Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kedatangan Athar.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Shakira?" tanya Shirleen, dirinya tengah berbaring di ranjang rumah sakit, wajahnya menatap sang suami serius meminta penjelasan.


"Dia kehilangan bayinya!" jawab Jason.


Tangis yang memang sudah dari tadi Shirleen lakukan kini terurai lagi, tidak, ini juga salahnya. Dirinya ikut andil mengakibatkan Shakira sampai keguguran.


"By, tenangkan dirimu!" pinta Jason.


"By, ini juga salahku!"


"Tidak By, tidak! Ini bukan salahmu, adapun orang yang bersalah di sini adalah Gilbert sialan itu, dia penyebab semuanya terjadi, dia yang telah berani mencoba mencelakaimu, namun sayangnya harus beralih pada Shakira."


"Tapi Shakira menyelamatkanku!"


"Sudah, jangan terlalu menyalahkan dirimu, ini ujian bagi Roy dan Shakira!" ucap Jason.


"By, bagaimana bisa?"


"Kita akan saling menguatkan, kita akan bawa Roy dan Shakira bangkit dari keterpurukannya, kau istirahatlah, nanti kalau situasi sudah aman kita akan menjenguk Shakira."


"Oh Shakira, maafkan aku, aku tidak bisa mencegah semuanya." lirih Shirleen.


Athar mengemudikan motornya pelan, mencari-cari rumah yang katanya ditinggali oleh Sri dan Fahira, tiba-tiba saja ia mengingat anak angkat yang pernah ia duga adalah anaknya itu.


"Aduh lupa lagi aku, nomor berapa yah kemarin?" kemudian Athar menghentikan motornya, mengecek chat terakhir dirinya dengan Sri saat itu Sri memberitahukan alamatnya.


"Oalah, bukan jalan ini ternyata!" ucap Athar, dirinya putar balik untuk menemukan alamat sebenarnya.


Setengah jam Athar mencari, hingga tibalah dirinya sampai pada sebuah toko kelontong, lokasinya menyebutkan di situlah Sri tinggal, namun mana mungkin, ini kan toko bukan rumah pikir Athar.


"Permisi Mbak, emm mau tanya, rumah Dareen di mana yah?" tanya Athar, dirinya sengaja menyebutkan nama Dareen karena di chat waktu itu Sri meminta untuk menanyakan rumah Dareen saja karena katanya orang di sekitar situ pasti mengenali.


"Oh rumah Mas Dareen, benar inilah rumahnya, di belakang toko ini rumahnya, Mas lewat pintu samping aja, rumahnya nyambung kok sama toko ini." jelas pegawai toko tersebut.


"Oh begitu, makasih ya Mbak!" ucap Athar sembari tersenyum manis.


"Gila sih, tuh Om Om kok ganteng ya!" ujar salah satu pelayan tadi.


"Husss, kamu ini yang kayak gitu pasti udah punya istri, mau jadi pelakor kamu?"


"Ya enggak lah, aku kan cuma jujur aja, tuh Om Om emang ganteng bukan berarti aku mau jadi bininya, tapi sih kalau dia singel aku mau kok!"


Bugh!


"Aww, Sinta, sakit..."

__ADS_1


"Makanya jangan ganjen, ketauan Mas Dareen mau di ceramahin ntar, Mas Dareen paling nggak suka ya kalau kita kek gitu liat cowok!" ujar pelayan yang bernama Sinta mengingatkan.


"Hilih, gayamu, awas lho kalau kamu nyolong start nanti ya!"


"Gak akan!"


Suara ketukan pintu terdengar saat Dareen dan Sri sedang bercumbu mesra, Fahira sedang tidur dan Dareen merasa punya kesempatan memadu kasih dengan sang istri.


"Siapa sih?" kesal Dareen.


"Buka aja Mas, ayok!" sahut Sri ambigu, Sri masih berbaring, tubuhnya sedikit ditindih oleh Dareen, jadi bagaimana dirinya bisa bangkit.


Spontan saja Dareen langsung membuka celananya, dirinya tidak perduli akan siapa yang bertamu.


"Mas mau ngapain?" tanya Sri.


"Mau mantap-mantap, kan tadi katanya buka ayok!" jawab Dareen santai.


