
Gue gak akan maafin gue sendiri jika sampai Shirleen kenapa-napa.
Jason masih terus menyalahkan dirinya, baginya ia sungguh tidak berguna, ia tidak ada saat Shirleen membutuhkannya.
Shirleen masih belum sadar, dan gue gak bisa berbuat apa.
Ia mendatangi ruangan dokter Eri.
Braaakk, pintu ditendang olehnya.
"Dasar lambat, Shirleen disana tidak sadarkan diri, dan lo masih disini.
"Tuan Muda sabarlah, Nona Shirleen sudah ditangani, di rumah sakit ini begitu banyak dokter obygn terbaik, nona Shirleen sudah ditangani walau tanpa saya, saat nona Shirleen masuk tadi saya masih diruang operasi tuan, jadi tidak bisa hadir menangani Nona Shirleen"
Ah iya, Jason merutuki kebodohannya, hanya karena ia melihat sepupunya ini masuk kedalam ruangannya dan tidak menuju UGD dimana Shirleen saat ini sedang ditangani, ia mengira sepupunya itu tidak perduli.
Sumpah demi apapun, ia bisa melakukan kekonyolan ini saat panik.
"Braxton hicks, atau biasa dikenal dengan sebutan kontraksi palsu, itu yang sedang nona Shirleen alami" ucap Dokter Eri, setelah melewati drama bujuk membujuk anak raja dihadapannya ini.
"Apa berbahaya ?"
"Tidak juga, itu biasa dialami wanita hamil saat sudah trimester ketiga atau saat akan melahirkan" yasalam, ini adalah penjelasan yang akan membuat salah paham.
Padahal Jason memilih jurusan IPA disekolahnya, namun ia hanya mempelajari reproduksi wanita secara umum tidak sampai bagian bagaimana wanita hamil lalu melahirkan seperti ini.
Ia berfikir cepat, entah terlewat atau bagaimana, apakah karena ia memang sering bolos sekolah mungkinkah ia melewatkan mata pelajaran penting seperti ini disekolahnya.
Jadilah kini hanya ada Jason yang begitu bodoh.
"Akan melahirkan, jadi Shirleen akan melahirkan ?" kaget Jason.
"Bu bukan Tuan Muda, bukan seperti itu, menurut HPL nona Shirleen belum akan melahirkan" jelas Dokter Eri hati-hati.
Tuan Muda, kenapa anda menjadi bodoh seperti ini.
"Kontraksi palsu, hanya kontraksi palsu, tenang saja itu tidak berbahaya" menjelaskan hal semacam ini pada tuan muda adalah bencana besar, lebih baik mencari aman dengan meyakinkan kalau semuanya baik-baik saja.
"Tidak bahaya gimana, Shirleen disana belum juga sadarkan diri, lo masih bisa tenang ?"
"Itu, itu juga masih dicari tau penyebabnya tuan muda, mengapa Nona Shirleen bisa sampai pingsan"
"Cepat laksanakan tugas kalian dengan baik, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Shirleen, jabatan kalian taruhannya"
"Baik Tuan Muda"
__ADS_1
Aku ini sepupunya, lebih tua darinya. kenapa aku bisa nurut dan begitu sopan padanya, bukankah dia adikku ?
Dokter Eri tersenyum kecut saat mengingat masa kecilnya dengan Jason, dulu ia paling senang membuat Jason menangis, merebut mainannya, tidak mengajaknya bermain dalam rombongan, lalu sekarang apa yang terjadi ia berada dibawah kendali adiknya itu, bukankah nasib yang sungguh malang.
"Dia adikku dan aku abangnya, bagaimana bisa ia tidak sopan padaku ?" gumamnya sembari melihat punggung Jason yang mulai menjauh.
Disinilah Riska sekarang, ia bersama Delia sedang janji bertemu dengan seseorang di sebuah cafe.
Sebelumnya mereka sudah memberikan amanat pada Mutia untuk menggantikan jadwal Delia yang awalnya ditugaskan menjaga ibu mereka.
"Apa yang terjadi ?" tanya seseorang itu.
"Aku mengalami kegagalan rumah tangga karena sebuah alasan, dan juga aku mempunyai trauma yang selalu menghantuiku, aku tidak bisa tidur nyenyak, tidak bisa berfikir jernih, suara-suara itu selalu datang tiba-tiba"
Riska menceritakan apa yang tengah ia alami.
"Heemm begitu yaaa, kalau begitu pertemuan ini cukup sampai disini, kamu bisa datang ke tempat praktikku jika kamu ingin melanjutkan bercerita, kita bicara dari hati ke hati, semoga kamu bisa melalui ini semua"
"Clara, ini kartu namaku, disitu terdapat alamat dan nomor telpon, kau bisa menghubungiku atau langsung kerumah jika kau sudah yakin" wanita yang bernama lengkap Clara Rebecca itu mengulurkan tangan pada calon pasiennya. Ia adalah seorang psikolog yang akan membantu Riska keluar dari traumanya.
