Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Biar aku tebak.


__ADS_3

"Kita mau kemana By ?" Tanya Shirleen, karena dilihatnya mereka sudah melewati apartemen.


"Kita ke mansion, karena kita akan tinggal disana"


"Lho kenapa, kenapa tiba-tiba, gimana dengan sekolah Misca, dari apartemen saja jaraknya sudah lumayan jauh, ini udah lewat rumah Mama aku lho"


"Kantor kamu juga, emang gak buang waktu kalau jauh banget gini"


"Yah gak papa lah, beberapa hari ini juga aku tinggal disana"


"Kamu ? Tinggal disana ?"


"Iya"


"Haahh" Shirleen menghela nafas berat, Jason memang sulit dikendalikan, ternyata apa yang dikatakan Mama Mila tentang minggatnya Jason dari rumah itu benar. Ia jadi bergidik ngeri bagaimana nanti jika muncul konflik rumah tangga antara ia dan Jason, apa Jason juga akan meninggalkannya. Tidak... akan ia usahakan untuk jangan mencari gara-gara dengan suaminya ini.


"Kenapa ? Apa yang kau pikirkan ?"


"Tidak ada, aku hanya tidak menyangka kita akhirnya menikah" jawab Shirleen, namun gerak dan air mukanya bisa terbaca oleh Jason bahwa ia tengah memikirkan sesuatu.


"Kau memikirkan apa ?"


"Tidak ada"


"Jangan bohong !"


"Tidak ada By..."


"Mau aku tebak kau memikirkan apa ?"


"Tebak saja, sungguh aku hanya memikirkan serasa tidak percaya saja kita sudah menikah"


"Ya baiklah kalau tidak mau jujur, kalau aku benar kau harus menciumku yaaa"


"Enak saja, itu sih memang maumu"


"Lho kenapa, kau takut tebakanku benar, aku saja belum mengatakan tebakanku"


Keduanya diam, Shirleen memilih larut dalam pemikirannya, tadinya ia hanya berpikir Jason adalah sosok pribadi yang keras, berpendirian tegak tidak suka dicampuri urusannya, tapi kali ini ia juga memikirkan bahwa Jason mungkinkah punya keahlian membaca pikiran orang lain.

__ADS_1


"Ekhhmm"


"Kau termenung lagi, bahkan kau tidak sadar kalau kita sudah sampai" ucap Jason yang berhasil membuyarkan lamunan Shirleen.


"Sudah sampai ?" Shirleen tidak percaya, berapa lama ia melamun tadi.


"Iya, hayooo mikirin apa lagi sih istriku ini ?" goda Jason, semburat merah memenuhi pipi Shirleen, ia tersipu hanya karena Jason memanggilnya istriku. Aahh istri, rasanya seperti ada bunga-bunga mengelilinginya kali ini.


Jason menggendong Misca masuk kedalam mansion, sedang Shirleen mendekap Jacob dengan hati-hati, bayi itu sudah berapa kali menggeliat karena tidurnya mulai tidak nyenyak.


"Kau suka ?" tanya Jason saat mereka sudah berada di kamar, kedua bocil masih pulas tertidur.


"Apanya ?"


"Rumah ini ? Menurutmu bagaimana ?"


"Bagus, cuma rasanya terlalu besar, aku tidak suka tinggal dirumah yang luasnya bukan main seperti ini" jawab Shirleen, sepertinya ia terlalu jujur sampai tidak memikirkan akan ada semburat kecewa tergambar diwajah Jason mengingat apapun kehendak pemuda itu tidak pernah dibantah.


"Baiklah nanti kita beli rumah yang kecil"


Hah beli, segampang itu ?


"Bukan begitu By, aku menyukai ini, tidak apa kita tinggal disini saja" ucap Shirleen lagi, ia sadar ucapannya tadi agak menyakiti suaminya.


"Tidak usah By, kita akan mulai hidup baru disini, maaf yaaa tadi aku bilang tidak suka, sebenarnya bukan seperti itu, mungkin aku tidak terbisa, eeh bukan maksudku belum terbiasa" dengan hati-hati Shirleen memperbaiki ucapannya.


"Kau yakin ?"


"Iya By..."


"Tapi jika nanti kau tidak betah bilang yaaa, kita bisa pindah ke apartemen lagi" Jason benar-benar berusaha membuat istrinya senyaman mungkin bersamanya.


"Eemm iya, insyaallah aku pasti betah"


"Bagaimana dengan tebakanku ?"


"Apa lagi ?"


"Yang tadi dimobil, aku akan mencoba menebaknya, jika aku benar kau harus menciumku yaaa"

__ADS_1


"Memangnya bagaimana menentukan benar atau tidaknya, itu kan pemikiranku"


"Ku harap kau bisa sportif, katakan benar jika memang benar, tidak usah mengelak karena aku juga bisa tau jika saja kau tidak mengakuinya" ucap Jason, ia menatap dalam wajah istrinya, bisa memandangi puas wanitanya ini sudah lebih cukup untuknya yang sampai saat ini masih belum juga buka puasa.


"Baiklah, ayo tebak saja"


"Kau memikirkanku kan ?" tuding Jason.


"Ya memang benar, kan sudah ku bilang aku tadi sedang memikirkan rasanya belum percaya bahwa kita benar-benar menikah"


"Bukan hanya itu"


"Yaaa, lalu apa lagi ?"


"Kau memikirkan aku yang sangat keras kepala ini kan, hingga bisa minggat dari rumah ?" ucap Jason sembari merebahkan tubuhnya, kepalanya mendarat di pangkuan istrinya, posisi inilah yang selalu ia bayangkan saat berbincang dengan Shirleen kala mereka sudah menikah.


Benarkan, ini bocah emang cenayang, bagaimana dia bisa tau.


"Benarkan ?"


"Heemmm, bagaimana kau bisa mengetahuinya ?"


"Kau tau, biar ku beri bocoran sedikit, dalam dunia mafia hal seperti itu sudah wajar By, kami bisa dengan mudah mengetahui apa yang lawan bicara pikirkan, dengan hanya mengandalkan topik pembicaraan sebelumnya atau bisa juga hanya dengan pergerakan dan bahasa wajah" jelas Jason.


"Apa kau sehebat itu ?"


"Hebat, apanya yang hebat ?"


"Kau berpotensi jadi detektif jika begitu ?" Tangan Shirleen masih membelai lembut helai rambut Jason.


"Itu bisa terjadi karena kebiasaan, bukan hal yang bisa dibanggakan, tapi kalau untukmu perlu diwaspadai, jika kau berani macam-macam aku bisa saja sudah mengetahuinya duluan, jadi jangan coba-coba yaaa"


Shirleen memutar bola matanya malas, bagaimana bisa Jason berpikir ia akan macam-macam.


Memangnya aku mau melakukan apa ? Hei Tuan Penguasa, dengan dirimu yang tidak suka dibantah saja sudah membuat pening.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2