Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Dia masih Tuan Muda yang sama.


__ADS_3

"Kalian ? Ada apa kenapa ribut-ribut begini ?" tanya Dokter Wina. Ia yang tadi sedang menyiapkan makan malam malah mendengar suara ribut-ribut dari atas, setelah ia datangi ternyata Weni dan anak bujangnya sedang berdebat sengit.


"Ini, dia siapa ? Ada perlu apa dia kerumah ini ? Dia salah masuk kamar" ujar Yudha pada Mamanya.


"Maafin aku tante, mungkin karena aku tadi gak fokus soalnya pas jalan kesini aku lagi nelpon orang tuaku, jadinya aku salah masuk kamar" Terang Weni menjelaskan.


"Yudhaaaa" ucap Mamanya, kalau sudah begitu Yudha tidak akan melanjutkan perdebatannya. Ia terlalu menuruti apapun perkataan Mamanya.


"Udah sana lo, tuh terserah mau pilih yang mana, asal jangan kamar gue lagi" ketus Yudha.


Weni menundukkan mukanya, kali ini ia harus mengaku, ia melakukan kesalahan lagi.


"Sekali lagi, maafin aku ya tante" lirihnya.


"Iya nggak papa, kamu nggak diapa-apain kan sama dia ?" tanya Dokter Wina.


"Nggak tante, aku baik-baik aja"


Anak tante sudah melihat tubuhku yang berharga ini.


Tak lama keduanya pun sudah berada di meja makan untuk makan malam, Weni benar-benar menginap dirumah Dokter Wina yang ternyata sialnya Mama dari pemuda yang sangat ingin ia hindari itu.


"Yudha, kenalin dia Weni, tadi itu dia nolongin mama di supermarket, dompet mama ketinggalan di klinik, mama udah berapa kali hubungin kamu, tapi kamunya nggak bisa dihubungi, beruntung ada Weni yang bayarin belanjaan Mama, Eh iya Weni kamu kasih nomor rekening kamu sama dia, nanti dia transfer" ucap Dokter Wina terus saja mengoceh tanpa tau kedua anak manusia yang berada didekatnya itu sedang saling melayangkan tatapan permusuhan.


"Eehhm iya Tante" ucap Weni sopan.


"Weni, kamu kerja dimana ?" tanya Dokter Wina lagi, ia ternyata orang yang supel dan mudah bergaul, sehingga ia dengan mudah bisa langsung akrab dengan Weni.


"Saya hanya kerja di butik tante"


"Aahhh kenapa harus hanya, kerja di butik juga pekerjaan yang mulia kan, yang penting halal"


"Iya tante"


Jason masih mengusahakan untuk dirinya pulang kerumah, anak dan istrinya sudah menunggu sedari tadi.

__ADS_1


"Roy, jika begini aku tidak akan bisa pulang" keluh Jason.


"Tuan Muda, tidak ada pilihan lain, cara satu satunya hanya berjalan kaki kesana mungkin masih bisa, nanti hubungi orang tuan besar untuk menjemput anda" anjur Roy. Ia juga ingin pulang, tidak mungkin kan ia menunggu lebih lama lagi di sini bersama bosnya, matanya sudah sangat mengantuk sinkron sekali dengan tubuhnya yang juga sangat lelah.


"Ya kau benar, ku lihat ada juga beberapa orang yang lewat disitu, mungkin juga mereka berjalan kaki melewati pembatas itu"


"Mungkin saja tuan muda, tapi jaraknya lumayan jauh" papar Roy lagi.


"Tidak masalah, aku tidak bisa menunggu lama lagi, anak dan istriku sudah menunggu dirumah" imbuh Jason.


"Baiklah Tuan Muda"


"Ayo" ajaknya.


Roy dan Jason pun mengikuti saran Roy untuk berjalan kaki melewati daerah yang akses jalannya ditutup.


Terlihat ada sebuah pohon besar yang tumbang belum juga di bersihkan, baju Jason sudah basah karena ia tidak menggunakan baju hujan.


