Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Satu jam sebelumnya.


__ADS_3

Flashback.


Satu jam sebelumnya,


"Lisa, Ralisa Imanuella Syarif, namamu indah." puji Shirleen, saat ini ia sedang menginterview Lisa, ia sebenarnya mau saja menerima Lisa, namun karena adanya suatu yang mengganjal membuat ia harus menanyakan lebih detil, yaitu masalah sekolah.


"Terimakasih Bu." ucap Lisa.


"Disini tertulis, tidak bisa masuk shift malam dengan alasan harus bersekolah, apa maksudnya, bisa tolong dijelaskan?" tanya Shirleen.


"Emm iya Bu, saya home schooling, kalau malam saya harus sekolah, tidak setiap hari sih, hanya senin sampai kamis saja, tapi lebih baik tidak mengambil shift malam karena saya tinggal lumayan jauh Bu." beber Lisa.


"Itu hanya kalau bisa Bu, tapi kalau tidak bisa saya akan mengundurkan diri saja." ucap Lisa lagi.


Shirleen melihat lagi berkasnya, ah iya lumayan jauh, lantas kenapa harus bekerja di kota, kenapa terlalu memaksa untuk bekerja.


"Kenapa memilih melamar disini, kamu tinggal lumayan jauh dari sini?" tanya Shirleen.


"Saya hanya ingin mencari pengalaman Bu." jawab Lisa.


"Hanya itu?" tanya Shirleen lagi.


"Eemm, sebenarnya saya..." gugup Lisa, haruskah ia mengatakan hal diluar pekerjaannya.


Tadi saat ia menunggu waktu interview, ia hendak membeli rujak yang kebetulan abang tukang rujaknya sedang mangkal tidak jauh dari cafe Shirleen, namun diluar dugaan ia malah melihat wanita yang tadi bertengkar dengan istrinya Jason sudah dibekap mulutnya dan dimasukkan paksa kedalam mobil.


Ia peka sekali, bukan maksudnya untuk berpikiran buruk, namun ia bisa memastikan kemana wanita itu akan dibawa.


"Kenapa, apa ada alasan lain selain itu?"


"Tidak ada Bu."


Lisa melihat sekeliling ruangan Shirleen, apa ada cctv yang mengawasi gerak-geriknya, pernah diperdayai oleh Jason membuatnya menjadi sangat waspada.


"Kak Shirleen, maaf emm..." Lisa semakin gugup, ia ingin menyelamatkan wanita tadi, namun nyalinya sepertinya belum cukup jua.


"Ya, kenapa?"

__ADS_1


"Aku ingin bicara, ini tentang wanita tadi." ucap Lisa, ia sudah memutuskan untuk mengurangi Lisa Lisa yang lain, yang akan senasib dengannya menghancurkan hidup sendiri hanya karena dengan beraninya menyentuh hidup Jason.


"Siapa? Erni kah?"


"Ah aku tidak mengenalnya kak, tentang wanita yang tadi sempat bertengkar dengan Kak Shirleen." ungkap Lisa.


"Iya itu Erni, kenapa dengan dia?" tanya Shirleen penasaran.


"Sebenarnya aku tadi melihatnya di culik kak, emm maksudku mulutnya dibekap lalu di masukkan paksa kedalam mobil." jelas Lisa.


Shirleen menganga saking terkejutnya mendengar penuturan Lisa. "Ya Tuhan, mengapa kau tidak bilang, kau tau plat nomornya, nanti akan aku hubungi suamiku untuk menyuruhnya melacak, semoga saja tidak terlambat, ya Tuhan zaman sekarang banyak sekali terjadi penculikan, rumor yang beredar mereka para korban akan dibedah lalu diambil bagian organ tubuhnya, tidak mungkin kan, astagah Erni." Shirleen shock, ah meski Erni jahat padanya tapi ia tidak akan setega itu membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Erni.


"Kak Shirleen tenanglah, tenang..." ucap Lisa mencoba menenangkan, ia mengambilkan air minum untuk Shirleen supaya bisa menetralkan perasaanya.


"Tarik nafas pelan Kak, lalu hembuskan, tenang kita bicara baik-baik." ujar Lisa.


Shirleen kemudian melakukannya, lumayan hal itu memang bisa membuatnya lebih tenang meski hanya sedikit.


