
"Tak!" sebuah pulpen terjatuh di lantai, Yudha menatap tidak percaya pada ciptaan Tuhan yang dititipkan padanya kali ini.
Pemuda itu bangkit, meremas ujung bajunya erat, bibirnya sedikit bergetar, nafasnya memburu dan berusaha menghirup udara segar sebanyak mungkin di sekitarnya.
"Sayang!" serunya.
"Hemmm!"
"Jangan salahkan aku ya..." ucap Yudha.
Pemuda itu mengikis jarak antaranya dan sang istri, Weni sungguh menggairahkan dengan gaun malam berwarna hitam yang sangat kekurangan bahan.
Itu berarti tanggal merah Weni sudah habis, dan ini adalah malam yang sudah sangat lama dinantikannya.
Yudha mempunyai prinsip, dia yang memimpikan malam pertama dalam keadaan yang sudah sangat sehat, sehat bukan hanya dalam artian fisik, namun rohaninya, karena beberapa hari kebelakang ini, Yudha memang sulit mengendalikan perasaannya sebab kehilangan sang Mama.
Namun Weni, istrinya itu berinisiatif sendiri malam ini, gila saja sudah hampir tiga bulan mereka menikah namun belum juga beryuhuuu ria.
"Aku akan menjadi milikmu!" ucap Weni pelan.
"Kau sudah sangat menginginkannya?" tanya Yudha. Pertanyaan macam apa itu, dasar bodoh!
"Hei, gila saja, aku yang sudah dengan suka rela melakukan ini untukmu, namun kau masih bertanya begitu, heran!" kesal Weni.
"Tap..."
"Apa iya ada wanita seanggun dan selembut diriku namun dengan memutuskan urat malunya mendatangi sang suami untuk mengajaknya malam pertama?"
"Bu..."
"Ya memang ada, sayang sekali aku lah orangnya, wanita tidak tau malu itu!"
"Sayang bukan..."
"Dan kau, suami macam apa saat istrinya sudah berinisiatif begini malah ditanyakan hal begitu?"
"Kau sudah sangat menginginkannya." Weni menirukan kembali pertanyaan Yudha.
"Sialan!"
Weni menahan geram, lalu wanita itu mengambil bajunya di lemari, mengenakannya cepat lalu pergi meninggalkan Yudha.
Air matanya mengalir deras, dirinya juga tidak siap untuk berhubungan suami istri, namun baginya ini sudah sangat lama untuk ukuran pengantin baru.
Baginya Yudha keterlaluan, saat dirinya sudah menahan malu membuat persiapan untuk meminta duluan, namun apa? Dengan seenaknya Yudha bertanya seolah mengejeknya. Weni merasa dirinya bagai wanita murahan saja.
"Dasar egois!" umpatnya, wanita itu memberhentikan langkahnya saat dia sudah sampai di taman apartemennya.
__ADS_1
Yudha terduduk lemas di lantai, niat hati ingin menggoda Weni malah dirinya tanpa sengaja menyinggung perasaan orang terkasihnya.
"Sebenarnya apa yang baru saja gue lakuin?" tanyanya pada cermin di lemari yang menampilkan wajahnya.
Yudha bangkit, meninggalkan tugas kuliahnya yang masih menumpuk, gegas pemuda itu mencari keberadaan Weni.
Mencari di seluruh ruangan, namun nihil, istrinya itu sepertinya keluar dari unit apartemen.
Yudha melangkahkan kaki keluar, menuju lift, pikirannya menebak pastilah Weni mengunjungi taman.
Dan benar saja, Weni duduk membelakanginya di sebuah kursi taman.
"Maafkan aku..." ucap Yudha. Pemuda itu duduk di sebelah Weni, mulai menggenggam tangan sang istri, kemudian mengecupnya.
"Tidak perlu minta maaf, memangnya kau salah apa?" ketus Weni.
"Aku mengabaikanmu, aku hanya..."
"Egois, memikirkan diri sendiri, lebih tepatnya itu ditujukan untukku, bukan untukmu."
"Tidak sayang, aku cukup mengerti sebenarnya..."
"Heh, mengerti! Memangnya apa yang kau mengerti?" Weni memandang Yudha dengan sini, lalu mengalihkan lagi tatapannya lurus kedepan, lampu taman menjadi lebih menarik dari pada wajah suaminya.
"Sayang..." panggil Yudha.
"Biar aku yang melakukannya!" ucap Yudha lagi.
Weni tersenyum kecut, tidak menyangka drama rumah tangga pertama antaranya dan Yudha adalah perihal malam pertama. Sedikit memalukan, lebih banyaknya tragis.
Sudah hampir tiga bulan Yudha bagai tidak bergairah menyentuhnya, kemana sifat agresif Yudha dahulu.
