terus meciumi putrinya, berharap Lisa akan menyadari kehadirannya, tapi mata Lisa tertutup rapat, detak jantungnya lemah, kedua orang tuanya sedang dilanda sesal saat ini, telah mengambil keputusan yang sangat salah.


Sedikit lagi, sedikit lagi Pak Jefri menukar nyawa anaknya dengan sebuah rasa yang bernama egois.


Ia seharusnya bisa berlapang dada, mungkin ini ujian, walau kecewa tapi mengapa harus sampai membuang anaknya, mengapa ? apa sudah tidak ada sedikitpun sisa cinta untuk anak pembangkang ini ?


Pelan ia menyingkapkan kaki anaknya, dingin sangat dingin, ia mengusap-usap telapak kaki putrinya, lalu mencium kaki putrinya, sambil berucap maaf. Mama Lisa terkejut atas tindakan yang dilakukan suaminya. Apakah ego suaminya kini sudah luruh.

__ADS_1


Tapi terlambat, Lisa sudah seperti ini, hampir mati. Siksaan itu sudah terjadi, mereka benar-benar terlambat.


Disebuah gedung pencakar langit, dilantai atas gedung itu, seorang pria sedang tertunduk lemah, ia sangat menyayangkan apa yang terjadi.


Awalnya memang gara-gara anaknya, sehingga orang lain menciptakan dendam kesumat pada anaknya, lalu terjadilah hal diluar kendali, Lisa, seorang gadis malang yang mencoba mencari peruntungan dengan mendekati putranya beberapa bulan lalu, nasibnya kini sungguh tidak beruntung.


Lagi-lagi ia menyesal tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, ia bisa apa ? Lagi pula apa yang terjadi saat ini bukan lagi salah anaknya, haruskah ia ikut campur.


"Jo, terus awasi anak setan itu, dan suruh anak buahmu mengawasi keluarga Syarif, bagaimana mereka hidup, bantulah mereka, sedikit banyak aku harus bertanggung jawab, anak setan itulah penyebab awal segalanya"


Ucap Pak Adrian, sayang sekali anak setan itu adalah anaknya.


Lalu kedua pengawal tersebut berlalu menjalankan tugas mereka.


Pak Adrian masih tertunduk, ia tidak bisa sekejam almarhum papanya, Jason memang duplikatan papanya, kejam tak kenal ampun.


Nyawa bagi papanya adalah sebuah permainan, begitu pun halnya dengan Jason, darah itu mengalir lagi.


Ia ingat pesan terakhir almarhum papanya sebelum meninggal dunia, saat itu Jason masih berumur tiga tahun, papanya berkata Jason harus bahagia, jangan sampai mengikuti jejaknya, dunia mafia begitu kejam, pembunuhan akan menimbulkan banyak dendam, ia tidak mau cucunya menyakiti orang banyak seperti dirinya. Cukup saja dirinya.


Saat Pak Adrian tau putranya terlibat bisnis jual beli organ tubuh manusia saat yang terjadi pada Selena, ia mulai menelusuri apa saja yang mengelilingi hidup putranya.


Dari situ ia mengetahui, anaknya sudah terlibat dalam organisasi mafia, jual beli senjata dan organ tubuh ternyata sudah sering Jason lakukan, membobol bank, saham dan dana perusahaan lainnya ternyata juga dilakoni putranya, sayangnya ia melewatkan informasi ini, Jason yang masih dibawah umur membuat ia meninggalkan jauh pemikiran almarhum papanya, ia merasa tidak mungkin Jason terlibat sejauh itu.


Ia mengetahui, selama ini Jason kejam dalam menghadapi rivalnya, tentu itu bisa dilihat dalam perkembangan perusahaannya, namun ia sungguh tidak percaya anaknya juga berpotensi menjadi psikopat, bahkan mafia.


Ia juga menelusuri, dan yang membuat ia terkejut tidak bisa percaya adalah Jason Ares Adrian anaknya itu ternyata jauh lebih kaya darinya, sayang sekali sebagian uangnya adalah uang haram.


Ya Tuhan, sadarkanlah anak hamba...


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, dan vote


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2