Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kau juga harus bahagia Mas!


__ADS_3

"By, siapa yang datang?"


Shireen nampak terkejut kala mantan suaminya lah yang ternyata datang menjenguknya, untung saja ia tadi membawa baju ganti saat masuk untuk membersihkan diri, kalau tidak sungguh akan menjadi perang dunia.


"Mas Athar!" sapa Shirleen.


"Hai Ilen..." sapa balik Athar dengan ketidaknyamanannya, Jason bisa merasakan itu.


Mata Shirleen juga tak kalah membulat kala mendapati seprei yang baru saja ia rapikan tadi sudah kembali kusut dengan tumpukan bantal di atasnya.


Ia meneguk salivanya kelat, kenapa bisa begitu, apakah ini semua perbuatan Jason pikirnya.


Ia harus apa, pura-pura tidak perduli lalu melangkahkan kakinya untuk langsung bergabung dengan suami, namun malu pasti sudah sampai ke ubun-ubun, atau merapikan kembali seprei yang terlihat berantakan itu sembari nyengir kuda.


Ah biarkan saja, Shirleen melangkah menuju pembaringan dan siap merapikan semuanya supaya lebih enak dilihat, Jason dan dirinya tidak seganas itu, sumpah, Athar pasti sudah salah mengartikan saat ini.


Dilihatnya Jason dan Athar sudah berbincang santai, ia menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk tidak perduli, merapikan tempat tidur setelah dirasa cukup rapi barulah ia bergabung dengan keduanya.


Sungguh pemandangan apa ini, ada suami, istri, dan mantan suami, duduk berdekatan dan berbincang santai, bahkan ada tawa yang keluar dari mulut suaminya itu, entah seberapa seru hal yang di perbincangkan.


"Gimana kabar kamu Len?" tanya Athar.


"Baik Mas!" jawab Shirleen.


Jason sedikit meringis, Mas, panggilan itu, pernah ia meminta Shirleen untuk memanggilnya seperti itu, tapi kalau digabungkan dengan namanya, sungguh tidak sedap di dengar, panggilan itu tidak cocok untuknya, tapi saat pada Athar mengapa pas pas saja rasanya.


"Mas kerja dimana sekarang?" tanya Jason berbasa basi lagi, ia malas mendengar Shirleen memanggil Athar dengan panggilan mereka dulu, sebisa mungkin ia menghindari percakapan antara Athar dan Shirleen.


Sungguh jika menyangkut cemburu pada Shirleen, Jason sangat jauh dari kata dewasa.

__ADS_1


"Saya buka usaha kecil-kecilan di depan rumah saya Tuan Muda!" jawab Athar sopan.


"Oohh, yang Kedai itu yaaa?" tanya Jason.


"Iya Tuan Muda!"


"Tapi sejauh ini lancar?" tanya Jason lagi, ia lebih banyak bicara dari pada harus membiarkan Shirleen yang berbincang pada Athar.


"Alhamdulillah Tuan Muda, saya bersyukur untuk itu."


Athar melirik Shirleen sebentar, ia mencuri-curi pandang, Shirleen nampak lebih cantik, bahkan lebih-lebih cantik dari saat terakhir bersamanya, mungkinkah efek bahagia, Athar begitu menyesal karena selama Shirleen hidup dengannya, Shirleen bahkan jarang sekali perawatan ke Salon, pun dengan tekanan dari keluarganya yang waktu itu tidak menyukai Shirleen, meski begitu Shirleen masih bertahan untuknya, demi keluarga kecil mereka.


Athar sadar, bahwa selama hidup dengannya, dirinya belum bisa membahagiakan Shirleen seutuhnya, meski Shirleen selalu mengatakan bahwa Shirleen bahagia, tapi kenyataannya siapa yang tau, aahh betapa menyesalnya Athar.


"Shirleen, Mas kesini selain karena ingin menjengukmu, sebenarnya Mas juga ada yang mau disampaikan!" terang Athar.


Jason berhenti bersikap normal, ia juga mulai serius, tidak berharap Athar akan memperbaiki hubungan dengan istrinya, karena kalau sampai begitu siap-siap mati saja.


"Mas kesini mau minta maaf, atas segala perlakuan Mas padamu dulu, meski Mas sudah pernah mengatakan ini, tapi rasanya maaf saja bagai tidak cukup Mas ungkapkan padamu, bukan hanya Mas, disini Mas juga..."


"Cukup Mas Athar, bisa tidak ngomongnya jangan terlalu akrab begitu, bilang saja Aku, jangan pakai Mas begitu." potong Jason melayangkan protes, ia sungguh kesal mendengar nama panggilan itu di jabarkan berulang kali, meski tidak ada hubungan lagi antara Shirleen dan Athar namun baginya itu sangat tidak mengenakkan, ia tidak menyukai, lebih tepatnya jijik.


"Ah iya Tuan Muda, maafkan kelancangan saya." ucap Athar, tubuhnya sedikit gemetaran karena Jason berbicara dengan nada yang lumayan membentak, teringat lagi akan rumor jangan pernah membuat masalah dengan Tuan Muda keluarga Adrian itu, sungguh ia juga tidak mau.


