Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Tabrakan.


__ADS_3

Sri melihat jam dinding yang menggantung di ruang tamu, malam menunjukkan pukul 21:15, ia masih ingat Dwi biasanya sedang mengemas buah tomat di jam segini, hasil panen siang tadi biasanya akan di kirim besok pagi-pagi sekali, temannya itu pasti sedang mengerjakan tugasnya yang biasanya malah baru bisa selesai sampai jam satu dini hari.


Ia meyakinkan dirinya untuk meminta bantuan Dareen, jika Dareen mau membantunya ia putuskan akan menelpon Dwi meski sekarang sudah hampir malam.


"Tuan, bolehkah saya meminjam ponsel tuan untuk menelpon teman saya ?" tanya Sri ragu.


"Hah, lo gila yaaa nelponin orang malem-malem gini, heh kek nggak ada waktu siang ajah" sewot Dareen.


"Tapi Tuan... Ah tidak, ya sudah tapi besok pagi bisakah tuan meminjamkan saya ponsel tuan ?"


"Emang segitu pentingnya ya teman lo itu ?" tanya Dareen, ia cukup penasaran siapa sebenarnya Dwi Rangga itu.


"Iya Tuan, karena hanya dia yang bisa membantu saya"


"Bantuin lo ?"


"Iya Tuan, ya sudah tuan kalau begitu saya balik ke kamar lagi ini sudah larut malam" ucap Sri, ia lalu berbalik hendak masuk ke kamarnya.


"Eehh Sri tunggu..." cegah Dareen.


"Iya Tuan, kenapa ?"


"ini, kalo lo emang butuh banget" Dareen memberikan ponselnya pada Sri, sungguh rasa penasaran telah mengalahkan gengsi tingginya.


"Beneran tuan ?" Sri tidak percaya ternyata Dareen tidak seburuk yang ia kira.


"Jangan geer lo, gue itu cuma kasian aja sama lo" angkuhnya untuk menutupi kekepoannya.


"Iya tuan saya juga tau, pasti tuan cuma kasihan" ucap Sri.


"Ya udah ini ambil" Dareen memberikan ponselnya yang masih belum juga diambil Sri.


"Terimakasih Tuan"


Lalu Sri langsung menelpon Dwi untuk mengetahui kabar orang tuanya, berharap Dwi bisa meminjamkan ponselnya juga pada orang tuanya karena jarak rumahnya dan rumah Dwi hanya terpaut dua rumah saja.


Namun karena takut mengganggu orang rumah dan jika di kamar takut malah membangunkan Fahira, Sri memilih menelpon di teras depan rumah Pak Safar.

__ADS_1


Hal itu juga yang semakin menyulut rasa ingin tahu Dareen, sampai segitunya Sri menghindar untuk menelpon si Dwi Rangga itu pikirnya.


Tanpa Sri ketahui, ternyata Dareen mengikutinya dari belakang, rasa kepo Dareen sudah sangat memuncak kala mendapati Sri yang nampak girang bisa menelpon Dwi Rangga bagai dua orang yang sudah lama tidak berkabar.


Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Sri berhasil menelpon Dwi, Dwi langsung saja berlari menuju rumah orang tua Sri supaya Sri bisa langsung berbicara pada orang tuanya.


Kini Sri yang tampak girang itu sebenarnya sedang berbicara dengan simbok namun lagi lagi Dareen tidak bisa mendengar dengan jelas sehingga hanya ada salah paham dihatinya.


"Seneng banget bisa nelpon cowoknya" gumam Dareen pelan, ia tersenyum remeh sembari memperharikan Sri.


Lama ia menyaksikan apa saja yang Sri lakukan selama menelpon, satu yang ia bisa simpulkan ialah Sri benar-benar melepas rindu sepertinya.


"Lup" listrik yang tiba-tiba padam membuat panik keduanya, di perumahan padat penduduk seperti rumah Pak Safar apa lagi perumahan itu juga menjadi salah satu kawasan yang terkena banjir membuat hari ini saja setidaknya listrik sudah mati sebanyak empat kali.


Dareen panik karena sebenarnya ia merasa harus menjaga Fahira saat Sri menelepon si Dwi Rangga namun ia tidak melakukannya karena terlalu ingin tau dengan urusan Sri.


Sementara Sri ia mendadak panik karena Fahira yang ia duga hanya ditemani oleh Dareen, saat mati lampu seperti ini ia takut Fahira terbangun dan mencarinya.


