Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Ayam sialan !


__ADS_3

"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya salah satu warga yang saat ini sedang berpakaian hansip, sebenarnya tadi ketiga orang itu hanya bercakap-cakap biasa saja, namun karena ini adalah sebuah pedesaan yang sangat sepi jadilah mereka berbicara seolah sedang ribut.


"Tidak apa Pak hansip, mereka adalah keluarga saya." jawab Pak Adrian.


Beruntung saat itu mereka hanya diterangi cahaya bulan, jadi warga yang sedang berpatroli itu tidak bisa melihat Jason dengan jelas.


"Kalau mau sekedar berbincang, mengapa tidak masuk ke rumah, suara kalian bisa mengusik warga sekitar." ujar Pak Hansip tersebut.


"Iya Pak, mereka baru saja datang dari kota, mereka hanya menggerutu karena saat mereka datang tadi saya sedang tidak berada di rumah, jadi mereka kelamaan menunggu." ucap Pak Adrian beralasan.


"Baiklah Pak Gopar, tapi lain kali jangan seperti ini, kita hidup di desa di mana kalau sudah di atas jam sembilan malam suasananya sudah berubah sepi, suara kalian bahkan bisa terdengar sampai dua atau tiga buah rumah sekitar rumah kalian."


"Baik Pak, tidak akan kami ulangi." ucap Pak Safar, yang ternyata mengganti namanya dengan nama Gopar.


"Mau mampir dulu Pak, barang kali." tawar Pak Safar lagi.


"Tidak usah, lain kali saja, saya dan kawan-kawan masih harus meronda."


"Ah iya, terimakasih peringatannya, saya akan menjadi warga desa yang baik."


"Iya, dan selamat datang juga di desa kami semoga Pak Gopar betah, apa ini istri dan anak Bapak kah?"


"Ah iya, saya sampai lupa memperkenalkan mereka, ini istri saya, dan ini putra saya." ujar Pak Adrian memperkenalkan Mama Mila dan Jason.


Lalu Jason dan Mama Mila pun saling berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.


"Ya sudah Pak, kami masuk dulu, sekali lagi terimakasih sudah mengingatkan." ujar Pak Adrian.


Mama Mila nampak meneliti sekeliling rumah yang suaminya diami untuk mengasingkan diri, sangat sederhana. Entahlah jika harus bermalam disini apa dirinya akan betah, pikir Mama Mila.


Jason tidak perduli, dirinya langsung saja duduk beralaskan karpet sederhana yang fungsinya hanya sebagai alas, karena dari rasanya Jason nampak sama saja seperti duduk di lantai saking tipisnya karpet tersebut.


"Nak, kotor!" ucap Mama Mila, dirinya yang sudah sedari kecil terbiasa akan kemewahan sedikit menolak melihat keadaan, namun Jason masih tetap tidak perduli.


"Ini makan dulu, tapi lauknya hanya sederhana, kita makan seadanya." ujar Pak Adrian, dirinya mulai meletakkan nasi beserta lauk yang tadi sempat dibelinya, beruntung saja dirinya membeli lauk agak banyak, karena dirinya sekalian mempersiapkan untuk pagi besok sarapan.


Mama Mila hanya nyengir kuda, entah kehidupan seperti apa yang rencananya akan suaminya jalani ini batinnya dalam hati.


"Jason, makan dulu..." pinta Pak Adrian.

__ADS_1


"Aku tidak lapar." tolak Jason.


Dirinya memang tidak merasakan lapar sama sekali, begitu banyak masalah dalam hidupnya bagaimana bisa dirinya makan dengan tenang.


"Setidaknya makanlah sedikit." pinta Pak Adrian lagi, "Ma, ayo makan."


Mama Mila memaksakan diri untuk makan, perutnya juga sedikit lapar, jadi dari pada dirinya kelaparan yaaa lebih baik makan meski tidak berselera.


Jason juga terlihat mengambil sedikit makanan itu, dirinya bukan lapar hanya saja dirinya merasa harus menghargai Papanya.


Setelah makan yang katanya sedikit tadi, padahal Ibu dan anak itu bisa-bisanya nambah serta menghabiskan semua lauk pauk, kini keduanya tampak kekenyangan.


