Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Hadiah untuk Sri.


__ADS_3

Shirleen telah sampai di rumahnya setelah tadi ia berbelanja kebutuhan Jacob.


Pikirannya tertuju pada apa yang ia dengar dari Erni tadi meski ia tidak ingin memikirkannya.


"Mas Athar, kasus yang menimpa, maksudnya apaan sih ?" gumamnya.


Ia sebenarnya sudah tidak peduli apapun yang terjadi pada mantan suaminya, karena dulu saja ia ingin tau mengenai keadaan mantan mertuanya, namun Jason terlihat sangat tidak menyukainya.


Tapi kata-kata Erni tentang Athar begitu terngiang di kepalanya, ia sungguh ingin tau.


Di sebuah komplek perumahan padat penduduk.


"Sri, kelihatannya hubunganmu sama Dareen sudah membaik yaaa, kemarin ibu lihat Dareen sudah mau gendong Fahira, ibu ikut seneng lho" tanya bu Halima, ia sangat senang dengan perubahan Dareen yang ia rasa pasti sudah menerima Sri.


"Iya Bu, alhamdulillah Mas Dareen udah banyak berubah, terimakasih bu, ini berkat doa ibu dan bapak juga" ujar Sri.


"Sri apa Dareen sudah tau soal Fahira ?"


"Belum Bu, Mas Dareen masih tetap berpikiran kalau Fahira itu anak kandungku, biarlah gak papa, Mas Dareen sudah bersikap baik sama aku dan Fahira saja, aku udah seneng kok Bu"


"Yang sabar ya nak" kata Bu Halima sembari mengusap bahu menantunya, dari jawaban Srinyang seperti itu, ia bisa menarik kesimpulan bahwa pernikahan anaknya masih belum membaik sepenuhnya.


Sri sudah selesai masak makan siang bersama mertuanya, ia tidak punya keluhan lagi tentang keluarga Pak Safar, pun dengan Dareen yang sekarang sudah sangat baik memperlakukannya meski Dareen selalu saja mengatakan kalau pemuda itu belum jatuh cinta padanya.


Padahal Sri bisa melihat dengan jelas mata Dareen selalu menatapnya penuh cinta, hanya saja mungkin masih ada sisa keraguan Dareen untuknya.


Setelah bisikan cinta malam itu, Dareen benar-benar sudah berubah.


Flashback.


"Cup" setelahnya sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Dareen, Sri memang mencari kesempatan nampaknya.


Dareen menegang, ini adalah kali pertamanya ia diperlakukan begitu, ia selalu menjaga kehormatannya dan juga kehormatan sang wanita, selama ini ia yang melekat dengan lebel anak ustadz maka untuk berpegangan tangan saja ia masih berpikir dua kali, dan juga ia termasuk sekte penganut mengharamkan pacaran meski dulunya saat zaman ia masih sering-sering bolong sholat ia sangat ingin merasakannya.


"Mas Dareen gimana, mau nggak ?"


Dareen mengangguk teratur, jelas saja ia mau karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia pun juga menginginkannya.

__ADS_1


"Nanti kita coba yah" ujar Sri.


"Iii iiya Sri" gugup Dareen.


"Nah sekarang yuk tidur" ucap Sri lagi.


"Iiiya lo duluan aja"


"Lho jangan kayak gitu dong Mas, katanya mau nerima pernikahan ini, ayo sini" ucap Sri sembari menepuk tempat disampingnya.


Dareen lalu berbaring di samping Sri, ia mencoba melakukan apa yang tadi Sri bisikkan, yah di mulai dengan menciptakan hal romantis seperti tidur dengan saling berpelukan, mungkin adalah langkah pertama untuk pernikahannya dengan Sri menuju lebih baik.


"Tapi lo jangan salah paham ya, gue peluk-peluk lo kek gini itu karena lo yang minta, gue itu belum jatuh cinta sama lo, jangan GeEr lo" ucap Dareen sembari tangannya mulai memeluk tubuh Sri dari belakang.


"Iya iya Mas Dareen, Mas memang belum jatuh cinta" ujar Sri lembut, ia memilih mengalah, meski dalam hatinya ia ingin sekali menertawakan tingkah Dareen yang sok cuek dan jual mahal.


Dareen tidak bisa tidur, ini adalah pengalaman pertamanya, meski di beberapa hari ini ia selalu tidur bareng dengan Sri, namun itu cukup tidur bareng saja, ia tidak pernah melewati batas padahal lewat batas pun juga tak apa toh mereka sudah halal, dasar Dareen.


