
Mery mencoba memberanikan diri memberi saran saat melihat Bosnya itu nampak sudah pucat.
"Tuan Muda, apa sebaiknya Tuan Muda beristirahat saja di ruangan, nanti akan saya suruh OB untuk buatkan teh hangat, Tuan Muda tampak pucat." ucap Mery.
Setelah selesai rapat pagi ini, ia melihat Tuan Mudanya itu nampak tidak bersemangat, tidak biasanya mengingat Tuan Mudanya adalah seorang yang perfectionist.
"Hemm !" tanggap Jason sembari melonggarkan ikatan dasinya.
"Pertemuan dengan Tuan Wirawan sekitar satu jam lagi, saya akan mengundurkan jadwalnya setelah makan siang." ucap Mery lagi.
Jason bangkit dan meninggalkan Mery di ruang rapat, tidak ada jawaban setuju atau tidaknya, bahkan anggukan pun tidak, apa maksudnya pikir Mery.
Ia kembali menyusun ulang agenda kerja Tuan Mudanya, menghubungi kolega-kolega bisnis yang pertemuannya mungkin akan dimundurkan.
Jason kembali ke ruangannya, menatap jalanan dari kaca gedung, menangkap sebuah pemandangan yang menggores luka hatinya.
Seorang anak dengan masih memakai seragam SMP sedang berjalan bersama sang ayah yang tampak terlihat menuntun motor bebeknya.
Tampak bercanda riang, meski sangat sederhana namun jujur saja hatinya iri.
Dimana ia yang selama ini berlimpahkan kekayaan hidup bergelimang harta dunia namun tidak pernah diperhatikan, semanjak saat itu ia bahkan tidak pernah bersenda gurau dengan sang ayah.
Saat umurnya seperti itu seharusnya ia masih bisa menikmati hidup, andai papanya lebih mengerti, Jason semakin rindu masa kecilnya malah semakin sakit ia dapatkan.
Jason menuju sebuah kamar di ruangannya, ia mengikuti saran Mery untuk beristirahat sejenak, kepalanya berat sekali nampaknya ia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa aku bisa menyedihkan begini ?" gumamnya tidak percaya akan kondisi yang sedang ia alami.
Berbaring dan mencoba memejamkan mata, namun hanya gelisah yang ia dapatkan, tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi, semakin ia berdiam diri maka semakin tidak nyamanlah yang ia rasakan.
Jantungnya berdebar, perutnya seakan kosong tak terisi padahal ia tidak pernah melewatkan sarapan, ia memejamkan mata kembali namun masih saja tidak bisa.
Saat ini yang ia butuhkan hanya Roy, Roy pasti akan menjaganya dengan baik saat di kantor seperti ini.
Mengingat nama itu Jason tersenyum samar, tidak disangka asisten pribadinya itu akan menikah dengan anak buahnya, Shakira memang sama keras kepala dengannya, jika menginginkan sesuatu maka tidak bisa semudah itu untuk menyerah, sama seperti ia yang berhasil mendapatkan Shirleen, Shakira pun sama pelan namun pasti berhasil mendapatkan Roy.
"Hoeekk hoeekk," Jason gegas berlari menuju kamar mandi, memuntahkan seluruh isi perutnya, sarapan nasi goreng ikan asin tadi pagi nampak tidak nyaman ia muntahkan lagi.
Ia memijit tengkuknya pelan, menumpahkan habis seluruhnya tak bersisa, sehingga hanya ada kesakitan yang ia rasakan sebab tidak ada lagi yang harus ia muntahkan.
__ADS_1
Ia lemas, pelan menuju pembaringan lagi, ia menyeringit heran tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri.
Mery ingin mengantarkan teh hangat, namun saat ia mengetuk pintu tidak ada sahutan yang ia dengar, membuat ia mengurungkan niatnya, menaruh lagi teh hangat tersebut pada meja di ruangannya.
Jason sungguh tersiksa, kepalanya serasa mau pecah, badannya mulai meriang, sudah ia duga pasti akan berakhir begini, ia demam.
Mengambil ponsel dari saku jasnya, menelpon Darwin mungkin akan lebih baik.
