
Malam berganti pagi yang cerah, namun tidak secerah hati Jason.
Sejak semalam dirinya hanya tidur sebentar, benar apa yang dikatakan istrinya, mungkin Papanya sudah pergi jauh meninggalkan keluarga mereka, namun sebenarnya Papanya tidak pernah kemana-mana, bayang-bayang Adrian yang mengatakan kalau dirinya akan pergi masih terngiang jelas di pikiran Jason.
"Kalau pergi ya pergi saja, tidak usah mengganggu pikiran orang!" dengusnya kesal di kamar mandi.
Ia bercermin, berbicara lagi pada dirinya sendiri.
"Aku sudah biasa tanpamu, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku."
Ujarnya masih dengan pendiriannya. Namun semakin kesini Jason pun merasakan bahwa jalan pikirannya semakin tidak karuan. Dia mulai mengkhianati tujuannya.
Mama Mila terbangun, dilihatnya Shirleen tersenyum manis menyambut penglihatannya.
"Mama dimana?" tanyanya pada Shirleen.
"Mama di rumah sakit, Mama demam, Papa yabg bawa Mama ke sini!" jawab Shirleen. Istrinya Jason itu membelai lembut bahu Mama Mila.
"Dimana Jason, apa dia tidak ke sini?" tanya Mama Mila langsung.
"Suamiku sedang di kamar mandi Ma, sebentar lagi selesai, dia pasti senang kalau liat Mama udah bangun." jawab Shirleen. Lalu Shirleen menekan tombol untuk memanggil Dokter yang akan memeriksa keadaan mertuanya itu.
"Benarkah?" tanya Mama Mila sumringah, ternyata kalau sudah sakit Jason juga akan perduli padanya, begitulah kiranya yang ada di pikiran Mama Mila.
"Iya Ma!" jawab Shrileen.
Jason keluar dari kamar mandi, dilihatnya sang Mama sudah bangun dan asik berbincang dengan istrinya, Jason canggung, dirinya tidak tau harus bagaimana.
Situasi yang tidak mengenakkan, mengingat kemarin terang-terangan dirinya mengusir wanita paruh baya itu.
"By..." seru Shirleen pada Jason.
Jason tersenyum canggung, pelan dirinya mendekat juga.
"Sayangku..." lirih Mama Mila, ia membelai lembut wajah anaknya itu, "Maafin Mama sayang, saat itu Mama tidak menanyakan terlebih dahulu kabarmu, kamu pasti sedih yaaa, Mama janji..."
"Sudahlah Ma, tidak usah dibahas, aku nggak papa." ucap Jason.
"Sayangku, Mama sama Papa selalu menyayangimu, mungkin cara kami yang salah, tidak ada di dunia ini orang tua yang tidak menyayangi anaknya."
"Pun dengan Mama, dengan Papa, Jason... Mama mungkin bukanlah Mama yang baik, tapi meski begitu percayalah Mama selalu berusaha menjadi Mama yang paling baik untukmu."
"Ma, sudah nggak usah dibahas." tegas Jason lagi.
"Ya sudah, Mama makan dulu yaaa, sarapan." ujar Shirleen menengahi.
Mama Mila mengerti, mungkin Jason sedang tidak ingin membicarakan perihal keluarga, tidak apa yang terpenting anaknya sudah berada di sisinya itu sudah cukup.
__ADS_1
Mama Mila makan dengan lahapnya disuapi Shirleen, hari ini dirinya sangat bahagia, Jason sudah bersikap biasa saja padanya, meski masih ada kecanggungan seolah ada jarak tak terlihat di antara mereka namun Mama Mila mencoba memaklumi.
"Kau tidak ke kantor sayang?" tanya Mama Mila mengajak lagi bicara anaknya itu.
"Enggak, hari ini aku libur." jawab Jason.
"Benarkah?"
"Iya!" singkat Jason.
Mama Mila memandangi wajah anaknya itu, "Eehmm, sayang... Bolehkah jika Papa ke sini, maksud Mama kalau Papa ke sini tapi kamu jangan pergi ya."
Jason terdiam, bagaimana dirinya menjawab pertanyaan itu?
Shirleen pun sama, tidak... Dirinya tidak akan sanggup menjelaskan.
"Sayang..." seru Mama Mila lagi, karena tidak adanya jawaban dari putranya.
"Ya sudah kalau tidak boleh, Mama tidak akan memaksa." ucap Mama Mila pada akhirnya.
"Ilen sayang, sudah berapa bulan cucu Mama?"