Setelah berjalan kaki lumayan lama, akhirnya mereka sampai di seberang jalan yang ditutup tadi. Jason memijit kepalanya pening, badannya mulai menggigil, ia tidak biasa hujan-hujanan seperti ini.


"Tuan Muda, mari berteduh disitu dulu, saya sudah menghubungi orang tuan besar, sebentar lagi mereka sampai" ajak Roy, keduanya lalu berteduh di sebuah pos ronda yang ternyata dihuni oleh beberapa orang yang juga sedang berteduh.


"Jason Ares kan" pekik salah satu wanita yang berteduh disitu dengan girangnya.


Jason mengangguk tersenyum, semoga saja para manusia disini tidak bar bar, keamanannya terancam kalau benar begitu.


"Jason boleh minta fotonya ?" pinta wanita itu lagi.


Hari udah gelap, hujan lebat, guntur dan petir tak hentinya menggelegar, dan manusia satu ini malah minta foto, apa tidak waras ?


Jason tidak bergeming, ia mengisyaratkan pada Roy untuk mengurus segalanya.


"Nona, apa nona tidak berpikir, sekarang kondisi cuaca sedang buruk, ada petir dan guntur tak henti-hentinya bersahutan, saya rasa hal seperti itu sangat berbahaya" ucap Roy.


"Pfftt" sebagian orang disana menahan tawanya.

__ADS_1


"Eemm tapi ini sebuah kesempatan, aku baru kali ini melihatnya langsung, tuan sekertaris boleh yaaa" Wanita itu sangat berharap ia bisa mengambil fotonya nanti didampingi Jason.


Inilah yang Roy tidak tahan, makanya tuan mudanya selalu waspada jika mengunjungi tempat apapun, karena jika bertemunhal semacam ini mereka juga tidak bisa langsung menolak, citra bosnya itu akan pasti akan dinilai buruk.


"Berikan alamatmu nona, berfoto pada cuaca yang seperti ini sangat berbahaya, nanti tuan muda akan mengirimkanmu hadiah sebagai gantinya, maaf bukan tuan muda tidak mau melayani mengertilah sedikit" ucap Roy.


"Kita bisa bertemu lain kali, sekarang mohon pengertiannya" ucap Jason tiba-tiba.


Roy tidak menyangka tuan mudanya itu akan mau berbicara dengan orang asing, biasanya klien yang baru ia kenal pun ia itu sangat irit dalam hal bicara.


"Eemm baik tuan muda, maaf jika saya membuatmu tidak nyaman" ucap wanita itu.


Jason mengangguk, beberapa menit kemudian mobil orang suruhan papanya sudah berhenti dihadapan pos ronda, ia berlalu pergi setelah sebelumnya tersenyum ramah pada orang-orang yang sedang berteduh disitu.


"Kau tau Roy, aku mendapatkan ilmu itu dari istriku" ujarnya tiba-tiba pada Roy saat mereka sudah berada dimobil.


"Maksud tuan muda, ilmu apa ?" heran Roy.


"Begini, istriku pernah bilang, jika aku tiba-tiba bertemu fansku di jalan atau dimanapun aku harus melayaninya, dan jika aku tidak bisa maka tolaklah secara halus, Shirleen bilang mereka akan mengerti, selama ini aku selalu kabur jika ada yang meminta foto makannya mungkin aku selalu dikejar" ucap Jason tanpa dosa.


Yah tanpa dosa, tanpa dosa karena jika ia bisa menolak hal seperti itu sendiri kenapa harus menyuruh Roy untuk mengurus wanita itu tadi.


Dasar Tuan Muda, kalau mulutmu itu bisa bicara seperti itu buat apa matamu tadi seakan mengancam keselamatanku jika aku tidak mengurusnya.


Tapi, aku cukup senang, ternyata bosku ini semakin dewasa saja saat menikah, semoga saja kejamnya segera hilang juga.


"Tapi kau jangan macam-macam, jika kau mengajakku ketempat seperti tadi lagi, siap-siap saja kau" hardik Jason, ia mengetahui apa yang sedang Roy pikirkan.


Kutarik pujianku tadi, dia masih tuan muda yang sama.


"Baik Tuan Muda"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2