"Bughh"


"Auww"


Sri seperti menabrak seseorang, karena terlalu panik ia yang saat itu dibawah kegelapan tidak terlalu memperhatikan jalan sehingga sepertinya ia menabrak sesorang lalu jatuh teduduk dikursi ruang tamu, dan saat itu juga Pak Safar yang sedang membawa senter untuk memberikan penerangan pada Sri sangat terkejut dengan apa yang ia saksikan dengan senternya, ia melihat anak bujangnya itu menindih tubuh Sri, dan parahnya lagi entah bagaimana caranya baju bagian depan Sri sedikit tersingkap.


"Astagfirullahaladzim Dareen" teriak Pak Safar, sehingga membuat Bu Halima auto ngibrit berlari menuju sumber suara.


Keduanya kini dengan refleks memisahkan diri, dan Dareen bagaimana pun ia sudah bersentuhan dengan Sri, apa lagi dengan posisi seperti itu, kini ia hanya memikirkan bagaimana meyakinkan orang tuanya kalau ia dan Sri benar-benar tidak sengaja bertabrakan hingga terjatuh.


"Ada apa Pak, kenapa teriak teriak, kasihan Fahira sedang tidur, malu sama tetangga" ucap Bu Halima yang tidak melihat apa yang disaksikan Pak Safar tadi karena saat beliau datang Dareen dan Sri sudah berdiri sambil tertunduk, tidak tepatnya hanya Sri saja yang tertunduk, sementara Dareen ia sepertinya sedang fokus memikirkan sesuatu.


"Bu, anakmu" ucap Pak Safar.


"Kenapa Pak, Dareen kenapa ?" Bu Halima lalu memandang putranya penuh tanda tanya. "Ada apa Dareen ?"


"Bu ini hanya salah paham" ucap Daren "Pak, Bapak sapah paham, aku dan Sri bertabrakan lalu terjatuh" papar Dareen.


"Lalu kenapa kalian berada di ruang tamu ? Sri bukannya kamu harusnya menemani Fahira" tanya Pak Safar tegas sekali, terdengar dari nada bicaranya saat ini ia benar-benar serius dan mungkin juga marah.

__ADS_1


"Aku.. aku tadi sedang menelepon orang tuaku di kampung Pak Ustadz, lalu tiba-tiba mati lampu dan ternyata aku tidak sengaja menabrak tuan Dareen lalu terjatuh dikursi" jelas Sri jujur.


"Dan kamu Dareen ?" tanya Bapaknya lagi.


"Aku yaaa mau ngambil ponsel aku, sekalian mau nanya Sri udah belum nelponnya" jawab Dareen beralasan.


"Heh, lalu kenapa tidak langsung memisahkan diri setelah bertabrakan dan bersentuhan seperti itu, kalian menyadari kalian bukan muhrim" Tanya Pak Safar lagi.


Keduanya tercekat, Sri bingung bagaimana cara menjelaskannya. Apa lagi kali ini ia berhadapan dengan orang yang taat agama.


"Yaaa mana aku tau tiba-tiba Bapak datang nyenterin kita, aku aja baru jatohnya" jawab Dareen lagi.


"Dareen jadi kalau Bapak tidak segera menemukan kalian seperti itu, mau kamu apa ?"


"Yaaa nggak ngapa-ngapain Pak, bangkit lalu minta maaf sama Sri, udah" jawab singkat Dareen.


"Hiks hiks" tiba-tiba Bu Halima menangis, ia malah membelai pipi Sri seolah Sri baru saja tersakiti.


"Sungguh malang nasibmu nak, anak kurang ajar ini sudah melakukan apa denganmu ?" ucap Bu Halima dengan terisak.


"Bu, Tuan Dareen tidak melakukan apapun, kami benar-benar hanya tidak sengaja tertabrak" ucap Sri sembari menenangkan Bu Halima.


"Ayo kita ke kamar, kasihan Fahira harus tidur sendirian, mana gelap lagi" ajak Bu Halima.


"Hei Bu sebenarnya anak Ibu itu siapa sih" ucap Dareen, ia sangat kesal melihat ibunya yang sangat perhatian pada Sri.


"Diam kamu, apa yang telah kamu lakukan pada Sri, kalian bukan muhrim tapi sudah bersentuhan" ucap Bu Halima.


"Bu. kami tidak sengaja, Ibu salah paham, Pak percaya Bapak salah paham"


Entah mengapa dari mata Bapaknya, Dareen seakan bisa melihat kekecewaan dan tidak adanya kepercayaan dengan apa yang baru saja terjadi padanya dan Sri.


"Ah sial..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2