
"By..." panggil Jason.
Shirleen menyunggingkan senyumnya kala melihat sebuah kotak hadiah yang tergeletak di ranjang, ada angin tapi tidak ada hujan tiba-tiba saja suaminya itu memberinya hadiah.
"Ini untukku?" tanya Shirleen.
"Kamu maunya untuk Ipah?" canda Jason.
Shirleen mengerucutkan bibirnya, dirinya pikir kotak hadiah itu untuknya, namun ternyata bukan. Shirleen sudah mengambil serius perkataan Jason.
"Konyol, memangnya siapa lagi istriku?" ucap Jason lagi.
"Aku nggak papa kok!" ujar Shirleen.
"Dalam hati nyesek maksudnya, sudah kubilang jangan terlalu sering mengumpat!" ucap Jason.
"Dasar!"
"Untuk istriku yang paling cantik sedunia!" Jason mengambil dan memberikan kotak yang tergeletak di ranjang tadi pada Shirleen. Seulas senyum terbit di bibir manis Shirleen.
"Atas dasar apa ini?" tanya Shirleen.
"Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin kau memakai ini nanti malam!" jawab Jason.
"Nanti malam?" Shirleen langsung saja membuka kotak hadiah tersebut, dilihatnya Jason memberinya sebuah gaun malam yang begitu elegan, gaun panjang tanpa lengan dengan warna hitam disertai sedikit blink-blink, namun Shirleen sedikit terkejut kala melihat belahan gaun yang begitu tinggi bahkan sampai ke paha atas, tapi ini bukan gaun dinas, penampakannya lebih sesuai untuk gaun pesta.
"Aku tidak mau!" tolak Shirleen.
"Kenapa?" tanya heran Jason.
"Kamu mau membawaku ke mana dengan gaun modelan begini, mana aku sedang buncit!" tanya Shirleen.
"Aku sudah memastikan gaun itu pas untukmu, kita akan makan malam!" terang Jason.
"Hah?" Shirleen tidak percaya, bagaimana bisa Jason membawanya ke acara makan malam dengan penampilannya seperti itu.
"Tapi By, aku keberatan, tidak mungkin kan..."
"Cup!" Jason melahap lembut candunya, membungkam Shirleen supaya tidak lagi bicara.
"Kita tidak akan kemana-mana, makan malamnya di balkon saja!" bisik Jason setelah melepaskan ciumannya.
Bodohnya Shirleen selalu saja terbuai, hingga tubuhnya merespon lebih cepat, dirinya mengangguk patuh.
Shirleen memegangi dadanya yang berdegup kencang, sudah satu tahun lebih dirinya bersama Jason dari mulai pacaran, selalu saja seperti ini, dirinya bagai abege yang baru saja merasakan jatuh cinta, Jason bagai bius yang berhasil membuatnya terdiam.
Jason masih betah memandangi Shirleen yang nampak sedang menetralkan jantungnya, lucu sekali.
__ADS_1
"Aku mau mandi, kau mau ikut?" tanya Jason sembari mengedipkan matanya genit.
Shirleen langsung saja menggeleng cepat. Tidak, belum saatnya.
"Ya sudah, aku mandi dulu yaaa!" pamit Jason.
Shirleen mengangguk, namun tidak bergeser sedikitpun, Jason geli hati melihat tingkah polos istrinya.
"Yakin tidak mau ikut?" tawar Jason lagi.
"Sudah mandi sana!" geram Shirleen, suaminya itu doyan sekali membuatnya senam jantung.
Jason menuju kamar mandi, saat hendak menutup pintu dirinya bertanya lagi, "Mau ikut nggak, satu kesempatan lagi?"
"By..." geram Shirleen.
"Hahaha." Jason tertawa keras, menggemaskan sekali menggoda istrinya.
Hari sudah gelap saat mobil yang disewa Dareen memasuki pekarangan rumah mertuanya. Dareen dan keluarga Sri baru saja pulang dari acara liburan mereka, menghabiskan waktu di Jogja sebelum akhirnya besok akan kembali ke Jakarta.
"Bersih-bersih dulu Sri, sini biar aku gendong Fahira!" Fahira, bayi perempuan itu sudah sangat pintar, bahkan Fahira sudah bisa berjalan dalam beberapa langkah pagi tadi.
"Sama Ayah dulu ya!" manja Dareen pada anak sambungnya itu.
"Mas, mau disiapin air hangatnya sekalian?" tanya Sri.
