Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Suara Hati Shirleen (Shirleen POV).


__ADS_3

Shirleen POV.


Mata itu aku tau, aku sangat tau mata itu penuh kekecewaan.


Ia kecewa padaku, ia merasa dipermainkan dalah hubungan kami. Aku harus apa, aku bahkan tidak tau aku harus apa setelah aku meilhat mata itu ?


Bukan dia yang mengecewakanku, tapi aku yang sebenarnya telah mengecewakannya.


Dia cukup dewasa meski umurnya lebih muda dariku, dia cukup sabar menerimaku apa adanya, tapi aku tak berdaya, sebuah kesalahanku dimasa lalu kini terus saja menghantuiku, hingga ketakutan itu masih terbawa di hubungan keduaku ini.


Enam tahun lalu aku menentang pendapat orang tuaku, aku bahkan tega meninggalkan kedua orang yang paling mengenalku hanya demi seseorang yang aku cintai waktu dulu.


Enam tahun lalu, aku memilih jalanku sendiri, membenarkan apa yang aku lihat, bahwa yang aku pilih kelihatannya sangat mencintaiku.


Enam tahun lalu juga, aku berdiri sendiri, menganggap apa yang aku lakukan sangatlah benar, bukan berarti aku menganggap mereka salah, hanya saja aku mengikuti kata hatiku, dan aku selalu berpedoman bahwa suara hati tidak pernah salah.


Enam tahun lamanya aku meninggalkan orang tuaku, sulit namun seiring berjalannya waktu rasanya aku cukup saja hidup dengan cinta dari seorang laki-laki yang katanya juga mencintaiku.


Hingga keadaan berbalik, ternyata kedua orang yang paling mengenalku itu tidak pernah salah, mereka bahkan memilih berdebat denganku untuk membawaku ke jalan yang benar enam tahun lalu, tapi sayang sekali saat itu aku abai dan tak bisa dihentikan.


Itulah kenapa aku selalu menuruti apapun rencana ataupun kehendak orang tua, termasuk mertuaku yang menginginkan membawa Jason ke jalan yang benar.


Walaupun pada saat Mama Mila bilang merencakan menjauhkan kami saat itu, aku tidak bisa protes, lidahku kelu walau dalam hati aku sangat tidak setuju, aku ingin berbicara berdua dengan Jason, aku sudah mengetahui bagaimana buruknya dia, menurutku seharusnya aku harus berusaha selalu ada di sampingnya, membicarakan masalah itu secara baik-baik meski saat itu kami belum menjadi pasangan suami istri, bagiku tidak ada salahnya mengungkapkan keluh kesah, mungkin sambil membelai lembut rambutnya yang sudah mulai gondrong saat itu akan membuatnya lebih nyaman dalam bertukar pendapat denganku.

__ADS_1


Tapi aku tidak bisa melakukannya, lagi dan lagi bayang-bayang aku yang menentang kedua orang tuaku enam tahun lalu kembali berputar di memori otakku, aku hanya bisa berharap saran Mama Mila akan benar-benar bisa membawa Jason ke dalam kebaikan, aku sangat berharap laki-laki yang akan menjadi calon suamiku saat itu bisa berubah dan membangun rumah tangga berdua denganku, didalammya ada Misca dan Jacob serta anak-anak kami nanti yang akan mewarisi separuh wajah serta sifatku dan Jason.


Saat ia bisa menemukanku, sebenarnya aku sangat bahagia, berarti aku sangat dicintainya hingga ia rela mencariku kemana saja, aku membawanya bicara berdua dan ia berjanji akan meninggalkan dunia hitamnya, lagi dan lagi aku terbang karena ia menurutiku, hanya demi aku, sungguh aku jadi semakin cinta saja dengannya.


Lalu kami menikah, walau karena ada sedikit kesalahan yang menyebabkan kami menikah secara mendadak, aku jujur tidak apa, toh cepat atau lambat kami juga akan menikah, dia menyanyangiku, menyayangi anak-anakku, dan sudah berapa kali mengatakan kalau ia akan menikahiku setelah ia lulus sekolah, sudah saatnya aku membalas seluruh cinta yang ia berikan. Jadi aku tidak apa, aku baik-baik saja dan aku bahagia.


Aku tidak punya keluhan apapun tentangnya, ia begitu baik, papa siaga, setiap hari aku bahkan jatuh cinta padanya, biarlah akan terus ku pupuk cinta ini hingga menggunung sekalipun, rasanya begitu saja tidak akan cukup untuk membalas apa yang ia lakukan padaku, ia merawatku dan anak-anak, apa ada yang lebih baik dilakukan seorang suami, atau seorang ayah yang sebenarnya bukanlah ayah kandung anak-anakku.