Sri berinisiatif untuk merubah posisi tidurnya dengan menghadap pada Dareen, ia ingin melihat tingkah konyol Dareen secara langsung meski ia harus berpura-pura tidur lagi, ia juga sudah membalas pelukan Dareen, kini pasangan yang sebenarnya sudah memiliki rasa yang sama namun belum juga menyadarinya itu sedang berpelukan bak pasangan yang benar-benar akur.


Perlakuan Sri semakin membuat Dareen menggila, entah apa yang harus ia lakukan saat ini.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar deru nafas Sri yang teratur, serta menghembus di dadanya yang lumayan bidang.


"Sri..." panggil Dareen sekali lagi.


"Heemmmm" ucap Sri, yang seakan mengantuk berat namun terpaksa menyahut.


Sri benar-benar mempunyai bakat akting, padahal mana mungkin Sri tidak terbangun mendengar atau merasakan pergerakan Dareen saja ia refleks tebangun seperti tadi.


"Sri harus yaaa kita pelukan kek gini ?" pertanyaan konyol Dareen mulai terlayangkan.


"Ya Mas" ucap Sri dengan mata yang masih terpejam.


"Sri, gue cuma nyoba melakukan hal romantis ya kayak apa yang lo bilang tadi, jadi lo jangan seneng dulu karena gue gak nolak lo kali ini" ocehan Dareen lagi yang semakin membuat Sri geli.


Dasar gengsian...

__ADS_1


Sri mengumpat dalam hatinya tentang Dareen.


"Ya Mas" jawab singkat Sri.


Lalu mereka berdua pun tertidur dengan saling berpelukan, bilangnya saja tidak mau dan seolah terpaksa, padahal Dareen lah yang memeluk paling erat bagai memeluk guling.


Setelah paginya Dareen benar-benar memperlakukan Sri dengan baik, namun masih sebagai istri dengan rasa teman, karena hanya perlakuan saja yang berubah, Dareen benar-benar belum bisa melakukan apa yang di lakukan suami istri pada umumnya, contohnya saja untuk sekedar cium kening dan tangan sebelum bepergian, ia masih sering lupa kalau saja Sri tidak mengingatkannya, apa lagi untuk mengarungi surga dunia, Sri belum bisa memikirkan sejauh itu meski ia akan selalu sabar menunggu.


Flashback off.


Dareen baru saja pulang sekolah, hari ini hari kedua ujian nasionalnya, sebentar lagi ia akan lulus sekolah dan berencana fokus mengelola peternakan sapi keluarganya, ia harus bekerja mencari nafkah, ada Sri dan Fahira yang sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini.


Jika dulu ia hanya sering membantu Bapaknya mengurus peternakan, kini setelahnya ujian nasional Pak Safar akan benar-benar melepaskan peternakan itu untuknya, sementara Pak Safar kembali ke perkebunan untuk mengelola bisnis sayur dan buah keluarga mereka.


"Hayooo ngelamunin apaan sih lo ?" ucap Dareen mengejutkan Sri yang tampak melamun sambil mengusap pucuk kepala Fahira supaya bisa tertidur.


"Iihh Mas Dareen, kaget kan aku, udah pulang gimana ujiannya" tanya Sri, sembari sambil mengelus-elus dadanya.


"Lancar dong, itu mah kecil" ujar Dareen songong.


"Alhamdulillah kalau kecil, semoga nilainya gak ikut kecil"


"Yee sembarangan lo" ucap Dareen tak terima "Eemm Sri gue punya hadiah buat lo ?"


"Apa Mas"


"Nih, jangan di lihat dari bentuk dan harganya, tapi lihat dari tulusnya siapa yang memberi" ucap Dareen, tangannya menengadah menunjukkan sebuah jepitan rambut yang telah lama ingin ia berikan pada Sri.


"Wah bagus sekali Mas, aku suka" ucap Sri seakan sangat menyukai, ia memang suka tapi bukan karena bentuk jepit rambutnya, tapi karena lebih perlakuan Dareen yang sudah benar-benar berubah menjadi baik sekali padanya.


"Cup" Sri lagi-lagi mencium Dareen secara tiba-tiba, apa lagi yang bisa Dareen lakukan, ia seakan berhenti bernafas saat itu juga.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2