
Hari ini adalah hari ke tiga Shirleen menginap dirumah orang tuanya, rencananya ia akan kembali ke apartemennya sore ini, sedikit info ia sudah pindah ke apartemen Jason yang Jason beli saat ia menempati apartemen Weni waktu itu, Jason menyuruhnya untuk tinggal diapartemennya saja. Dan beruntung Weni maklum untuk itu, sehingga bukan masalah baginya.
Segala kenangan masa lalu telah ia bakar hangus, pergi seiring asap yang mengepul bebas, terbawa angin dan lenyap.
Lega, ia sungguh tidak merasa kehilangan sama sekali, apakah ia benar-benar telah melupakan ayah dari kedua buah hatinya ini.
Lupakan Athar, Shirleen benar-benar giat mencoba, dan kehadiran Jason sangatlah membantunya.
"Kenapa tidak tinggal disini saja sih nak, kita sama-sama lagi, Mama masih kangen sama Misca" ucap Mama Nena saat Shirleen berpamitan untuk pulang. Wanita paruh baya itu tak hentinya mengecup sayang sang cucu.
"Ilen ingin tinggal berdua dengan Misca Ma, dan juga sekolah Misca saja sudah lumayan jauh dari apartemen, kalau dari sini akan semakin jauh, Ilen janji akan sering-sering berkunjung kesini, lagian kan Mama juga bisa Mengunjungi Ilen" jawab Shirleen. Ia masih rindu, tapi untuk tinggal bersama lagi ia merasa belum pantas, mengingat kekecewaan yang telah ia torehkan.
"Ya baiklah, salam untuk Tuan Muda yah..."
"Iya Ma Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Shirleen pamit, dan mulai memasuki mobilnya.
Selamat tinggal masa lalu...
Ia menatap awan, mungkin saja luapan masa lalunya berhenti disitu, tepat dibawah ia membakar habis semuanya. Tidak tersisa.
"Son, manggung yuk ntar ?" Ajak Angga, ia sudah lama tidak tes vocal.
"Heemmm"
"Yah si kampret, dasar ajaib"
"Tau hem mulu, dikira otak kita nyampe apa"
__ADS_1
"Setara Einstein aja belum tentu paham, apa lagi gue yang mengalami penjajahan otak tiap hari gini" Keluh Afik, belajar sungguh membuatnya pusing.
"Lo kan emang bego dari sononya"
"Wah ngajak gelut lo"
Afik dan Angga kini telihat adu kekuatan, Jason tidak peduli, Yudha juga.
Gosip hangat yang beredar tentang Selena sang artis, berpotensi mengubur berita viral Lisa yang sudah berangsur basi.
Saat Jason ke kelas, pendengarannya yang tajam itu dengan terpaksa harus ikut mendengar.
Nggak penting...
Ia ingin bolos, jam kosong pada pelajaran terakhir membuatnya melilih untuk menyudahi aktivitas belajar mengajar, masih banyak yang harus ia lakukan, di kantor Roy begitu mengharapkan kehadirannya, dari pada mendengar berita nggak penting seperti ini lebih baik ia ngantor menambun cuan yang banyak supaya tetap kaya tujuh turunan.
"Eh eh, mau kemana lo ?" Tanya Afik, ia yang sekelas dengan Jason sebenarnya sudah tau arah tujuan sahabatnya itu, namun mulutnya tidak bisa diajak kompromi untuk tidak berbasa-basi.
Ia melajukan motor sportnya kearah kantor, ia ingin beristirahat sebentar, membuktikan bahwa ia juga hanya manusia biasa yang punya rasa lelah.
Sambutan para karyawan melengkapi setiap langkahnya, semuanya tersenyum ramah, entah tulus atau tidaknya Jason enggan menganalisa, biarkanlah para penjilat menyapanya, berikan kesempatan seluas-luasnya kalau hanya sekedar untuk menyapa, jika berani lebih dari itu, maka harus siap untuk hidup dalam ketidaknormalan, mau coba ? Hayuk silahkan.
"Roy, buatkan aku kopi ?" ucapnya lewat telpon.
Roy segera bergegas ke pantry, membuat kopi bukan tugasnya, namun tidak untuk seorang Tuan Muda Jason, tangannya ini harus selalu siap melakukan apa saja, Jason tidak menerima kopi dari orang lain di sini selain dari tangannya.
Sudah ia bilang kan ia kadang begitu iri pada Mery, ataupun pada OB yang bertugas, apakah tugas seorang yang menjabat sebagai asisten pribadi memang seperti ini di kantor lainnya, merangkap apa saja dan harus serba bisa.
Lupakan, itu hanya pikiran buruk, cukup merasa tidak tau dirinya, keluarga Adrian sudah begitu baik padanya, berbangga hatilah itu artinya tuan muda sangat mempercayainya.
"Bagaimana ?"
__ADS_1
"Rapat akan dimulai dua jam lagi dari sekarang Tuan Muda"
"Heemmm"
"Tuan William mengundang anda makan malam dirumahnya, jadwal kosong anda hanya besok malam Tuan"
"Hemmmm" Jason menganggukkan kepalanya.
"Proyek ASA Group berjalan lancar hari ini, seperti yang tuan inginkan"
"Ia nampak tertarik, namun belum memutuskan"
Jason mengangguk lagi.
"Pergilah, aku ingin istirahar sebentar, bangunkan lagi aku untuk bersiap-siap"
"Baik Tuan Muda"
Roy kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Kau tidak punya pilihan lain.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, dan vote
__ADS_1
Happy reading !!!