Tapi ia seolah menutup mata, ia selalu mengatakan aku, Misca dan Jacob adalah rumah baginya, bohong aku tidak terharu jika setiap hari di hujani cinta semacam itu. Bahkan sering kali aku menangis bahagia di pelukanya, sungguh mendekati sempurna.


Dan pada akhirnya hari itu aku menemukan sebuah kenyataan lagi, faktanya suamiku tidak benar-benar berhenti dari dunia hitamnya, aku mengetahui itu dari Tuan Fredy Nickholas, ia ternyata seseorang yang juga sangat mengenal suamiku.


Bahkan menurut pengakuannya, suamiku lebih dekat dengannya ketimbang Papa Adrian.


Tapi lagi dan lagi, aku harus kalah dengan traumaku, saat Tuan Fred merencanakan akan membuat Jason sadar aku malah tanpa pikir panjang menggantungkan harapan padanya, karena lagi lagi aku merasa beliau lebih mengenal suamiku dari pada aku yang baru menemaninya di hampir satu tahun ini.


Aku menurut saja, aku diasingkan di sebuah tempat bersama Ipah, Misca dan Jacob tidak ada satupun kekurangan di tempat itu, fasilitas mewah yang di berikan oleh Tuan Fred seharusnya bisa membuatku lebih nyaman, namun sungguh tidak ada sedetikpun pikiranku teralihkan, aku benar-benar tidak bisa makan dengan benar maupun melakukan apapun dengan baik.


Suamiku sedang apa dia disana, apa dia baik-baik saja, aku hanya tau Tuan Fred sedang berusaha menyadarkannya, mungkin memberikan nasihat dengan berbicara berdua, atau apapun yang bisa membuat Jason beralih ke jalan yang benar dan segera meninggalkan dunia hitamnya, aku sangat menggantungkan harapan pada Tuan Fred.


Apakah suamiku merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan saat itu, begitu mencemaskannya, begitu merindukannya.


Hingga malam itu terjadi, Tuan Fred tertangkap, aku dibawa oleh Jason sementara Ipah, Jacob dan Misca entah dibawa kemana oleh orang suruhan Jason.

__ADS_1


Sisi iblis suamiku mulai terlihat, aku tidak percaya ia bisa menumbangkan lawan dalam sekejap seperti ia melakukan itu pada Tuan Fred, aku bahkan tidak tau Tuan Fred masih hidup atau tidak saat ini.


Aku begitu takut, apa lagi saat Jason yang menyetir di sampingku tidak mengeluarkan satu patah katapun, tatapannya lurus kedepan, dingin sekali, entahlah aku bahkan bisa melihat kemarahan dalam matanya saat itu.


Suamiku pasti kecewa karena aku lagi-lagi menghindarinya dengan kabur dari rumah, tapi jujur aku tak berdaya, trauma itu selalu saja menggangguku, saat sudah begini aku baru menyadari sebenarnya lebih baik bicara berdua antar suami dan istri ketimbang menggantungkan harapan pada orang lain, mungkin sambil di bumbui dengan kegiatan panas kami akan membuatnya sedikit rileks lalu luluh, tapi aku malah tidak melakukan itu meski aku sempat memikirkannya.


Padahal hatiku menentang, saat Tuan Fred seakan ingin ikut campur dengan urusan kami, dan herannya aku malah membiarkannya karena selalu menganggap aku tidak tau apa-apa tentang Jason Ares Adrian suamiku.


Disinilah ia sekarang, dihadapanku berjanji sekali lagi bahwa ia akan memperbaiki segalanya, bahwa ia akan meninggalkan semua itu dengan segera demi aku, demi keluarga kecilnya.


Namun bibirku kelu lagi, aku malah mengatainya seorang bajingan dan pembohong, dan bahkan aku mengatakan kalau ia tidak bisa dipercaya, aku telah menyakitinya lagi meski aku tidak ingin.


Aku sadar aku terbawa emosi karena ia memisahkanku dari anak-anaku semalaman, terlebih aku masih belum tau dimana mereka berada. Sungguh bukan inginku menatakan ia sebagai orang yang buruk.


Aku ingin membelai pipi itu, ingin meminta maaf, entahlah semua diluar kendaliku, dan aku merasa aku bukanlah istri yang baik.


Shirleen POV end.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2