"Ayo, kau ingat, kau hafal plat nomornya?" Shirleen mengambil ponselnya dari tas, ia ingin mengadukan peristiwa penculikan yang terjadi tadi pada suaminya, dan penculikan itu telah terjadi di sekitar cafenya, ia merasa cafenya sudah tidak aman, "Apa kau benar-benar melihatnya, maksudku meski itu bukan Erni tapi kau benar melihat seseorang di culik kan?" tanya Shirleen penuh penekanan.


"Mau menelpon suamiku, dia pernah bilang dia bisa menuntaskan masalah begini, dia juga bisa melacak keberadaan seseorang hanya lewat nomor ponsel ataupun plat nomor kata temannya waktu itu yang juga pernah bilang padaku." Shirleen ingat kata Afik, bahwa Jason memang pandai dalam beberapa hal untuk menjadikan detektif, dan Shirleen percaya karena Jason pun juga bisa membaca pikiran orang lain.


"Jangan kak, sebentar tolong jangan." ucap spontan Lisa, wah kacau mengapa juga harus menghubungi orang yang sebenarnya adalah penculiknya pikir Lisa.


"Lho kenapa?" tanya Shirleen.


"Aku yakin yang nyulik wanita tadi adalah suami Kakak, Jason Ares Adrian." ungkap Lisa.


Shirleen lagi-lagi terperangah, pernyataan macam apa yang baru saja didengarnya.


"Heh, kamu jangan sembarang nuduh ya!" bela Shirleen pada sang suami.


"Maafkan aku kak, aku harus membuka rahasia suami kakak." ucap Lisa.


"Rahasia?"


"Sebenarnya, aku adalah salah satu orang dari banyaknya korban akibat kerasnya hati Jason..." lalu Lisa menceritakan bagaimana kisah hidupnya pada Shirleen, dari awal obsesinya pada Jason hingga ia berujung seperti ini, ia juga menyebutkan alasan bahwa ia ingin bekerja adalah ingin mencari pengalaman sekaligus ingin banyak berinteraksi dengan orang lain, ia terlalu lama bersembunyi dan sudah cukup rasanya mengasingkan diri.

__ADS_1


Shirleen tidak percaya bahwa suaminya adalah orang yang sangat kejam, sungguh apa yang terjadi pada Tuan Fred waktu itu seharusnya sudah bisa membuat Shirleen menyadari bahwa Jason adalah iblis, namun karena cinta ia mengabaikan dan lagipun Jason sudah berjanji padanya akan berhenti.


"Hanya Kak Shirleen yang bisa menghentikan semuanya, itulah sebabnya tadi aku mencegah wanita bernama Erni tadi, supaya dia tidak bernasib sama denganku, Jason tidak pernah kehabisan ide untuk membalaskan dendam pada orang yang telah berani mengusik hidupnya, atau dengan orang yang telah berani menyakiti orang-orang yang dia sayangi." ucap Lisa.


"Apa Erni akan dibawa ke ruangan bawah tanah, Villa keluarga Adrian?" tanya Shirleen.


"Aku rasa juga begitu kak, lalu bagaimana?" tanya Lisa.


"Kau ikut aku, kita akan ke sana, aku harus menghentikan semuanya sebelum terlambat." ucap Shirleen yakin.


"Baik kak." Lisa menyetujui.


"Aku akan bilang keluar sebentar dulu sama Ipah, biar dia bisa urus anak-anak, kamu tunggu di dekat mobilku?" ucap Shirleen.


"Baik Kak."


Lalu Shirleen mengatakan pada Ipah untuk pamit keluar sebentar, meski Ipah sempat bersikeras ingin ikut, namun Shirleen masih bisa beralasan lain, Ipah berusaha untuk tidak menaruh curiga pada sang majikan, karena Shirleen meyakinkannya hanya sebentar.


Gegas Shirleen menuju mobilnya, mempersilahkan Lisa untuk masuk, ia menyuruh Lisa saja yang menyetir, ia begitu gugup saat ini, takutnya tidak bisa berkonsentrasi dalam mengemudi.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai juga di Villa milik keluarga Adrian, tampak sepi dari luar meski terlihat sangat rapi dan terawat.


Shirleen dan Lisa langsung saja menuju ruang bawah tanah, baik Shirleen maupun Lisa, mereka sudah pernah datang ke tempat ini, tempat yang bisa dikatakan tempat untuk Jason mengeksekusi targetnya.


Reka ulang saat ia dibawa kesini oleh pengawal Jason masih terpatri jelas di pikiran Lisa, sungguh pilu ia rasakan saat mengingat kejadian yang merenggut sesuatu yang sangat berharga darinya itu.


"Braakkk..."


HENTIKAN SEMUA INI!"


Flashback off.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2