
Yudha baru saja sampai dengan motor sport merah kesayangannya. Ia basah kuyup karena memaksakan diri menerobos hujan lebat.
Dilihatnya ada sebuah mobil terparkir dihalaman rumahnya, namun ia tidak perduli perutnya sudah dingin karena bajunya yang basah.
Ia bergegas menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Aaaaaaaa"
Yudha terpaksa berteriak karena terkejut melihat ada orang lain di kamar mandinya, terlebih orang lain itu adalah seorang wanita dengan setengah tel*njang, entah apa yang sedang wanita itu lakukan ia sungguh tidak peduli, yang ia tau mata sucinya itu kini telah ternodai.
Yudha refleks menutup matanya, ia tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi saat ini.
"Kau, hei keluar, keluar..." ucap Weni ia segera menutup bagian bawahnya dengan handuk yang tergantung di rak kamar mandi.
Yudha segera keluar, ia memastikan penglihatannya mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, mendetil setiap inci ruangan yang sangat akrab dengannya itu, dan benar saja ia tidak salah masuk kamar, ini adalah benar kamarnya.
Lalu kenapa ada seorang wanita ? Kalau hanya mau menumpang kamar mandi kenapa juga harus memakai kamar mandi dikamarnya.
Ia menunggu wanita itu keluar, ada sesuatu yang harus ia tanyakan, ada sesuatu yang harus ia selesaikan.
Weni keluar dengan gugup sambil menetralkan jantungnya ia membuka pintu kamar mandi, ia mengintip ke kiri dan kanan mana tau masih ada seorang laki-laki yang tadi mengejutkannya.
Ah malu sekali jika dibayangkan sekali lagi, tubuh bawahnya yang polos sudah ada yang pernah melihatnya.
"Kau bertingkah seperti itu, apa kau tidak tau adat bertamu dirumah orang dengan baik" ucap Yudha kesal melihat seorang wanita yang ada dikamar mandinya tadi sedang clingak-clinguk seperti maling yang takut ketahuan.
"Apa... Kamu..."
"Lo..."
Keduanya terkejut, ini adalah kali pertemuan ketiga mereka, dan kesannya semakin bertambah buruk saja.
Mengapa selalu saja seperti ini, mengapa harus dia lagi ?. Weni.
Heh, dia lagi dia lagi, dimana-mana dia ini selalu ceroboh ternyata. Yudha.
"Sedang apa kau disini ?" tanya Weni langsung saja tanpa mengurangi rasa hormat.
"Disini, hahaha, lo gila ya, hei seharusnya gue yang nanyain itu, sedang apa lo dikamar gue ?" tanya balik Yudha.
"Aku ? Dikamarmu ?" Heran Weni. Otaknya belum bisa bekerja dengan baik, kejadian dikamar mandi tadi dan ternyata harus bertemu lagi dengan seseorang yang sangat tidak diharapkannya sungguh membuat kinerja otaknya melambat.
__ADS_1
"Iya kamar gue" Jawab Yudha dengan nada penuh penekanan.
"Kamar kamu ?" tanya Weni lagi.
"Iya ini kamar gue, heh gak usah dramatis sok-sokan kaget yaaa, kalau modus itu yang kerenan dikit" ucap Yudha. Ia sungguh kesal, dengan situasi sekarang, apalagi otak mesumnya sedang bekerja ekstra saat ini, walau sekilas tapi ia bisa melihat dengan jelas tubuh bagian bawah Weni saat ia membuka pintu tadi, apa lagi ia tidak bisa membiarkan matanya yang dengan tanpa berdosanya mengintip pada selah-selah jarinya, mata yang katanya suci itu malah tidak tau malunya mengintip aset berharga wanita dihadapannya ini.
"Heh, modus kamu bilang, kamu pikir aku gila, tadi aku disuruh milih salah satu kamar disini sama tante Wina, mana aku tau kalau ini kamar kamu, Tante Mila cuma bilang pokoknya jangan pakai kamar bagian kanan yang pertama" ucap Weni dengan nada yang berapi-api, enak saja bocil dihadapannya ini mengatainya modus.
"Nah kalau bukan modus apa namanya, sini lo, sini" Yudha menarik pergelangan tangan Weni keluar kamarnya, dan menunjukkan bahwa kamar itu memang benar kamarnya, tidak ada yang salah dengan ucapan Mamanya pada si tamu, kamar sebelah kanan bagian pertama, sudah dibilang jangan pakai kamar itu, jelas saja karena kamar itu milik anak bujangnya.
