Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kerumah Weni.


__ADS_3

"Weni. dan Yudha ?" tanya Shirleen memastikan.


"Iya"


"Kok bisa ?" tanya Shirleen lagi.


"Ya mana aku tau" jawab santai Jason.


"Jadi ini gimana, aku kasih alamatnya aja." tanya Shirleen lagi, suami yang pencemburu jadi ia harus berhati-hati.


"Kamu maunya gimana ?" tanya balik Jason.


"Emangnya kalo aku ikut kesana kamu bolehin ?"


"Heemm, udah ku duga sih" ucap Jason.


"Gak boleh ya ?"


"Boleh, bawa anak-anak juga, kamu kan katanya pernah mau ke rumah Weni ?" ucap Jason pada akhirnya.


"Ah iya, makasih sayangku" ucap Shirleen manja.


"Heemm, kalau ada maunya aja bilang sayang" gerutu Jason.


"Dih, aku selalu sayang yaaa" protes Shirleen.


"Masa ?" ucap Jason dengan muka songong minta di tabok panci.


"Nanti bini gue juga ikut, yuk sarapan dulu, entar selesai sarapan baru peginya." ucap Jason, kemudian ia mengikuti langkah Shirleen menuju dapur, lalu diikuti Angga dan Afik.


"Lo nggak ikut Junedi ?" tanya Afik saat mereka sudah mendarat mulus di kursi makan.


"Nggak, gue ada pertemuan jam delapan entar, lo pada aja sama bini gue" jawab Jason.


"Mana Ipah By ?" tanya Jason pada Shirleen yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


"Enak banget punya bini" sindir Angga.


"Makan disiapin, lah pen nyanyi gue" sambung Afik lagi.


"Nyanyi apaan ?" tanya Angga.


"Masih kecil makan disiapin, mau mimi mama yang nyiapin, ya kali mimi, canda mimi" sindir Afik.


"Main ganti-ganti aja tuh lirik lagu" protes Angga.

__ADS_1


"Ya terkhusus buat Junedi" ucap Afik.


"Sa ae lo nyet"


Bugh, satu buah anggur mendarat di kening Afik, Jason memang selalu tepat sasaran.


Afik menggeram kesal saat ia menoleh kearah si pelempar, Jason malah tampak biasa saja melanjutkan romantisme dengan Shireen, membuat jiwa jomblonya dan Angga meronta-ronta.


"Kacang rebus, kacang rebus" ucap Angga yang merasa di kacangin, membuat Shirleen semangkin merasa tidak nyaman, namun Jason terus saja menggodanya untuk menunjukkan betapa romantisnya Jason dan dirinya di hadapan Angga dan Afik.


"By lepasin." bisiknya sembari memelototi Jason yang masih betah menggenggam dan menciumi tangannya.


Jason kemudian melepaskan genggamannya, sudah cukup pamernya.


"Ampun dah, iye tau gue, senangnya punya bini, gak segitunya juga kali" kali ini Afik, sungguh baginya Jason sangat menyebalkan.


Ipah pun datang, ia baru saja menerima telpon dari orang tuanya sehingga ia keluar sebentar tadi.


Lalu ia mengambilkan makanan untuk Afik dan Angga, dan setelahnya akan menunggui Misca dan Jacob di ruang keluarga.


"Ipah." panggil Jason.


"Ya Tuan Muda"


"Nanti kau antarkan istriku sama anak-anak kerumah temannya ya" perintah Jason.


"Ya sudah, kau boleh pergi"


Mereka semua pun sarapan bersama, Angga dan Afik kebetulan juga belum sempat sarapan sebelum kerumah Jason tadi.


"Selamat pagi, untuk pagi di rumah baru" ucap Sri, saat Dareen sudah bangun dari tidurnya dan menuju dapur untuk mencuci muka.


Sri sedang menyiapkan sarapan, Fahira sedang berada di ayunan, bayi mungil itu tampak anteng dan sudah mulai mengoceh meramaikan suasana.


"Pagi" balas Dareen.


Ia lalu mandi lagi, setelah subuh tadi sebenarnya ia juga sudah mandi untuk sholat subuh, tapi berhubung ia sempat tidur lagi dan dengan bodohnya bermimpi melakukan sesuatu dengan Sri jadi ia memutuskan untuk mandi wajib membersihkan diri.


