Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Tidak... Anak-anakku!


__ADS_3

"Kondisi ini sebenarnya biasa terjadi, namun pada kasus yang dialami istrimu, sebenarnya pendarahannya cukup banyak." terang Dokter Eri. Satu-satunya dokter yang berani menjelaskan kondisi kesehatan Shirleen.


"Apa dia mau melahirkan?" tanya Jason.


"Iya, tapi Nona Shirleen mengalami hipertensi dan juga plasenta previa, hal itu yang menjadi penyebab istrimu pendarahan, dan sayangnya Nona Shirleen tidak bisa melahirkan normal."


"Apa itu plasenta previa?"


"Plasenta previa adalah kondisi ketika ari-ari atau plasenta berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir, hal ini juga menyebabkan pendarahan hebat yang terjadi pada Nona Shirleen."


"Plasenta adalah organ yang terbentuk di rahim pada masa kehamilan. Organ ini berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu kepada janin, serta membuang limbah dari janin."


"Normalnya, plasenta memang berada di bagian bawah rahim pada awal masa kehamilan, namun seiring pertambahan usia kehamilan dan perkembangan rahim, plasenta akan bergerak ke atas. Pada kasus plasenta previa, posisi plasenta tidak bergerak dari bawah rahim hingga mendekati waktu persalinan."


"Jadi?"


"Apa kau setuju jika kami mengambil tindakan operasi?" tanya Dokter Eri.


Jason menghembuskan nafasnya pelan. "Apa dia dan bayi-bayiku akan selamat?" tanyanya.


"Hidup dan mati adalah urusan manusia dengan Tuhan-Nya, kami hanya dokter, meski sudah sering kali berhasil menyelamatkan nyawa manusia, namun tangan kami tidak selalu ajaib. Kau harus tetap tenang, berdoalah, jangan putus harapan, kami akan berusaha semampu kami."


"Baiklah, lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka!" titah Jason.


Baginya tidak ada pilihan lain saat ini selain menurut. Semoga tidak terjadi apapun pada keluarga kecilnya.


Subuh itu juga, segalanya sudah pihak rumah sakit siapkan untuk operasi caesar yang akan Shirleen lakukan.


Roy selalu berada di dekat Tuan Mudanya, meski suasana saat ini begitu handal dalam menciptakan ketegangan, namun sebisa mungkin Roy menenangkan Tuan Mudanya.


"Roy!" panggil Jason.


"Ya Tuan Muda!"


"Aku bermimpi!" ucap Jason.


Roy masih diam menyimak, aku bermimpi bayi-bayiku, mereka tidak mau keluar, mereka bilang aku ayah yang buruk, tidak bisa menepati janji, ada apa sebenarnya." jelas Jason.


Roy terdiam, kepalanya diajak berpikir keras untuk mengingat sesuatu, dan yah! Roy ingat.


"Tuan Muda, sebenarnya Tuan Muda pernah bermimpi seorang anak laki-laki sebelumnya, mengatakan untuk berdamai dengan Tuan Besar, barulah dia bisa lahir dengan tenang." ucap Roy hati-hati, takut sekali membuat Tuan Mudanya yang terkenal tempramen itu tersinggung.

__ADS_1


Jason nampak memikirkan perkataan Roy, yah benar, dirinya baru ingat, pernah bermimpi hal serupa, wajah itu juga sama di hanya bedanya dalam mimpi yang sebelumnya tidak ada anak perempuan yang juga anaknya itu. Namun mengapa dirinya bisa lupa?


"Aku harus apa Roy?" tanya Jason.


Pertanyaan macam apa ini Tuan, aku tidak berani menjawabnya!


"Tuan Muda ingin berdamai?" tanya Roy, masih dengan mode sangat hati-hati.


Jason menatap Roy penuh tanya, harus berdamai dengan Adrian? Jason menghembuskan nafasnya berat, selama ini dirinya selalu mencoba berdamai, namun apa? Kebencian itu seolah enggan luruh, meski Adrian dan Mama Mila sudah menjelaskan semuanya, meski dirinya sudah bisa membalas dendam pada Bayu Lesmana, meski Bayu juga sudah tiada, apa yang dirinya dapat? Tidak ada! Kepuasan hati pun tidak. Hanya kebencian yang seakan enggan lenyap dari jiwanya.


Jason mengalihkan pandangannya, wajah Adrian tiba-tiba muncul dibalik lorong Rumah Sakit, semakin mendekat ke arahnya.


