
"Hiks hiks hiks..."
"Jangan, aku mohon lepaskan aku"
Suara jeritan dan tangis wanita kini bisa ia dengar dengan jelas, ia melangkahkan kakinya di tempat bisanya ia dan Roy menyiksa manusia karena sumber suara yang seperti terdengar dari tempat itu.
Ia membuka pintu dan terkejut kala mendapati bayangan Shirleen yang tadinya berdiri di ambang pintu rumah mereka kini tengah terikat disebuah kursi dengan keadaan yang lebih mengenaskan.
Seolah tampak nyata membuat kakinya melangkah sendiri ingin memastikan apa yang kali ini dilihatnya.
Mata mereka bertemu, Shirleen nampak menghujam jantungnya dengan kepedihan, Jason bisa melihat dan merasakan itu seolah Shirleen sangat menderita saat ini.
Semakin dekat, kini ia sudah berada di hadapan Shirleen, ia memejamkan matanya sebelum benar-benar menyentuh tubuh itu. Dan benar saja untuk kedua kalinya bayangan yang seperti nyata itu lagi-lagi menghilang.
Ia mengumpat dalam hatinya, ingin memberontak namun seolah tidak ada yang bisa ia lakukan, ia bahkan merasa ganjal dengan dirinya sendiri yang terus saja memikirkan hal buruk sehingga mungkin membuatnya mulai berhalusinasi.
Namun tidak ia sama sekali tidak ada pemikiran bahwa Shirleen akan berakhir seperti bayangan nyata itu.
Tubuhnya mulai berkeringat dingin, ia tidak bisa terus seperti ini semuanya harus segera diselesaikan.
Ia bergegas keluar dari ruangan bawah tanah itu, ia akan mengakhiri ini.
Mobil mulai merayap, kali ini pelan Jason tidak ingin karena terlalu panik malah bisa menimbulkan hal semacam tadi, halusinasi berkepanjangan tentang istrinya.
"Aaaaaaaa" mobil berdecit, Jason spontan berteriak, karena sepertinya ia hampir saja menabrak seseorang. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah orang yang hampir ia tabrak mirip sekali dengan Shirleen.
Ia masih menetralkan jantungnya dan mulai memperjelas lagi penglihatannya, benar saja seseorang yang mirip dengan istrinya atau mungkin memang benar istrinya, dilihatnya Shirleen yang tampak cantik mengenakan setelan saat pertama kali mereka bertemu di taman.
Shirleen sedang tersenyum padanya, senyum yang saat ini selalu mengisi hari-harinya.
Ia bergegas membuka pintu, dan sekali lagi seseorang yang ternyata hanya bayangan itu pun lenyap tak bersisa.
Jason menggeram, ia mengacak rambutnya kasar, ia merasa dipermainkan saat ini.
__ADS_1
Bayang-bayang Shirleen, sesuatu yang mengerikan apa maksud dari semua itu pikirnya, ia benar-benar tidak bisa mengartikan apa yang telah terjadi padanya, seperti sebuah teror dan sayangnya ia tidak bisa berbuat apapun karena semua itu ternyata palsu bahkan tak tergapai.
"Aarrrgghhh" teriaknya melepaskan semua beban, namun sayangnya tidak berhasil.
Ia kembali ke mobilnya dan mulai bergerak cepat, ia akan menemui seseorang.
Dareen sedang menahan sesuatu yang dari tadi mengganggu pikirannya, ia mengumpat dalam hatinya kala Sri dengan tidak tau malunya memakai pakaian terbuka dihadapannya.
Memang masih dikatakan biasa, saat ini Sri hanya memakai baju longgar dengan celana hotpants yang mengekspose paha mulusnya.
Ia ingin protes namun juga menikmati suguhan yang Sri berikan, lagi pula tidak termasuk dosa kan jika ia memandang lebih karena ia dan Sri sudah halal saat ini.
Sejak kejadian di kamar mandi pagi tadi, Sri tampak lebih agresif dan tanpa malu-malu menujukkan kemolekannya, membuat Dareen menggeram karena hasrat yang ia tahan mati-matian.
Ia lelaki normal, apa lagi tidak bisa dikatakan khilaf jika ia melakukannya saat itu juga pun semuanya sah sah saja.