"Sudah mau jalan lima bulan Ma!" jawab Shirleen.
"Tapi udah buncit yaaa, iya sih kan kembar soalnya, duh Mama nggak sabar pengen gendongnya, tapi nanti adil banget nggak ada yang bakalan rebutan sama Besan, soalnya dua kan!" ujar Mama Mila.
"Nah iya, bisa aja kalian bikinnya, hihi!"
Setelah itu, Mama Mila dan Shirleen nampak terlibat perbincangan seru, yang jelas sebanyak yang Jason dengar keduanya membahas tentang bayi, parenting dan segala kebutuhan bayi baru lahir.
Di tengah-tengah perbincangan mereka datanglah Pak Haris dan Mama Nena, orang tua Shirleen itu membawa rombongan, siapa lagi kalau bukan baby Jacob, Misca dan Ipah, tak ketinggalan juga Mbak Sekar juga ikut ternyata.
"Sayang... Hei!" seru Shirleen pada kedua anaknya itu.
"Bunda..." panggil Misca.
"Kakak nakal nggak selama di rumah Oma?" tanya Shirleen.
"Enggak, tanya aja sama Bi Ipah, Abang tu semalam rewel... Bi Ipah aja sampai nggak tidur." adu Misca.
"Masa iya Pah, Abang rewel?" tanya Shirleen.
"Eh nggak kok Nona, biasa lah anak bayi, paling rewel sedikit gitu, semalam gantian sama Oma jagainnya, badannya agak panas tapi udah di kasih obat kok sama dokter yang biasa itu." terang Ipah.
"Mana sini sama Papa!" ucap Jason, dirinya cepat tanggap mendengar keluhan tentang Jacob.
Ipah menyerahkan Jacob pada Tuan Mudanya itu. Jacob tampak girang karena bertemu Papanya.
__ADS_1
"Uuh, anak Papa, panas ya semalam, kasian pasti nggak tidur sama Papa ini yaaa, seharian nggak liat Papa ya kemaren" manja Jason pada bayinya itu.
"Dia anteng banget sih By, kalau sama kamu." ucap Shirleen, karena memang benar, Jacob akan anteng saja jika di gendong Jason.
"Ita dong, anak siapa dulu ini, ini kan anak Papa!"
"Iya deh, yang anak Papa..." ucap Shirleen.
"Nona, besok ada pertemuan orang tua di sekolahnya Non Misca, pembagian raport, apa Nona mau hadir atau saya saja yang mewakili?" tanya Ipah.
"Eemm, nanti aku saja Pah, palingan kamu juga ikut karena harus ngasuh Jacob." jawab Shirleen.
"Baik Nona."
"Bunda, kalau Kakak juara satu lagi, Kakak boleh minta sesuatu nggak?" tanya Misca.
"Eemm, boleh, memangnya Kakak mau minta apa?" tanya balik Shirleen.
"Rahasia dong, pokoknya nanti kalau kakak dapet juara satu, Bunda siap-siap yaaa, sama Papa juga harus siap-siap!"
"Lho Papa juga nih?" sambung Jason.
"Iya, memangnya kenapa, Papa nggak mau?" tanya Misca.
"Mau kok Princess, pokoknya Kakak minta apa pasti Papa kabulin!"
"Aahh, Papa terbaik deh..." Misca menghampiri Jason dan langsung mengecup singkat pipi Papa sambungnya itu, "Papa adalah Papa terbaik di dunia." puji Misca.
"Pasti dong!" timbal Jason.
"Nak, selamat yaaa, katanya perusahaanmu berhasil bekerja sama dengan investor asing itu yaaa, berita itu langsung trending topik pagi ini, Papa bangga padamu..." puji Pak Haris pada menantunya itu, dirinya yang tidak tahu menahu tentang persaingan ARAD Group dan Adrian Group merasa santai saja mengucapkan selamat atas keberhasilan menantunya itu.
"Iya Pah, terimakasih ucapannya, Alhamdulillah!" balas Jason.
"Semoga keluarga kalian dilimpahkan kesejahterahan, rezeki cucu-cucu Papa ini pastinya." ucap Pak Haris.
Mama Mila yang mendengar itu sedikit bersedih karena dirinya tidak bisa menyelamatkan sang suami dari kejatuhan.
Entah bagaimana nasib perusahaan suaminya saat ini, lagi pula yang paling membuatnya bersedih adalah hubungan antara suami dan anaknya belum juga membaik.
*
*
*
Like, koment, dan Vote !!!
__ADS_1