"Ih bukan buka yang itu, pintunya Mas yang dibuka, itu ada orang, awas minggirin ini badan Mas, biar aku yang bukain!" ucap Sri dongkol, Dareen selalu aja tiba-tiba berubah beg* kalau mau nganu, gak inget apa-apa lagi, katanya anak Ustadz tapi kelakuan mesum naudzubillah kalau sama istri.


"Jadi maksudnya nggak jadi nih mantap-mantapannya?" tanya Dareen sok lesu.


"Ya kan ada orang Mas!" Sri sedikit membenarkan bajunya yang sudah terbuka akibat ulah suaminya.


"Haahh!" Dareen menghembuskan nafasnya pelan.


Sementara Sri mematut penampilannya di cermin, memakai jilbab dan setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan barulah dirinya bergegas membukakan pintu.


Ceklek,


"Assalamualaikum!" sapa Athar.


"Waalaikum Salam! Mas Athar ternyata, sama siapa Mas?" tanya Sri antusias.


"Sendiri Sri, nyari rumah kalian lumayan susah ya!" ucap Athar berbasa-basi.


"Masuk Mas, duh kenapa nggak ngabarin sih kalau mau ke sini, aku kan bisa buat cemilan." ucap Sri ramah.


"Nggak apa Sri, aku cuma kangen sama Fahira, di mana dia?" tanya Athar, bokongnya sudah mendarat di sofa di ruang tamu rumah Sri yang kecil, namun Athar rasa rumah ini cukup nyaman.


"Dia tidur Mas, baru aja, sebentar aku panggilkan Mas Dareen dulu yah!"


Athar mengangguk, di sampingnya ada sebuah mainan yang dirinya bawa untuk dihadiahkan pada Fahira.


Sementara besok barulah rencananya dirinya akan mengunjungi Misca, ia akan menanyakan bagaimana hasil rapor putri kandungnya itu, dan ada sedikit hadiah kecil yang akan dirinya berikan juga.

__ADS_1


"Mas Athar, bagaimana kabar Mas, kok nggak bilang dulu mau ke sini?" tanya Dareen berusaha bersikap ramah dan mencoba memaafkan Athar atas kedatangan yang mengganggu moment nganunya.


"Iya nih, tiba-tiba ingat Fahira, kangen jadinya aku cari alamat kalian yang waktu itu dikirimin Sri, ternyata lumayan susah juga nyarinya." ujar Athar.


"Pasti ketuker sama gang sebelah yah, namanya hampir sama soalnya." tebak Dareen. "Kalau cuma sekilas ya banyak orang yang salah Mas!" lanjutnya.


"Lah iya, makanya pas aku cek lagi ternyata salah alamat." ujar Athar diiringi tawa renyah.


Tak lama Sri datang membawa nampan berisikan teh hangat beserta camilan yang dirinya ambik dari toko, "Silahkan diminum Mas!" ujar Sri mempersilahkan.


Athar mengangguk mengiyakan.


"Ini, ada sedikit oleh-oleh, waduh udah pinter ngapain itu Fahira Sri?" tanya Athar sembari tangannya memberikan sebuah mainan boneka yang bisa bernyanyi jika dirinya aktifkan baterainya.


"Udah bisa jalan Mas, kemaren abis dari Jogja eh taunya pas di Jogja udah bisa aja jalan dianya." ujar Sri sembari mengambil mainan yang dihadiahkan Athar untuk anaknya.


"Baru abis mudik kalian ternyata!" ucap Athar.


"Iya Mas, untung Mas Athar berkunjungnya hari ini, kalau kemaren kami masih di rumah Bapak belum pulang ke sini abis dari Jogja." jelas Dareen.


"Oh, ya ya, nanti kalau mau ke sini lagi aku hubungi kalian dulu lah, takutnya kalian nggak di rumah." ucap Athar.


"Nah iya Mas, itu lebih bagus."


Supaya nggak ngerusak moment lagi Mas.


Batin Dareen menggerutu, dirinya masih kesal, namun mencoba menahan semua itu demi


kebaikan.


"Kabar Mas bagaimana?" tanya Sri.


"Baik Sri, ah iya Mas juga mau ngabarin kalau Ibu udah nggak ada." ucap Athar, dirinya merasa perlu memberitahukan pada Sri meski Sri tidak ada hubungan sama sekali dengan Ibunya namun Sri pernah menjadi bagian penting di rumahnya.


"Innalilahi wainailaihi Rojiun..."


Ucap Sri dan Dareen bersamaan.


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Like, coment, and Vote !!!


__ADS_2