Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Benda sialan.


__ADS_3

"Siapkan segalanya"


^^^"Baik Pak Roy"^^^


Dia yang meminta, aku tidak salah kan, aku hanya menjalankan tugas, ia yang cari masalah, jadi jangan salahkan aku.


Helaan nafas berat seberat tugasnya kembali ia hembuskan, heh eksekusi lagi batinnya.


Kenapa banyak sekali orang tidak tau diri di dunia ini.


Ia kesal karena akhir-akhir ini banyak sekali orang yang masuk daftar hitam meminta dieksekusi, dan itu jelas akan membuat tugas dan dosanya bertambah saja.


Ia berdecih memutar bola matanya malas, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ibunya tau kalau anaknya sering menghabisi manusia seperti ini.


Riska baru saja hendak keluar dari rumah sakit, ia harus pulang setelah Citra datang untuk menggantikannya menjaga sang ibu. Hari ini begitu melelahkan, mau bagaimana lagi inilah bentuk baktinya pada orang tua yang tinggal satu-satunya, mempunyai sifat yang sama dengan sang ibu membuat ia sangat dekat dan begitu menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mbak Riska..." seseorang memanggilnya, ia menoleh ke sumber suara, lalu gelap, ia tidak bisa lagi melihat apapun seiring dengan tubuh yang perlahan ambruk.


Jason sedang menidurkan Misca di kamarnya, setelah tadi makan malam bersama, kini ia terlihat menjalakan perannya sebagai papa yang baik, mengelus puncak kepala gadis kecil itu yang perlahan mulai memejamkan matanya.


Tak lama Misca pun pulas dengan nafas yang terdengar teratur, Jason mengecup singkat kening princessnya itu.


"Selamat malam sayang..."


Ia menuju kamar kekasihnya, ingin sekedar bermanja sebentar sebelum pulang kerumah, atau lebih tepatnya sebelum pergi bermain.


"By..." Panggilnya pada wanita yang asyik memainkan ponsel sambil rebahan di ranjang.


Ia mendekat dan merebahkan diri disamping wanitanya, memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"By..." merasa diabaikan, karena Shirleen masih berfokus dengan ponselnya, ia mengelus-elus perut kekasihnya itu, sambil sesekali melihat tontonan apa yang nampak begitu seru dilihat kekasihnya pada layar benda sialan itu.


"By..." Jason masih dalam mode sabar yang kapan saja bisa meledak, ah sungguh seperti inikah orang pacaran, kayak debut latihan kesabaran saja.


"By..." begitu manja, namun lagi-lagi tidak berhasil, ajaib benda sialan itu mampu mengalahkan kegantengannya ini.


Prraaanngggg...


Shirleen refleks bangkit dari rebahannya, menatap nanar pada ponsel yang kini telah hancur berserakan, melihat kearah pelakunya, rasanya ingin sekali mencabik-cabik lelaki dihadapannya ini, namun ia masih punya stok sabar mengingat ia juga salah.


"By... Ponselku !"


"Siapa suruh asyik dengan benda sialan itu"


"Tapi kan gak perlu dilempar juga" protes Shirleen.


Jason membalikkan badan membelakangi kekasihnya itu, Shirleen berhasil, ia kesal lagi, padahal ia sudah sangat sabar mengingat betapa sulitnya ia menahan diri. Dan Shirleen, kekasihnya itu nampak rajin menguras kesabarannya.


Jason diam saja, semakin mengeratkan guling yang dipeluknya, sungguh saat ini ia tidak ingin menyakiti kekasihnya itu dengan amarahnya yang meledak.


Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, jangan dekat dengan Shirleen, yah untuk saat ini itulah yang bisa ia lakukan agar semuanya tetap aman.


"By..." Shirleen yang diselimuti rasa bersalah menganggap tindakan Jason adalah bentuk kemarahan kekasihnya itu. Ia terus saja mengetuk pintu kamar mandi.


"By... maafkan aku" Shirleen masih mencoba bicara, walau tidak ada sahutan.


"By..."


"By..."

__ADS_1


Sementara didalam, Jason masih memandang wajahnya didepan cermin, mata bertemu mata melayangkan tatapan tajam pada dirinya sendiri, ia menulikan telinganya dari panggilan yang mendebarkan jantungnya itu. Ia masih terus mencoba mengendalikan dirinya.


Sabar ini ujian, sabar ini ujian...


Sementara di sebuah gedung pencakar langit, dilantai teratas bangunan itu, pria paruh baya memejamkan matanya melihat apa yang baru saja ia temukan.


Menghela nafas beratnya, sungguh ia tidak ingin keadaan yang seperti ini.


"Aku harus bertindak" ucapnya dengan masih memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kebesarannya.


Dua pengawalnya dengan setia menunggu perintah dari tuannya ini.


Ia berpikir, apa lagi yang harus ia lakukan selain membiarkan semuanya terjadi sampai pada rencana yang akan ia jalankan, ia tidak bisa berbuat apapun selain menunggu waktu yang tepat.


"Terus awasi anak setan itu"


"Laporkan segalanya padaku, jika ada suatu yang diluar batas seperti kemarin, beritahu aku segera"


"Baik Tuan" kedua pengawal itu menyahut dan berlalu pergi menjalankan tugasnya.


Ia menelungkupkan kepalanya bersandar lengan diatas meja kerja. Jauh dilubuk hatinya, Ia merasa telah gagal.


Dalam kesendirian ini, setetes air mata terurai dari sudutnya, laki-laki tak boleh menangis, namun keadaan ini membuatnya begitu rapuh.


Aku tidak bisa Pa, dia persis sepertimu...


Bayang-bayang almarhum papanya membuat ia begitu lemah menghadapi segala yang terjadi. Ia boleh berkuasa dan tak terkalahkan di dunia bisnis, namun lalai mendidik seorang anak adalah suatu hantaman besar bagi dirinya, ia begitu merasa gagal menjadi orang tua.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like koment dan vote cerita ini yaaa


Happy reading !!!


__ADS_2