
"Dek..." ucap Delia, ia senang sekali sudah adanya pergerakan dari Athatr, mungkin juga sebentar lagi Athar akan segera sadar, harapnya.
"Kak Riska..." ucap Athar parau, ia melihat Riska berada di dekatnya saat pertama kali ia membuka mata.
Delia tersenyum kecut, adik bungsunya itu malah menyebut nama wanita tidak tau diri itu pikirnya, wanita yang sudah banyak sekali menyusahkan keluarga, sudah menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk melangsungkan hidupnya, yang tega menjual anak kandung hanya untuk membeli kesenangannya, bisa-bisanya.
"Athar, ini kak Del, mana yang sakit ?" tanya Delia.
"Kakak" ucap Athar lirih, ia mengedarkan pandangannya, dan menjumpai Rendi juga berada didekatnya "Mas Rendi" serunya.
"Iya Thar ini Kak Del."
"Iya Thar,"
Ucap Delia dan Rendi bersamaan.
Rendi langsung menekan bel untuk memanggil Dokter, Athar harus segera diperiksa kondisinya.
Tak lama Dokter pun datang, memeriksa kondisi kesehatan Athar, semuanya tampak baik, Athar masih harus tinggal memulihkan lukanya saja.
"Bagaimana Dok ?" tanya Delia.
"Kesehatannya sudah membaik, hanya tinggal memulihkan lukanya saja, disarankan pasien jangan terlalu banyak bergerak dulu, itu saja, ah iya dan juga hindari membuatnya tertawa berlebihan." jelas Dokter.
"Ah iya terimakasih Dok." ucap Delia.
"Thar, bagaimana rasanya apa sudah lebih baik ?" tanya Rendi mengajak Athar berbicara.
"Iya Mas, lumayan." jawab Athar.
Rendi menatap curiga pada Riska, sedari tadi semenjak Athar bangun dari tidur panjangnya, pandangan mata Athar terus saja tertuju pada Riska.
Riska pun dilihatnya nampak kebanyakan menunduk saja, ia tidak tau apa sebenarnya yang telah terjadi.
Mau bertanya pada Athar, namun rasanya terlalu cepat, bagaimana pun kondisi Athar yang baru saja siuman masih harus tetap selalu dijaga.
"Ingat tadi pesan Dokter, jangan terlalu banyak gerak kamu, kalau mau apa-apa nanti bilang, ada Delia, ada Riska sama aku yang bisa bantuin kamu disini." ucap Rendi.
"Iya Mas."
"Nah makan dulu, udah ada selera makan belum ?" tanya Delia, ia buru-buru mengambilkan makanan yang tadi di berikan perawat saat Dokter sedang memeriksa Athar tadi, ia tidak membiarkan Riska melakukannya.
"Iya kak, belum ada selera makan sih, tapi akan aku coba." jawab Athar.
__ADS_1
Delia lalu menyuapi adik bungsunya itu, ia tersenyum samar melihat wajah Athar, masih mirip seperti dua puluh lima tahun lalu, wajah adik bungsunya itu tidak banyak mengalami perubahan kalau hanya dari garis wajah.
Gantengnya sama seperti waktu kecil dulu dengan senyum yang manis memikat.
Waktu dulu ialah yang selalu berbagi makanan dengan Athar, ketiga kakak mereka sudah beranjak remaja, hanya dirinya dan Athar yang masih anak-anak, waktu itu umur Delia tujuh tahun sementara Athar lima tahun, mereka selalu berbagi makanan bersama, saling bersuapan, tidak disangka ia akan melakukannya lagi saat mereka telah sama-sama dewasa.
Sungguh Delia sangat menyayangi Athar, Athar adalah salah satu yang berharga dalam hidupnya
Dia adik kecilku, masih adik kecilku...
...###########...
Hari ini hari kelulusan bagi para siswa dan siswi SMA Guna Bhakti, termasuk Jason yang saat ini sedang berada di parkiran, menunggu Yudha yang sampai saat ini belum juga datang, Afik dan Angga sudah menghubungi sahabatnya itu sedari tadi namun tidak juga ada jawaban.
Sementara Mama Wina orang tua dari Yudha sudah duduk bersama Shirleen mendengarkan pidato singkat kesan pesan Kepala Sekolah mengenai kelulusan anak-anak didiknya.
"Ah entah lagi ngapain ini si cebong ?" kesal Angga, ia sudah lelah menghubungi sahabatnya itu, tersambung namun tidak juga di angkat.
"Tau tuh anak, Son lo lacak gih bisa nggak ?" tanya Afik, ia pernah secara tidak langsung melihat Jason melacak keberadaan Shirleen hanya menggunakan ponsel saja, mungkin hal seperti itu bisa membantu mengetahui keberadaan Yudha pikirnya.