Weni berdiri, wanita itu hendak meninggalkan Yudha, lupakan! Anggap semuanya tidak pernah terjadi, hal gila yang akan Weni sesali seumur hidupnya.
Menggoda suami sendiri dengan pakaian kurang bahan itu, hal yang sangat ingin Weni lupakan.
"Tunggu!" panggil Yudha, namun sayangnya Weni tidak bergeming, wanita itu tetap melangkah dengan pasti kembali ke unit apartemennya dan Yudha.
"Apa dia benar-benar marah?" gumam Yudha frustasi.
Yudha meneguhkan hatinya, lagi pula apa salahnya, dia juga sangat menginginkan memiliki Weni seutuhnya, hanya saja entah kenapa dia menjadi sulit untuk memulai semua itu.
Kepergian Mama Mila yang masih baru, dianggapnya juga sebagai alasan mengapa dia belum juga menyentuh Weni.
Sekilas memang tidak masuk akal, mereka pasangan suami istri yang halal, memang akan sangat egois jika Yudha mengabaikan Weni. Dari hukum agamanya saja Yudha sudah sangat berdosa.
Ceklek, dibukanya pintu kamar.
__ADS_1
Terlihat Weni yang sedang berbaring memunggunginya. Wanita itu juga sepertinya sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya, pemandangan Weni yang mencoba menggodanya dengan memakai lingerie tadi masih sangat jelas terpatri di pikiran Yudha.
Yudha memegang lengan Weni, sedikit mengguncangnya, "Yang..."
Tidak terdengar jawaban, hanya helaan napas seolah Weni enggan menanggapinya.
Tanpa persetujuan Weni, Yudha langsung saja berbaring di samping istrinya, memeluk Weni dari belakang, merapatkan tubuhnya, mendekap mesra sang istri, serta menciumi punggung lalu beralih ke leher jenjang Weni.
"Biar aku yang melakukannya Yang, terimakasih sudah selalu menungguku, aku bersalah, tidak seharusnya kita menunda ibadah, kau mau kan kita melakukannya malam ini?" tanya Yudha lembut.
Lagi dan lagi, Weni tidak menjawab, hatinya sudah luluh mendengar permintaan maaf Yudha, namun entahlah rasa kecewa juga masih enggan pergi dari sesak dadanya.
Yudha membalikkan paksa tubuh Weni, dan "Hummpptt!" dengan segera Yudha me*umat bibir wanitanya.
Awalnya Weni tidak membalas, namun mengingat Yudha yang telah mengabaikannya, dan pengabaian itu begitu sakit, membuat Weni menyerah, dia ingin rumah tangga yang utuh, kalau dirinya dan Yudha masih sama-sama egois, bagaimana bisa mencapai surga?
Yudha mengubah posisi, dirinya sudah berhasil membawa Weni pada kungkungannya sembari masih saja terus memberikan ciuman panas untuk istrinya.
Naluri lelakinya sudah bangun, ternyata hanya perlu naf*u untuk menyelesaikan semuanya, dirinya saja yang selalu berprinsip tidak siap melakukannya, namun apa? Kini bahkan Yudha sangat menikmatinya.
"Kau cantik sayang, aku menginginkanmu!" ucap Yudha, matanya menatap Weni mesra.
Weni memejamkan matanya, wanita itu tidak mampu menjawab, ini adalah malam pertama mereka, meluruhkan segala keegoisan yang beberapa hari kemarin masih mengganjal antara keduanya.
"Aku menginginkanmu Weni, sudah sangat lama, aku mencintaimu!" ucap Yudha mulai meracau.
"Aku sangat mencintaimu Wen!"
Yudha tidak memberikan kesempatan Weni berhenti mend*sah, setiap sentuhannya Yudha pastikan Weni berada dalam kenikmatan.
"Aaahhhh..."
"Kau sudah siap sayang?" tanya Yudha, kini pemuda itu sudah mengarahkan si perkasanya pada sarang halalnya.
Weni mengangguk pasti, malam ini adalah malam yang seharusnya sudah mereka lalukan sedari dulu, namun Weni tidak lagi mempermasalahkannya. Kini dia sudah menjadi milik Yudha utuh, begitupun Yudha.
"Jleb..." Weni menangis haru kala tubuhnya dan Yudha menyatu.
Namun sayangnya baru beberapa kali gerakan maju mundur, Yudha sudah menghempaskan hatinya lagi.
"Kau kesakitan sayang, kenapa menangis? Biar aku lepas!" ucap Yudha tidak karuan, melihat Weni menangis membuat hasratnya hancur tiba-tiba, si perkasa pun juga ikut-ikutan bertranformasi menjadi gemulai dengan sendirinya.
"Astagahhh Yudha!" umpat Weni lesu.
...***...
Koment, like, dan Vote !!!
__ADS_1
Silahkan mengumpat 😜😜