"Heeh heh, aku salah masuk ternyata, heh maaf" ucap Weni lembut, sekali lagi ia berharap pemuda dihadapannya ini mengampuninya.
"Heehh bilang saja modus"
Shirleen masih mencoba menghubungi suaminya, hujan diluar sangat lebat, dan berita di TV juga banyak chanel yang menayangkan kondisi terkini jalanan di Ibukota.
Banyak pohon tumbang dan juga banjir memutus akses jalan. Ia takut kalau suaminya itu terjebak situasi yang buruk sehingga tidak bisa pulang kerumah.
Beruntung ada Ipah dirumahnya, sehingga ia tidak merasa sendirian tanpa adanya orang dewasa bersama anak-anaknya.
"Nona, Tuan Muda pasti pulang" ucap Ipah mencoba menenangkan majikannya.
"Ipah, tapi ini hujannya sangat lebat dan tidak mau berhenti, Jason juga tidak bisa dihubungi sampai saat ini, setidaknya apa susahnya sih memberi kabar" keluh Shirleen. Ia sangat gelisah tanpa adanya kabar dari sang suami.
"Semoga saja Ipah"
"Ipah kau jangan pulang yaaa, malam ini menginap saja disini, diluar hujan sangat lebat kau jangan coba-coba pulang sekalipun Jason menatapmu seperti apa nantinya" ujar Shirleen lagi.
"Baiklah Nona, saya juga takut pulang dengan kondisi cuaca buruk seperti ini"
"Ipah kau buatkan makan untuk Misca yaaa, aku mau memandikan Jacob hari sudah mau malam" ucap Shirleen.
"Baik Nona"
Ipah lalu menjalankan tugasnya, mengurus Misca sudah menjadi tugasnya sehari-hari, walau tidak banyak yang ia kerjakan karena Misca bukanlah anak yang manja, Misca terbiasa melakukan apa-apa sendiri, termasuk makan, ia hanya perlu menyiapkannya tanpa harus menyuapi Misca makan.
Shirleen mengurus bayinya, dan tak lama bayi itu sudah ganteng didandani mamanya.
"Anak Mama, makin hari makin tampan" ucap Shirleen memanjakan bayinya.
Lalu ponselnya berdering, ia buru-buru melihatnya dan benar saja sebuah panggilan vidio dari suaminya.
__ADS_1
Ia menggeser tanda hijau diponselnya, panggilan itupun berlangsung.
"Hai anak papa, baru selesai mandi yaaa, udah ganteng banget kamu"
Ucap Jason dari seberang sana, karena Shirleen langsung mengarahkan ponselnya kearah Jacob.
"By, kamu belum pulang, lagi dimana itu ?" tanya Shirleen.
"*Iya nih, a*ku mau ngabarin By, aku belum bisa pulang, jalanan dari kantor ke rumah kita ditutup, ini aja aku masih di cafe, tapi nanti deh gimana caranya pokoknya aku pasti pulang, kamu jangan khawatirin aku, aku baik-baik aja kok"
"Iya aku nungguin kabar kamu dari tadi tau, kamunya nggak bisa dihubungi dari tadi"
"Tadi itu ponsel aku dayanya habis, ini aja lagi ngisi batre akunya, pinjem casan karyawan"
"Ada Ipah kan masih dirumah, suruh dia temenin kamu sama anak-anak, lagian mau pulang dianya juga nggak bisa, jalan kerumah mama juga ditutup, ada pohon besar tumbang By, belum bisa dieksekusi karena masih hujan lebat gini katanya"
"Iya Ipah belum pulang kok, lagi nemenin Misca makan kayaknya didapur, By Ipah nginep disini yaaa malem ini"
"Iyaaa, suruh dia nginep aja, kamu juga jangan lupa makan, jangan karena mikirin aku kamunya malah gak makan"
"Iya By, kamu juga"
"Uuuhh ini ini kamu liat, aku dari tadi makan terus nungguin hujannya reda gak tau sampe kapan, perut aku aja udah buncit ini saking banyaknya makan"
Ucap Jason sembari menunjukkan apa saja yang telah mengisi perutnya sedari tadi.
"Heemm jangan terlalu banyak makan yang manis kek gitu By, gak baik buat kesehatan" ujar Shirleen.
"Sekali dua kali lah By, lagian dicafeku yang ini juga cuma adanya ini menu beratnya"
"Ya udah, aku mau ke Ipah dulu, dadaaahh papa..."
Shirleen mendadahkan tangan bayinya itu ke kamera, ia lega sudah mendapatkan kabar dari suaminya itu, dan bersyukur suaminya itu baik-baik saja.
"Dadaaahh gantengnya Papa"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!