"Nak..." Panggil pria paruh baya yang ternyata benar-benar nyata kehadirannya, "Bagaimana keadaan Shirleen." disusul Mama Mila yang ternyata juga hadir mengikuti Papanya.


"Tidak begitu baik!" jawab Jason apa adanya.


Mama Mila menutup mulutnya tidak percaya, tadi Ipah menelpon dan mengabarkan bahwa Shirleen mengalami pendarahan dan dibawa ke rumah sakit, keduanya langsung saja bergegas menuju rumah sakit, takut sekali terjadi sesuatu dengan menantunya itu, namun apa ini? Jason bilang kondisi Shirleen tidak begitu baik, apa yang sudah terjadi?


"Yang sabar ya sayang..." Mama Mila mengusap lembut lengan putranya. Jason bisa merasakan kasih sayang yang tulus tercipta saat ini.


"Papa tidak akan menjadi Papa yang buruk kan?"


"Aku tidak akan menyusahkan Papa dan Mama saat aku dan adikku terlahir nanti, tapi bisakah Papa berjanji untukku?"


Anak laki-laki itu menjauh dari Jason dan mulai mendekat pada Adrian, ia mengambil jari Adrian dan memberi isyarat untuk mengikutinya, Adrian mun menurut, dan ternyata anak laki-laki itu membawanya ke hadapan Jason lagi.


"Maukah Papa berjanji untuk ini?" tanya anak laki-laki itu, tangan Jason dan tangan Papanya menyatu saling menggenggam, anak laki-laki itu tersenyum manis, Jason jadi tidak tega untuk menolak permintaannya.


"Sekarang aku sudah yakin untuk lahir ke dunia nanti, Papaku tidak akan menjadi Papa yang buruk."


"Aku tidak mau, sudah kukatakan aku tidak mau!"


"Sudah kukatakan aku tidak mau, kau sudah berjanji padaku waktu itu, namun kau belum juga menepatinya!"


"Aku tidak akan hidup normal jika kau memaksaku keluar dari sini sementara kau belum menepati janjimu. Ini hukuman bagi kami."


"Nak, apa kalian benar-benar anakku, tapi bagaimana bisa?"


"Tidakkah kau lihat aku begitu mirip dengan Ibuku, sementara dia lebih-lebih mirip denganmu, apa aku harus memanggilmu Tuan, hey Tuan penguasa!"


"Aku tidak akan menemuinya!"

__ADS_1


"Aku juga tidak akan pergi jika kau tidak ikut."


"Kau tidak akan menjadi pemimpin di suatu hari nanti, jadi kau tidak akan perlu merasakan ketakutanku!"


"Kau bukanlah Ayah yang baik, kau Ayah yang buruk!"


"Nak..."


"Pergi, aku tidak akan mau ikut denganmu!"


"Kalau kau ingin pergi, pergi saja, aku akan tetap disini, aku lebih baik mati dari pada lahir hanya untuk melihat kebenciannya."


"Nak, Papa mohon jangan seperti ini..."


Percakapan dalam mimpi itu terus saja berputar ulang bagai kaset kusut di kepalanya.


"Braakkk..."


Jason ambruk terduduk lemas, air matanya mengalir tiada henti, anak-anak itu adalah bayi-bayinya yang tengah di kandung Shirleen, yang saat ini sedang berjuang untuk hidup bersama Mamanya.


Tidak bisa menepati janji, anak laki-laki itu pernah berkata tidak akan menyusahkan Shirleen saat mereka lahir ke dunia jika ia mau berjanji akan suatu hal, namun apa? Karena masalah yang datang silih berganti, dan terlebih karena kebenciannya terhadap Adrian, Jason bahkan melupakan janji itu.


"Tidaakkk..." lirihnya.


"Tuan Muda!"


"Sayang!"


"Nak!"


Roy, Pak Adrian, dan Mama Mila memanggil Jason, namun Jason tidak mendengar, percakapan dirinya dan anak-anaknya lewat alam mimpi itu terus saja memenuhi gendang telinganya.


Air mata Jason bertumpah ruah, membuat ketiga orang yang berada di dekatnya jelas saja kebingungan, apa terjadi sesuatu dengan Shirleen pikir ketiganya menduga hampir sama.


"Tidak... Anak-anakku!"


Bersambung...


*


*

__ADS_1


*


Like, koment, and Vote !!!


__ADS_2