"Lebih baik kita tidur, hari juga sudah larut malam, tidak baik membicarakan hal yang akan menyulut emosi kita nantinya, benar kata Pak Hansip, mungkin suara kita bisa terdengar sampai dua atau tiga buah rumah di sekitar sini." ujar Pak Adrian.


Entah karena setuju dengan perkataan Papanya atau memang karena dirinya tidak sanggup bersitegang karena kekenyangan, Jason mengangguk patuh saja.


Mama Mila pun ikut-ikutan mengangguk, baginya ada benarnya juga pendapat suaminya itu.


Sementara di kota,


Shirleen masih belum bisa menghubungi sang suami, berbagai pemikiran berkecamuk di otaknya, alasan mengapa Jason tidak bisa di hubungi.


"Sudah bisa di hubungi Nona?" tanya Ipah yang sedang menidurkan Misca, mereka tidur di dalam satu kamar, itu permintaan Shirleen.


"Belum Pah, aku khawatir kalau gini!" ujar Shirleen.


"Mungkin Tuan Muda pergi ke tempat yang minim sinyal Nona!" ucap Ipah.


"Iya sih Pah, aku juga mikirnya gitu."


"Sudah tidur Pah?" tanya Shirleen lagi menanyakan Misca.


"Sudah Nona!"


"Ya sudah kau tidurlah, ambil kasur lipat di lemari." ujar Shirleen.


"Iya Nona!"


Shirleen masih berkutat dengan pemikirannya, istri mana yang tidak khawatir jika sang suami tertimpa masalah dan sampai kini juga belum bisa dihubungi.

__ADS_1


Jason tidak bisa memejamkan matanya barang sedikit.


Bayang-bayang penjelasan Mamanya masih terpatri begitu rapi di otaknya, pun dengan ucapan Shirleen yang selalu mengingatkannya untuk jangan pernah membalas dendam.


Haruskah dirinya ingkar lagi, tidak Shirleen pasti tidak akan menyukai itu, tolaknya pada pemikirannya.


Namun apa yang telah Papanya lakukan padanya, merenggut segala nikmat dalam hidupnya, dan itu semua dikarenakan ulah saudara-saudara Papanya, dan Jason merasa dirinya pantas untuk membalas dendam.


Jangan membalas dendam By, demi aku, demi mereka yang selalu kau nantikan kehadirannya, demi keluarga kecil kita....


Aku janji padamu, bukan hanya padamu aku juga akan berjanji pada Tuhan, jika sudah begitu tidak akan mudah bagiku mengingkarinya.


Jangan berjanji padaku atau pada Tuhan, karena janji itu berat By, berjanjilah pada dirimu sendiri cukup dirimu saja yang tau, berjanjilah untuk menjadi lebih baik, kami mengharapkan Papa yang sangat mencintai keluarganya, sehingga tidak akan berani untuk mengulangi kesalahan yang sama.


"Aku tidak tau harus apa, aku tidak akan mengingkarinya, bukan hanya tentang Shirleen, ini juga tentang Tuhanku."


Jason benar-benar tidak bisa tidur, rasa bersalah semakin menghantuinya, semakin menekan sesak di dadanya.


Dia sudah berjanji, dan tidak mungkin mengingkari.


Dia sudah pernah ingkar, dan itu menyakitkan, menyakiti hati istrinya yang telah dengan tulus percaya, dengan sepenuh hati menggantungkan harapan padanya.


Tak terasa malam sudah mau habis dan kini tergantikan oleh fajar, rasanya Jason baru saja terlelap, namun suasana dingin menyeruak saat subuh begini, Jason menarik selimut yang entah kapan tersedia pada pembaringannya.


Semalaman tidak tidur dan terus berpikir membuat kepalanya didera pusing teramat, apa lagi kondisi tubuhnya mungkin juga lelah saat ini, rasanya Jason malas sekali bangun dari tidurnya.


Jason menggerutu saat suara ayam jantan begitu nyaring berkokok membangunkannya, dirinya pernah merasakan hingar ini saat di Belitung waktu menyusul Shirleen, namun tidak senyaring ini karena mungkin yang berkokok entah bertengger di mana.


Kalau yang ini jelas saja Jason menggerutu, lihai sekali ayam jantan itu, sudah bosan hidup rupanya, dengan beraninya bertengger di dekat jendela kamar yang di tiduri Jason. Si ayam belum tau siapa Jason nampaknya.


"Ayam sialan!" umpat Jason.


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2