"Datanglah ke Kantorku, temui aku di ruangan, kau langsung masuk saja nanti, aku butuh sedikit bantuanmu, ajak Ben juga."
^^^"Baik Bos !"^^^
Jason mencoba memejamkan mata lagi, namun rasa tidak nyaman yang direaksikan tubuhnya itu semakin menyiksanya.
Sekitar dua puluh menit berlalu, Ben dan Darwin sudah datang di ruangan CEO ARAD Group, keduanya menduga Bosnya pasti sedang berada di kamar, haruskah mereka masuk.
"Lo duluan ?" suruh Ben pada rekannya.
"Kok gue lebih takut ngadepin Bos dari pada si Polisi ya, lagian itu sih Royand lama banget liburannya, diantara kita semua kan cuma dia yang bisa jadi cenayang." ujar Darwin.
"Udah masuk aja dulu, dari suaranya nelpon lo tadi gue takutnya si Bos kenapa-napa ?" usul Ben.
"Bininya sih yang berani !" ucap nyeleneh Ben.
"Lah iya juga, apa si Bos sedang ada drama rumah tangga ?" tanya Darwin lagi.
"Tau ah, udah buruan lo mau dipenggal ini kepala ?" Ben mendorong tubuh Darwin sampai ke depan pintu kamar.
"Sialan lo !" umpat Darwin.
dua menit berlalu, Darwin masih diam saja sesekali mengaruk kepalanya yang tidak gatal, tangannya seolah kaku bingung antara mau mengetuk pintu atau tidak.
Darwin mendekatkan telinganya ke daun pintu, tidak ada suara apapun, apa kamar ini kedap suara ya, dan lagi apa benar Bosnya ada di ruangan ini, batin Darwin.
"Apa lagi ?" tanya Ben yang menyadari tidak ada pergerakan dari Darwin.
"Takuuuttt..." ucap Darwin bernada menggelikan.
"Jijik gue, ampun deh malu sama badan woy, sini biar gue yang ngetuk tapi nanti lo yang ngadepin Bos ya !" usul Ben yang sebenarnya tidak membantu apapun.
__ADS_1
"Enak aja lo, seneng di lo susah di gue itu !" ralat Darwin tidak setuju, "Gue kalau cuma ngetuk pintu juga oke-oke aja kali, nanti kalau didalem Bos lagi enakan tidur gimana, mau cari mati lo ?" ucapnya.
"Udah gini aja, hadapain bersama, ketuk sama-sama nanti gue bantu ngomong kalau Bos ngamuk !" usul Ben lagi.
"Ya udah, dari tadi kek, gak perlu kan dorong-dorong gue !"
"Ya udah, ayok !"
"Tok tok tok" suara pintu berhasil diketuk setelah melewati drama bisik bisik tetangga tadi.
Jason yang saat itu sedang berada dikamar mandi samar mendengar ketukan pintu, dengan sisa tenaga gegas ia membukan pintu.
Benar Darwin dan Ben sudah datang, kehadirannya memang sudah Jason tunggu sedari tadi.
"Masuk !" ucap Jason parau.
Darwin dan Ben nampak heran karena baru kali ini mereka melihat kondisi wajah Bos mereka yang nampak menyedihkan, muka pucat, hidung merah, rambut awutan, sebenarnya apa yang telah terjadi pikir mereka.
"Bos demam ?" tanya Darwin.
"Hemm !" sakit tidak sakit ternyata jawabannya sama saja gumam Darwin dalam hati.
"Kita kerumah sakit ?" usul Ben.
"Tidak perlu," tolak Jason, "Salah satu dari kalian bawa aku pulang, satunya lagi handel pekerjaan disini bilang sama Mery kalau aku tidak bisa ditemui untuk hari ini." suruh Jason pada kedua anak buahnya.
"Baik Bos !" ucap keduanya bersamaan.
Lalu keduanya memutuskan berbagi tugas, Darwin akan menghendel pekerjaan disini serta memberitahukan perintah Bosnya pada Mery, sementara Ben membawa Bosnya pulang kerumah.
"Bos benar-benar demam, tubuhnya panas begini !" gumam Ben saat menuntun tubuh Bosnya itu keluar ruangan.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1