Sebenarnya Dareen sudah berapa kali bermimpi tentang ia dan Sri, namun karena ia masih belum juga yakin dengan perasaannya jadilah sampai saat ini pun ia belum menyentuh Sri, saat ini mereka mungkin baru sampai di tahap pacaran setelah menikah, menumbuhkan cinta diantara mereka berdua.


Padahal yang sebenarnya, Dareen benar-benar sudah mencintai Sri, ia mulai berketergantungan dengan Sri, ia mulai terbiasa mempunyai teman hidup, mulai terbiasa akan kehadiran Sri, hanya saja sayangnya ia tidak menyadari itu semua, meski dalam mimpinya sering kali dirinya berfantasi melakukannya dengan Sri.


Sri hanya bisa menunggu, ia yakin kalau sudah waktunya semua akan sangat terasa indah.


"Nanti gue mau ke peternakan, lo kalau Fahira tidur, tapi kalau lo nggak ada kerjaan sih, main-main aja ke toko, udah aku buatin ayunan buat Sri dekat dengan kasir, belajar hapalin harga pelan-pelan" ucap Dareen.

__ADS_1


"Iya Mas, Mas Dareen bawa bekal apa nggak nantinya, apa pulang makan siangnya ?" tanya Sri.


"Kalau bawa bekal, lo udah masak tapi emangnya, kalau belum biar gue beli aja nanti" jawab Dareen.


"Udah sih Mas, cuma belum mateng, kalau Mas mau nunggu bentar nanti aku bungkusin" ucap Sri.


"Ya udah, sambil makan ini juga, hemm masih setengah jam lagi keknya ?"


Dareen dan Sri pun makan bersama, sarapan sederhana yang dibuat oleh Sri dengan penuh cinta.


Sementara di rumah Weni.


"Aku nggak tau lagi Bu harus ngapain ?" keluh Weni pada orang tuanya.


"Nak terima saja ajakan pacarannya, Ibu rasa tidak ada salahnya kalau dia memang cinta" usul Ibunya Weni.


"Ma, aku nggak bisa, nanti kalau pacaran sama dia mau mutusinnya aja susah pastinya" ucap Weni, belum pacaran saja ia sudah memikirkan bagaimana caranya untuk putus.


Dilihatnya Yudha sedang menonton kartun bak anak kecil saja, bagaimana bisa bocah itu sangat santai di rumah orang seperti ini pikir Weni.


Tok tok tok.


"Nah siapa tuh Bu" tanya Weni.


"Mana Ibu tau, ayahmu kali, biasa lah, selalu aja ada yang ketinggalan" ujar Ibunya Weni, ia menebak sang suami yang saat sudah berangkat ke kantor sering kali kembali karena biasanya ada saja yang kelupaan.


"Ya udah, ibu aja yang buka, Weni mau lanjut buka kerjaan di kamar" ujar Weni, beberapa hari ini semenjak Yudha menginap. dirumahnya, ia terpaksa harus kerja via online.


Ibunya Weni pun bergegas menuju pintu utama untuk membukakan pintu, aneh sekali kalau itu benar suaminya pintunya kan tidak dikunci kenapa tidak langsung masuk saja, ini pasti tamu yang entah siapa pikirnya.


"Iya sebentar" sahutnya.


Ceklek, pintu pun dibuka, ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.


"Ilen, aduh kenapa nggak ngabarin kalau mau kesini ?" ucap ibunya Weni bahagia, kemarin saat mereka bertemu di pesta ia tidak sempat untuk berbincang banyak dengan wanita yang sudah bagai anak sendiri baginya itu, semenjak memutuskan untuk menikah dengan Athar dulu, Shirleen memang jarang sekali berkunjung kerumahnya, paling hanya saat hari raya saja, itupun setahun sekali, padahal mereka masih tinggal di kota yang sama.


"Ibu apa kabar" ujar Shirleen sembari mencium tangan Ibunya Weni, ah ia rindu sekali suasana ini, suasana dirumah ini, padahal dulu ia sering sekali menginap disini.


Weni menghentikan kegiatannya saat mendengar suara yang sangat amat ia kenali.


"Ya Tuhan, Ilen..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2