Jason mengambil ponselnya dari saku, ia mulai melacak keberadaan Yudha, dan ketemu.
"Nah si Junedi, dari tadi napa, kan gak perlu puluhan kali manggilin si cebong." ucap Angga, ia bersama Afik mendekat ke arah Jason untuk melihat hasil pencariannya.
"Gak gerak-gerak ini." ucap Jason.
"Lah napa si cebong ?" sambung Afik.
"Kayaknya ada yang nggak beres ini Men." Jason seperti menemukan keganjalan.
"Cabut nggak ?" tanya Angga, menoleh kearah Afik dan Jason.
"Ya udah ayok !" ucap Jason.
Lalu ketiganya pun menuju lokasi tempat terlacaknya ponsel Yudha, lumayan jauh entah mengapa ponsel Yudha bisa terlacak berada disitu pikir Jason.
"Mereka sudah sampai di lokasi, namun sayangnya tidak menemukan apapun, semua tampak biasa saja, banyaknya kendaraan yang berlalu lalang membuat ketiganya juga bingung harus bagaimana.
"Coba lo telpon Ga." suruh Jason.
"Iye bentar," Angga segera menelpon Yudha lagi, tersambung masih seperti tadi, namun tetap juga masih tidak diangkat. "Nyambung Son, tapi ya kek tadi lah masih."
Jason memperlihatkan lagi ponselnya, ia mencari titik keberadaan ponsel Yudha.
__ADS_1
Petunjuknya mengarah pada sebuah pohon jambu yang berada tidak jauh dari pinggiran jalan, Jason semakin mendekat untuk lebih memastikan, masa iya ponsel Yudha terlacak di dekat pohon jambu itu, sedang Yudha kemana ? Jason masih menerka, ia tidak mau berpikiran buruk.
"Beneran nggak Junedi, masa iya ?" heran Angga yang masih mengikuti kemana langkah Jason.
"Diem lo." ucap Afik, karena ia sudah pernah melihat Jason melacak keberadaan seseorang, Afik memilih menurut tanpa banyak bicara.
Benar saja, setelah semakin dekat, memang ada sebuah ponsel yang berdering saat Angga diminta Jason menghubungi Yudha lagi.
"Noh hapenya noh, lah kok bisa sih Junedi ?" tanya Afik heran.
Jason mengambil ponsel Yudha, nampak retak dimana-dimana sepertinya habis terbanting dengan kuat, apa terjadi sesuatu dengan Yudha pikirnya.
" Maaf Pak, apa tadi terjadi kecelakaan di sekitar sini ?" tanya Jason pada petugas kebersihan yang kebetulan lewat.
Petugas kebersihan itu pun tampak gugup kala yang menanyainya adalah seseorang yang juga ia idolakan.
"Apa maksud lo kecelakaan ? Son, si Cebong nggak kenapa-napa kan ?" panik Angga dengan sedikit mengguncang bahu Jason.
Afik pun sama, ia seketika terdiam, apa benar Yudha... Ah tidak, jangan, ia harus berpikiran yang baik-baik.
"Pak..." bentak Angga karena sudah beberapa detik berlalu, petugas kebersihan itu malah terbengong memandang Junedi.
"Ah iya, iya, maaf, iya dek, eh Tuan, eh Mas, aduh, eeh tadi memang ada kecelakaan disini, pengendaranya memakai motor nin*a warna merah, tabrakan sama mobil sedan, disinilah kalau tidak salah, nah itu ada sedikit goresan di aspalnya" Jelas petugas kebersihan tersebut sembari menunjuk titik lokasi kejadian.
"Udah lama Pak ?" tanya Afik, ia juga sedang panik saat ini.
"Baru aja, sekitaran setengah jam yang lalu, motornya udah di bawa juga, orangnya paling dibawa kerumah sakit terdekat nggak sadarkan diri lagi, terus yang mobil sedannya luka ringan, yang parahnya yaaa yang pake motor itu dek, sampe kepental di dekat pohon itu." lanjut petugas kebersihan tersebut.
"Astagah Yudha..." Angga menutup mulutnya tak percaya.
"Fik lo balik ke sekolahan, bilang sama nyokapnya Yudha, kali aja Mama Wina belum tau, Ga lo ikut gue." perintah Jason pada kedua sahabatnya.
"Iya iya, nanti lo kabarin gue gimananya ?" ucap Afik, segera ia mencari taxi untuk kembali ke sekolahnya lagi.
Sementara Jason dan Angga menuju rumah sakit terdekat menggunakan mobil Jason.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1