"Assalamualaikum..." suara Rangga terdengar dari luar rumah.
"Siapa?" tanya Dareen pada Sri.
"Kayak suara Rangga Mas!"
"Masih inget aja suaranya!" gumam Dareen pelan namun masih bisa didengar Sri.
"Ya namanya juga teman Mas." sahut Sri, selalu saja cemburu dengan Rangga padahal sumpah demi apapun Sri tidak mempunyai perasaan lebih dari teman kalau terhadap Rangga.
Ceklek, pintu dibuka.
"Waalaikum salam!" sahut Sri menjawab salam.
"Ada apa ya Ga?" tanya Sri.
"Enggak ada Sri, cuma mau ngasiin ini dari Simbok sama Bapakku, besok kamu jadi pulang kan?" tanya Rangga, dirinya memberikan bakpia buatan Simboknya, yang katanya terkhusus untuk Sri dan keluarga Dareen di Jakarta.
"Wah bakpia buatan Simbok ya?" tanya Sri antusias.
"Iya, maaf kalau cuma bisa kasih ini ke kalian, mau kasih tomat sama sayur kan katanya Dareen juga bertani di sana!" ucap Rangga.
__ADS_1
Dareen mengangguk, dirinya sudah salah kira terlalu pencemburu dengan kehadiran Rangga di kehidupan Sri, ternyata mereka memang sedekat ini karena sudah sedari kecil bersama.
"Tidak usah repot-repot padahal, bilang ke Simbok, terimakasih bakpianya, sampaikan jtiga salamku yah, kapan-kapan kalian juga harus main ke Jakarta ke rumah Mas Dareen." ujar Sri.
"Ke rumah kita!" ralat Dareen, dirinya tidak setuju kalau Sri hanya menyebut rumahnya.
"Ah iya ke rumah kita!" ajak Sri.
"Insyaallah yah Dareen, nanti jika ada waktu dan panen berlimpah kami pasti mengunjungi kalian!" ucap Rangga.
"Kami titip Simbok sama Bapak, kalau ada apa-apa langsung saja hubungi kami, kau masih menyimpan nomorku kan, yang waktu itu Sri pernah menghubungimu?" tanya Dareen.
"Masih kalau yang itu, iya nanti aku pasti jagain orang tuamu Sri!" ujar Rangga.
"Terimakasih Rangga, dan sekali lagi terimakasih bakpianya!" ujar Sri.
"Iya, ya sudah aku pulang dulu yaaa, belum sholat isya aku!" pamit Rangga.
"Iya!"
Ucap Sri dan Dareen bersamaan.
"Tuh kan Mas, Rangga sama aku itu nggak ada apa-apa Mas, dan nggak akan pernah ada apa-apa, dia itu sahabat aku dari kecil, Mas jangan suka marah-marah lagi kalau Rangga ke sini!" ujar Sri saat Rangga sudah pergi dari rumahnya.
Dareen memiringkan sudut bibirnya, melihat apa yang tadi dilihatnya memang bisa dikatakan begitu, dirinya juga setuju tentang apa yang Sri katakan, namun di dalam hati siapa yang tau, hanya ada dua jenis manusia dalam hal mencintai, mengungkapkan cinta meski sulit ataupun mudah, baginya cinta itu perlu untuk diungkapkan, diekspresikan, dan satu lagi menyembunyikan, menyimpan semua cintanya rapat-rapat.
Dan Dareen tidak tau Rangga adalah orang yang seperti apa.
"Mas..." rengek Sri.
"Sudahlah Sri, mandi sana! Berikan bakpia itu pada Simbok biar nanti bisa dikemas sama sekalian dengan oleh-oleh yang tadi kita beli." ujar Dareen.
Sri nampak cemberut, namun melawan suami bukanlah sifatnya, apa lagi karena hanya masalah Rangga.
Tidak ada perasaan yang murni hanya berteman jika seorang laki-laki dan perempuan terlalu sering bersama, mungkin kau tidak, tapi bagaimana dengan Rangga.
Aku saja yang tidak mencintaimu, tidak memiliki perasaan terhadapmu pada awalnya, malah sekarang menjadi orang yang sangat mencintaimu, semua itu mungkin saja.
Sri masih teringat perkataan Dareen kemarin saat terjadi perdebatan kecil tentang Rangga, mungkin ada benarnya, karena sekarang dirinya sudah menjadi istri dari seorang Dareen, jadi dirinya harus lebih percaya apa kata suaminya.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, and Vote !!!