"Ya sudah lanjutkan apa yang mau disampaikan." ujar Jason lagi, meski tidak ingin mendengarnya namun ia mencoba membiarkan, biarkan saja ada Shirleen yang ingin mendengarkan.


"Aku kesini mau minta maaf Len, atas segala kesalahanku dulu saat kita masih sama-sama, aku bukanlah suami yang baik untuk kamu, tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, aku tidak juga membelamu saat kamu dibenci oleh keluargaku, terutama Ibuku, sekarang tepatnya kemarin sore, Ibuku sudah tiada, sudah berpulang ke Rahmatullah, aku ingin menyampaikan permohonan maaf Almarhumah, dan kiranya semoga kamu mau memaafkan." ucap Athar, ada setitik sesal pada penuturan katanya.


"Dan juga untuk keluargaku, aku mewakili mereka semua untuk meminta maaf padamu, meski sudah terang-terangan menyakiti hatimu, tapi sekali lagi, aku akan meminta maaf padamu, sudikah kiranya kamu juga memaafkan mereka?"

__ADS_1


"Maaf, kami belum bisa menjadi keluarga yang baik untukmu yang telah meninggalkan keluargamu saat itu, kami yang seharusnya menyambutmu dengan riang gembira, membawamu kerumah dengan suka cita, kami yang seharusnya menjagamu saat kamu jauh dari keluargamu, tapi sayangnya kami tidak melakukan itu semua, kami malah menyiksa batinmu, menyakitimu, dan untuk semua yang telah terjadi dulu, aku dan keluargaku minta maaf."


"Dan juga ada sedikit permintaan Kak Delia, bolehkah kiranya ia menemui Misca nanti sebagai Tante dan keponakan, ia sudah menyesal karena dulu sempat tidak menerima Misca..."


"Cukup Mas!" bentak Jason.


"Maafkan saya Tuan Muda!" Athar tertunduk, ia sudah siap apapun konsekuensinya.


"By..." tenang Shirleen, Athar yang meminta maaf padanya, namun dilihatnya Jason yang tidak bisa menahan gejolak kemarahannya, tangan suaminya sudah mengepal, rahangnya sudah mengeras mendengar semua penuturan Athar.


Shirleen tau suaminya tidak akan sanggup mendengar jika dirinya di sakiti, baik sekarang ataupun dulu.


"Jangan katakan itu, aku tidak suka mendengarnya." ucap Jason, kentara sekali kalau saat ini dirinya sedang menahan amarah yang sudah siap meledak, kemudian ia masuk ke kamar mandi, meninggalkan Shirleen dan Athar.


"Aku sudah memaafkan kalian semua Mas, dan tolong jangan bahas ini lagi, apa lagi di hadapan suamiku, suamiku tidak akan suka mendengar ini." ujar Shirleen pada Athar.


"Maafkan aku Len, aku tidak tau, aku hanya menyampaikan pesan dari kakak-kakakku, dan juga permohonan maaf dari hatiku karena saat di pernikahan kalian aku tidak bisa menyampaikan ini, sungguh demi apapun aku sudah ikhlas Len, semoga kamu bahagia dengan Tuan Muda Jason, aku akan mendukung apapun untuk kalian, aku selalu berharap keluarga kalian di limpahkan kebahagiaan, dan juga jaga Misca dengan baik, sampaikan pesanku pada Tuan Muda Jason, sayangilah anakku meski tidak bisa sepenuhnya tapi tolong jangan pernah benci pada Misca, baik sekarang ataupun nanti, jika Tuan Muda, ataupun kalian merasa keberatan merawat putriku, serahkan dia padaku, aku selalu menunggu kehadirannya." ucap Athar, ada setitik air mata yang menetes saat ia menyebut nama Misca.


"Mas tidak perlu khawatir, Jason sangat menyayangi Misca." ucap Shirleen.


"Ya sudah, aku pamit dulu, maaf sudah membuat Tuan Muda marah, aku benar-benar tidak sengaja, tidak sedikitpun niatku untuk membakar hatinya dengan kemarahan, hidupku tidak tenang sebelum membicarakan ini padamu, aku mengerti, Tuan Muda merasa begitu karena dirinya sangat mencintaimu, kamu beruntung memilikinya Shirleen, tetap saling menjaga satu sama lainnya, aku berbahagia untuk kalian." ucap Athar.


Ingin sekali dirinya mengusap bahu Shirleen untuk terakhir kali sebelum berpamitan, namun ia masih tau batasan, jika Tuan Muda Jason melihat, itu akan sangat tidak pantas.


Athar melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, ia tersenyum manis pada Shirleen sebelum benar-benar pergi, sungguh ia sudah menerima segala yang ditakdirkan untuk hidupnya, meski masih ada sisa cinta untuk sang mantan istri, tapi dirinya benar-benar sudah ikhlas, ia bahagia jika melihat Shirleen bahagia, ia mendukung penuh hubungan Shirleen dan Jason.


"Kau juga harus bahagia Mas!" gumam Shirleen pelan.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2