
Mery menarik nafasnya dalam, lalu hembuskan, ia melakukannya berulang untuk menormalkan kerja jantungnya.
Saat dirasa sudah lebih baik, lalu ia bersiap membawa sebuah gadget dan mulai mengetuk pintu ruangan tuan mudanya.
Tok tok tok,
"Masuk" terdengar sahutan dari dalam.
Mery pun mulai memasuki ruangan Tuan Mudanya, hawa panas langsung saja menyeruak, seketika apa yang telah ia persiapkan tadi bagai tiada gunanya, heh sayangnya ia kembali gugup.
Jason mendongak sebentar, benar saja Mery sang sekretaris yang datang.
Mery lagi-lagi bingung harus berbuat apa karena Tuan Mudanya itu sama sekali tidak berbicara apapun, haruskah ia menyapa tuan mudanya, atau mungkin langsung saja pada intinya.
"Hari ini, jam 11:00 Tuan Muda ada undangan makan siang di cafe Bright, membahas kerja sama pembangunan Hotel dengan perusahaan Tuan Kusuma." ucap Mery mulai menjelaskan.
Diliriknya sedikit sang Tuan Muda, tampak tidak bergeming, bagaimana bisa ada manusia seperti ini batin Mery terheran-heran.
"Selanjutnya, jam 13:00 Tuan Muda diminta menghadiri persermian pembangunan Rumah Baca Kasih Bunda."
Melirik lagi, ah benar tidak ada tanggapan sedikitpun, muka datar dengan tatapan dingin itu masih menghiasi wajah Tuan Mudanya, apa benar Tuan Muda nyaman bernafas dengan ekspresi semacam itu pikirnya.
"Jam 15:30 Tuan Muda harus mengecek pembangunan rumah produksi di Desa Y, kita akan menuju kesana dalam waktu dua jam."
"Sudah Tuan Muda, apa Tuan Muda ada acara lain ?" tanya Mery, ia bertanya sesuai anjuran Roy.
Jason menjentikan jarinya, mengisyratkan ia mengerti dan Mery di persilahkan meningalkan ruangannya.
Mery mengerti, ia langsung balik kanan dan lalu menuju pintu keluar.
"Fiuhh selamat..." gumamnya saat sudah berada diruangannya, ini adalah hari baru baginya, namun sayangnya tidak terlalu baik.
Delia menjadi resah saat dokter merujuk Athar ke rumah sakit ternama, bukannya ia tidak mau, bahkan itu menurutnya sangat bagus, namun bagaimana ia membayarnya, ia tidak punya cukup banyak uang untuk membiayai semuanya.
"Dok, mengapa harus dipindahkan, bukankah kata dokter adik saya baik-baik saja waktu itu, hanya tinggal menunggu dia siuman saja." tanya Delia pada sang Dokter, saat ini ia tengah mendatangi Dokter yang menangani Athar di ruangannya.
__ADS_1
"Disini memang baik, namun disana lebih baik, tidak perlu khawatirkan soal biaya, sudah ada yang menanganinya" jawab Dokter.
"Sudah ada yang menanganinya, tapi siapa Dok ?" bingung Delia, bagaimana pun harusnya ia berterima kasih dan kalau bisa ingin bertemu dengan orang yang telah menolong adiknya itu.
"Orangnya meminta dirahasiakan, sudah lah tidak usah terlalu dipikirkan, di dunia ini masih banyak sekali orang baik."
"Iya Dok, saya mengerti, namun saya hanya ingin berterima kasih." ucap Delia lagi.
"Kalian bersiaplah, sebentar lagi adikmu akan di pindahkan."
"Baik Dok."
Delia melangkah keluar ruangan, matanya menangkap seseorang yang rasanya ia kenali, ia mendekat untuk memastikan penglihatannya, benar saja kenapa bisa dia berada disini pikir Delia.
Namun saat ia sudah hampir saja berekatan. tiba-tiba saja seseorang menabrak tubuhnya hingga fokusnya teralih.
"Maaf, maaf kak" ucap seorang wanita yang tampak sedang menggendong anak kecil yang tadi menabraknya.
"Iya tidak apa" ucap Delia.
"Kemana dia ?" gumamnya.
"Del aku cariin malah bengong disini, ayo berkemas, Athar sudah mau dibawa itu" ucap Rendi.