Sri hendak tidur saat ini, Fahira sudah terlelap di ranjang, sementara Dareen sedang betah mencuri-curi pandang padanya di bawah, Dareen memang beberapa hari ini tidur beralaskan kasur lantai karena yang katanya tidak sudi tidur satu ranjang dengan Sri.
Sri mengetahui itu, namun ia sengaja bersikap seolah tidak tau, karena pasti akan membuat Dareen sangat malu jika sampai mata mereka bertemu pandang.
Sri mulai membuka bajunya, ia berencana akan tidur hanya memakai tangtop dan celana hotpants saja, terserah jika Dareen memandangnya wanita yang seperti apa, baginya ia tidak salah malah mendapat pahala jika menyuguhkan hal yang bisa membuat kesegaran mata bagi sang suami.
Sesekali tidak apa lah, semoga saja benar apa yang dikatakan Dareen kalau ia tidak tertarik dengan istrinya, bahkan jika dengan keadaan seperti ini bertiga dengan Fahira di kamar, semoga saja Dareen bukan orang yang munafik. Sri tertawa keras dalam hatinya, kalau bukan karena ingin meluluhkan hati suami ia tidak akan pernah melakukan hal gila semacam ini.
"Eehh eeeh mau ngapain lo ?" tanya Dareen yang mulai curiga dengan pergerakan Sri.
"Mau buka baju Mas" ucap Sri santai.
"Lo gila ya, ada gue disini lo malah mau buka baju" bentak Dareen, kewarasannya terganggu karena Sri yang dari tadi pagi selalu menguji kesabarannya.
"Emangnya kenapa Mas ?" tanya Sri.
"Lo bego apa gimana ngebiarin seorang pria liat tubuh lo" tanya Dareen, ia sangat paham tentang agama, meski ia terlihat ugal-ugalan dan berjiwa pemberontak namun ia mengerti banyak tentang islam, ia juga tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya ditambah dhuha dan sholat malam, puasa senin kamis selalu menjadi jadwalnya sejak ia duduk di bangku SMA, namun kali ini ia benar-benar lupa kalau Sri adalah istrinya yang sudah sah secara agama.
__ADS_1
Demikian dengan Sri, terlahir dari keluarga yang miskin harta namun nyatanya tidak miskin hati maupun pengetahuan, meski kadang ia suka bergosip dan membicarakan hal yang tidak penting, namun percayalah memantaskan diri itu tidak semudah yang orang bilang tentang bagaimana menjadi muslimah yang baik dalam islam, anggap saja segala. kekurangannya itu sebagai ujian untuknya menjadi lebih baik.
Dan dengan menjadi istri seorang Dareen Hanif Akbari, ia sadar ia juga bukan wanita sempurna yang bisa mendapatkan hati seorang Dareen dengan mudah, walau kadang suaminya itu mengesalkan dan menyebalkan namun ia benar-benar hanya ingin menikah satu kali seumur hidup, ia sudah bertekad dengan Dareen ia akan menggapai kebahagiaan.
Hari pernikahannya saja masih bisa dihitung dengan jari, jadi tidak semudah itu baginya untuk menyerah.
"Kan nggak papa Mas, Mas Dareen kan suamiku" ucap Sri tanpa beban, ia tidak punya keluhan lagi, baginya Dareen hanya tidak bisa menerimanya karena mungkin berpikiran ia adalah seorang janda, melihat cara Dareen menatapnya tadi Sri seakan tau Dareen sebenarnya juga punya rasa untuknya, meski hanya sedikit namun pasti ada tempat di hati Dareen untuknya.
Dan ia berencana memupuk rasa yang masih sedikit itu, akan ia tambah dan tambah lagi sehingga rasa itu benar-benar hanya untuknya saja.
"Lo gila yaaa, jangan buka" bentak Dareen lagi.
"Kenapa Mas ?" Sri memasang raut wajah bingung seolah meminta penjelasan.
"Ya pokoknya jangan" tegas Dareen.
"Kalau aku maunya dibuka gimana" ucap Sri tak kalah tegas.
"Jangan"
"Kenapa sih Mas"
"Ya pokoknya Jangan ya jangan"
Sri tidak peduli, ia mulai mengambil ujung bawah bajunya dan akan menariknya ke atas.
"Sri..."
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!