
Malam kini telah menggantikan terangnya siang dengan kegelapan, namun Jason masih enggan beranjak dari kamarnya.
Setelah Mama Mila membawanya ke kamar untuk memberikan sepucuk surat dari Shirleen, ia tidak lagi keluar kamar, Mama Mila pun tidak begitu membantah apa yang ia lakukan, Mama Mila tau ini pasti berat.
Ditinggalkan dengan harapan kekasihnya akan kembali, tapi Jason tidak bisa jika harus berpisah dari Shirleen sehari saja.
By, berjanjilah padaku, kau akan kembali.
Dalam hatinya terus melafalkan kata itu, ia sangat berharap Shirleen akan kembali.
Ia baca kembali surat yang berisi tulisan tangan Shirleen, ia baca berulang-ulang, hanya ini yang bisa menguatkannya.
Berjanjilah padaku By...
Mama Mila berniat memberikan makan malam dan segelas susu untuk anaknya itu, walau ia tau pasti Jason tidak akan mau, tapi mau bagaimana lagi, Jason belum makan dari tadi pagi.
"Jason, makan dulu yuk nak" Mama Mila membuka pintu kamar, ia melihat putranya masih dengan posisi yang sama saat ia tinggalkan tadi, tatapannya kosong sekosong hatinya.
Mama Mila meletakkan nampan berisi makanan itu diatas nakas, kini ia hendak menyuapi putranya...
Praannggg...
Suara piring dan sendok berhamburan serta isinya. Jason menangkis tangannya kuat hingga semuanya jatuh pecah berserakan.
Jason hanya ingin sendiri, baginya Mamanya sama saja dengan Papanya, perebut kebahagiaannya.
Tatapan dingin bagai busur panah yang siap menghujam jantung siapa saja jika berhadapan dengannya, beruntung saja kali ini sang putra tidak melayangkan amukan lagi.
__ADS_1
Kalau sudah begini Mama Mila tau, tidak ada gunanya memberi perhatian pada seorang Jason Ares Adrian.
Dengan langkah gontai ia keluar dari kamar putranya, menyuruh salah satu maid untuk membereskan kekacauan dikamar putranya.
Ia ingin menemui suaminya dikamar, suaminya mengalami luka lebam dan patah tulang di salah satu tangan dan kakinya, sungguh sudah sedari dulu ia tidak ingin ini terjadi, namun jika tidak begini Jason tetap akan salah jalan tanpa ada yang memberi pengertian.
"Papa tidak menyangka begitu sulit merubah sifat anak itu" ucap Pak Adrian pada istrinya, ia tampak meringis menahan sakit saat sedang dibantu istrinya untuk duduk bersandarkan bantal dibelakangnya.
"Itulah yang Mama takutkan, ia tidak akan tinggal diam jika apa yang ia mau tidak tercapai, sedari kecil ia sudah selalu dituruti, sekarang Papa sadar kan, waktu bersama anak jauh lebih berharga dari apapun, harta kekayaan tidak ada artinya jika sudah begini, apa ada yang lebih penting dari kebahagiaan putra kita, Mama menyesal Pa menuruti kemauan Papa untuk melatihnya sedari kecil, kita telah mengambil masa kecilnya yang berharga"
"Jason tidak mau makan, ia bahkan mengabaikan kepedulian Mama Pa" ucap Mama Mila, air matanya yang menggenang akhirnya jatuh jua, ia sangat terpukul, baru kali ini ia tidak berhasil merebut hati putranya.
"Ma, apa Jason akan memaafkan Papa ?" tanya Pak Adrian sendu.
"Semoga saja, Mama rasa Jason butuh waktu sendiri"
Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing, Pak Adrian dengan pikiran kacaunya yang menyadari secara tidak langsung telah menghancurkan hidup putranya, sementara Mama Mila ingin sekali menghubungi Shirleen, entah calon mantunya itu sudah sampai apakah belum ke tempat tujuan. Namun tidak mendapatkan waktu yang tepat.
Athar menghela nafas panjang setelah melalui hari tak terduga baginya, hari ini ia benar-benar resmi menyandang status dudanya.
Ia memutar ulang memori perkenalannya dengan Riana, singkat namun begitu berpengaruh dalam hidupnya.
Dimana ia dengan tega menduakan Shirleen yang begitu ia cintai, dipikir sekali lagi, bagaimana bisa ia melepaskan Shirleen lalu menggantikan posisinya dengan Riana, dilihat dari sudut manapun Shirleen jauh lebih segalanya dari Riana, lalu mengapa ia bisa tergoda.
Heh, ia terkekeh pelan menyadari kebodohannya. Entahlah wanita memang punya racun tersendiri untuk menyesatkan para pria.
Ia mulai membandingkan Shirleen dan Riana, membuat ia semakin merindukan sosok istrinya itu, entah sedang apa Shirleen saat ini pikirnya.
__ADS_1
Ah iya, ia masih mempunyai nomor Shirleen, ini belum terlalu larut, ia akan mencoba menghubungi mantan istrinya itu, mungkin dengan dalih merindukan Misca bisa menjadi alasan yang tepat, besok Athar akan mengajak mereka bertemu pikirnya.
Lalu ia mendial nomor mantan istrinya, sayang sekali tidak tersambung, nomor itu tidak lagi aktif.
Athar mulai gusar, berapa kali ia mencoba terus menghubungi , namun tetap sama nomor itu sudah tidak aktif, mungkinkah Shirleen mengganti nomornya.
Kenyataan yang sebenarnya adalah, ponsel Shirleen yang sudah porak poranda dihempaskan Jason berikut kartunya yang saat ini sudah berada di tempat pembuangan akhir.
Dan walau begitupun saat ini Shirleen juga tidak mempunyai ponsel, ia akan menutup segala privasinya, ia mengetahui email di ponselnya sama dengan email di ponsel Jason, ia tidak mau mengambil resiko maka ia sengaja meninggalkan ponselnya di apartemen sebelum ia benar-benar pergi.
Athar kembali merenung, bayang-bayang Shirleen semakin memenuhi kepalanya, setelah kepergian Riana kini ia sudah sangat yakin bahwa Shirleen adalah satu-satunya wanita yang paling ia cintai.
Ia pandangi foto mantan istrinya yang masih tersimpan baik di ponselnya, begitu cantik, tidak ada kekurangan sedikitpun.
Membuatnya semakin tidak tahan ingin mengecup bibir ranum yang terlihat tengah tersenyum manis kepadanya itu.
Membangkitkan gelora asmara yang sempat tertunda, ia mulai berandai Shirleen menjadi miliknya lagi, fantasi liar mulai merasuki otaknya, sungguh malam ini ia hanya menginginkan Shirleen.
Melepaskan hasrat penuh gejolak, darahnya berdesis hebat, kini ada yang harus ia tuntaskan.
Ia berjalan menuju kamar mandi, memulai ritual karir solonya, dengan membayangkan Shirleen menjamahi tubuhnya.
Kenyataannya, Shirleen masih bertahta dihatinya.
Bersambung...
Like, koment, gift, dan vote.
__ADS_1