"Terima kasih Clara, nanti aku akan mampir dan merepotkanmu"
"Tidak apa, kadang itu memang sudah tugasku"
Keduanya saking bertukar senyum.
Mama Mila masih memandangi wajah Misca, ia tadi menjemput Misca dirumah sakit dan membawanya kerumah, anak itu tidak mau makan sama sekali, Misca terus saja menangis memanggil bundanya.
"Oma, apa Bunda Misca masih hidup ?"
Tanya Misca spontan mengejutkan Mama Mila.
"Eh gak boleh ngomong gitu anak pintar, masih dong sayang, Bunda Misca kan hanya pingsan sebentar lagi juga bangun"
"Tapi Oma, dari tadi Misca bangunin Bunda, Bunda gak mau bangun" Misca kembali menangis, ia tertunduk pasrah.
"Itu karena Bunda Misca tidak dibawa kerumah sakit, sekarang kan Bunda Misca sudah dirumah sakit, sudah diobati, nanti pasti sembuh"
"Bunda pasti bangun kan Oma ?" tanyanya lagi, anak kecil berusia empat tahun lebih itu nampak berkecil hati memikirkan Bundanya.
Kecerdasannya membuat ia paham akan situasi yang terjadi. Apalagi ia menghadapi sendiri bagaimana kondisi Bundanya, sekecil ini sudah pasti merasakan takut.
Mama Mila terenyuh, bagaimana bisa nantinya Shirleen akan berpisah dengan Jason, melihat ini saja rasanya ia sudah tidak kuat.
Ternyata Shirleen dan Misca juga sudah tertata rapi dihatinya, ia semakin takut Shirleen akan membencinya, dan ia tidak bisa bertemu lagi dengan cucu angkatnya ini.
__ADS_1
Jika saja aku bisa memberi tahu Shirleen, mungkin aku tidak akan kehilangan mereka, tapi mungkin juga Shirleen akan menjauhi Jason, tidak aku lebih tidak bisa.
Tapi cepat atau lambat, saat Shirleen mengetahui tentang Jason ia pasti akan menjauh.
Lebih baik aku katakan, tapi Shirleen sebentar lagi melahirkan, anak itu butuh Jason.
Yah mengalah, mengalah sebentar lagi, benar kata Papa. Shirleen dan Jason memang harus dipisahkan.
Ia membelai puncak kepala Misca, menciumi rambutnya, ia begitu menyayangi cucu angkatnya itu.
Hingga akhirnya terdengar nafas teratur, ternyata Misca tertidur.
Ia membawa Misca ke kamarnya, hari ini ia kembali menjadi oma.
Shirleen sudah sadar dari pingsannya, sakit pada perutnya juga sudah mendingan, dilihatnya wajah tampan Jason yang tertidur disampingnya. Tangan itu seolah enggan lepas bertautan dengan tangannya.
Niatnya yang tidak ingin menyusahkan sang pacar nampaknya tidak berhasil, ia berada disini pastilah berkat si pacar berondongnya.
"Maaf..." Gumamnya lirih.
Ia membelai rambut Jason dengan sayang, siapa yang menyangka mereka berdua terpaut 11 tahun.
Jason membuka matanya pelan, ia terbangun karena merasakan sentuhan lembut dikepalanya.
"Kau sudah sadar By..." ucapnya antusias, seketika kekhawatiran yang menjadi tadi lenyap terbawa udara yang berhembus.
Shirleen hanya tersenyum, ia tau pemuda dihadapannya ini pasti sangat mencemaskan dirinya.
"Maaf, aku kembali membuatmu susah" ucap Shirleen lirih.
"Hei, hentikan bahasa itu, aku tidak susah sama sekali, tapi lain kali jangan lagi yah" Jason menarik hidung bangir kekasihnya itu. Lalu ia mengecup perut buncit Shirleen dengan sayang.
Shirleen merasa terharu, ia memeluk Jason tiba-tiba, entah apa jadinya jika tidak ada Jason, ia begitu ceroboh menahan diri untuk tidak menghubungi Jason, padahal tadi perutnya sudah sangat sakit sekali, seharusnya ia bisa berpikir dewasa, bagaimana jika sesuatu terjadi pada bayinya. Aah membayangkannya sudah membuat Shirleen begitu menyesal.
"Hei By..."
Bersambung...
*
*
*
Like, koment dan vote yaaahh
__ADS_1
Happy reading !!!