Riska masih saja dimusuhi oleh Delia karena Athar belum juga sadar, Delia tidak bisa menerima alasan lain terhadap apa yang terjadi pada Athar, sampai Athar menjelaskan yang sebenarnya, ia tidak akan memaafkan Riska.
Ia dan Rendi lalu berkemas untuk menuju ke rumah sakit ternama di ibu kota ini.
Harapan mereka, semoga Athar segera membaik, semoga Athar segera sadar dengan peralatan medis yang sangat memadai disana.
"Mas Rendi..." panggil Riska saat Delia dan Rendi hendak menuju mobil.
Rendi menoleh, ini untuk pertama kalinya Riska bersikap lembut padanya setelah perselingkuhannya diketahui.
"Ya" sahutnya.
__ADS_1
"Apa Mas bisa mengajakku juga, aku ingin ikut kesana" pinta Riska.
Delia memalingkan muka, ia yang begitu benci enggan melihat wajah kakak sulungnya itu, ia menuju mobil ambulan yang akan membawa Athar, ia memutuskan untuk duluan saja tanpa menunggu Rendi.
"Iya silahkan" ucap Rendi menyetujui.
Riska pun masuk, Ia duduk di depan, disamping kemudi, mobil yang pernah juga menjadi miliknya itu, Riska rasanya canggung saja saat ia memasukinya.
Mobil pun merayap, meninggalkan rumah sakit, mengiringi ambulan didepan sana yang membawa Athar.
Selama diperjalanan hening saja tanpa ada yang besuara, Riska masih enggan bicara banyak dengan Rendi, rasa kecewa itu jelas masih bersarang dibenaknya.
"Apa kamu hidup dengan baik ?" tanya Rendi, entah dimenit keberapa ia baru bisa bersuara.
"Iya"
"Lalu kenapa kau tega menjual anak kita ?" tanya Rendi lagi, lembut, sebenarnya Rendi adalah sosok yang penyayang, sampai hari ini pun ia menyesal pernah berkhianat pada istrinya itu, namun semua sudah terjadi, Riska sangat menginginkan perceraian hingga ia tidak bisa menahannya, apa lagi saat ini jujur saja ia tengah kecewa pada Riska, yang pernah Riska lakukan pada Tiara dan lalu pada Athar, meskipun ia enggan percaya namun tidak ada pilihan lain, karena mau membela pun harus bagaimana, semua kesalahan mengarah pada Riska.
Kecewa mengalahkan rasa cintanya, kini ia tidak perlu menyalahkan diri lagi seperti saat Riska menggugatnya, rasanya ia lebih baik jika berpisah.
Diam, Riska tidak menjawab, namun percayalah matanya memanas, ia sedang berusaha menahan air mata yang akan jatuh, entahlah ia juga tidak bisa mengatakan sebuah alasan mengapa ia bisa melakukan hal sekeji itu.
Sementara Rendi, ia sangat menunggu apa yang akan dikatakan Riska, sebuah jawaban atau paling tidak pengampunan, adakah rasa bersalah, adakah Riska ingin mengatakan sebuah kata maaf, menyesal atas tindakannya.
Seorang Ibu kandung dengan tega menjual anaknya sendiri, bagi Rendi kalau ia menjadi seorang ibu meski miskin harta sekalipun, namun anak tetaplah anak, darah daging kita sendiri, yang akan ia cintai dan jaga penuh kasih, tidak akan mampu di tukar oleh barang apapun di dunia ini.
Lalu Riska, dengan tanpa bersalah melakukan itu pada anaknya, saat ini ia sedang menjauhkan Tiara dengan Riska, supaya Riska menyadari bahwa hubungan ibu dan anak itu sangatlah kuat dan erat, kalaulah Riska seorang ibu yang mempunyai hati tentulah Riska akan menyesal, rindu bahkan tidak akan ingin berpisah jauh dari Tiara, namun entahlah Rendi bahkan mulai ragu setelah melihat tidak adanya tanggapan dari wanita yang katanya adalah seorang ibu itu.
"Kau tidak bisa menjawabnya, sudahlah ternyata aku salah karena terlalu banyak berharap." ucap Rendi, helaan nafas berat mengiringi sesak didadanya, Riska benar-benar sudah berubah.
**Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading** !!!